Iran Banjir Darah, Trump Ancam Serangan Mematikan Gulingkan Khamenei

cnbcindonesia.com
2 jam lalu
Cover Berita
Foto: Orang-orang memegang bendera nasional "Singa dan Matahari" pra-Revolusi Iran selama unjuk rasa mendukung protes nasional di Iran, di Roma, Italia, 13 Januari 2026. (REUTERS/FRANCESCO FOTIA)

Jakarta, CNBC Indonesia - Pemerintahan Amerika Serikat (AS) tengah mempertimbangkan langkah militer untuk merespon situasi krisis di Iran. Ancaman serangan ini muncul menyusul laporan mengenai pembantaian massal yang dilakukan rezim Teheran terhadap warganya sendiri, di mana ribuan orang dilaporkan tewas dalam upaya penumpasan demonstrasi.

Presiden AS Donald Trump pada pekan ini sempat melontarkan ancaman tindakan yang sangat kuat terhadap Iran sembari menyerukan lebih banyak aksi protes dari masyarakat sipil di sana.


Baca: Terungkap Alasan Negara-negara Arab Diam Saat Iran Berkecamuk

Berdasarkan laporan The Economist, jika serangan benar-benar dilakukan, opsi yang mungkin diambil Washington adalah serangan terbatas atau target pemenggalan politik untuk menggulingkan kekuasaan para mullah yang telah berkuasa selama 47 tahun.

"Kamar mayat penuh sesak. Mayat-mayat dalam kantong ditumpuk di trotoar yang bersimbah darah. Beberapa ribu orang mungkin tewas," tulis laporan The Economist, Sabtu (17/1/2025).

Eskalasi kekerasan mematikan tersebut terjadi setelah Pemimpin Tertinggi Ali Khamenei merespons aksi unjuk rasa dengan kekuatan militer penuh. Milisi yang bersekutu dengan Garda Revolusi dikerahkan menggunakan sepeda motor dan penembak jitu (sniper), menembaki warga sipil yang meneriakkan slogan anti-diktator dengan membidik area vital seperti wajah.

Amerika Serikat dinilai memiliki opsi untuk menjatuhkan bom dan rudal di situs-situs terpilih di dalam Iran, terutama yang berkaitan dengan struktur Garda Revolusi.

Namun, intervensi militer tersebut memiliki risiko tinggi mengingat Iran dipersenjatai dengan baterai rudal jarak jauh yang mampu memukul balik melintasi Timur Tengah, yang berpotensi memicu perang skala besar.

"Apa yang akan dilakukan oleh serangan Amerika yang dipertimbangkan oleh Presiden Donald Trump untuk menjatuhkan para mullah? Dan jika rezim itu runtuh, apa yang mungkin terjadi selanjutnya?," tulis laporan itu.

Analis memperingatkan risiko Iran jatuh ke dalam perang saudara seperti Suriah atau perpecahan negara seperti Yugoslavia, mengingat keberadaan berbagai kelompok separatis dan senjata nuklir di negara tersebut.

Di sisi lain, Gedung Putih juga mulai mengambil langkah non-militer dengan memberikan dukungan diam-diam kepada tokoh oposisi di pengasingan, Reza Pahlavi, serta menyelundupkan perangkat internet Starlink untuk menembus blokade komunikasi.

Namun, opsi serangan militer tetap menjadi kartu yang paling berisiko karena Iran memiliki kemampuan rudal jarak jauh yang dapat memicu perang luas di Timur Tengah.


(fsd/fsd)
Saksikan video di bawah ini:
Video: Pemimpin Iran Sebut Trump Seperti Firaun

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Pesawat ATR Indonesia Air Transport Hilang Kontak di Maros Sulsel
• 6 jam lalukatadata.co.id
thumb
6 Hal Diketahui dari Pesawat ATR Hilang Kontak di Maros
• 3 jam laludetik.com
thumb
Rylan Henry Pribadi, Cucu Pendiri Napan Group Meninggal Kecelakaan Ski di Jepang
• 6 jam lalugenpi.co
thumb
Rencana Transfer Real Madrid Menguat: Vinicius di Ujung Tanduk, Haaland Masuk Radar, Mbappe Pindah Posisi
• 23 jam laluviva.co.id
thumb
Tes Kepribadian: Gambar Pertama yang Dilihat Bisa Ungkap Caramu Hadapi Tekanan Hidup
• 1 jam lalubeautynesia.id
Berhasil disimpan.