Menteri Kelautan dan Perikanan Wahyu Sakti Trenggono mengkonfirmasi tiga pegawainya merupakan penumpang pesawat ATR 42-500 milik Indonesia Air Transport yang hilang kontak di Maros, Sulsel, Sabtu (17/1) siang. Mereka merupakan tim air surveillance dari Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP).
"Benar terdapat pegawai KKP dalam pesawat tersebut yang melakukan misi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan melalui udara atau air surveillance di wilayah pengelolaan perikanan negara Republik Indonesia," kata Wahyu dalam konferensi pers di kantornya, Sabtu (17/1) malam.
"Tim air surveillance dari PSDKP atau dari Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan sejumlah tiga orang," tambahnya.
Wahyu menuturkan tim air surveillance bertugas mengawasi laut Indonesia terutama di wilayah perbatasan. Dalam menjalankan tugasnya KKP selalu bekerja sama dengan Indonesia Air Transport (IAT).
"Kita memang punya air surveillance dan air surveillance itu kita kerja sama dengan IAT. Jadi selalu kita gunakan untuk beroperasi di seluruh wilayah Indonesia dari Sabang sampai Merauke, khususnya untuk pengawasan di daerah-daerah perbatasan perbatasan," tuturnya.
Wahyu menyerahkan seluruh pencarian korban kepada instansi yang berwenang termasuk untuk mengungkap penyebab kecelakaan itu. Ia berharap korban bisa segera ditemukan.
"Kami terus terang sedih dan prihatin dan berdoa yang terbaik untuk penumpang dan kru pesawat tersebut," ujarnya.
"Saya mohon doa dari teman-teman semua untuk yang terbaik. Segera bisa ditemukan dan kita bisa tahu persis apa yang terjadi," pungkasnya.





