Bisnis.com, JAKARTA – Emiten pengelola gerai Pizza Hut di Tanah Air, PT Sarimelati Kencana Tbk. (PZZA) cukup percaya diri ihwal prospek kinerja perseroan pada 2026. Di tengah tantangan daya beli, sejumlah strategi dinilai bakal membawa dampak positif terhadap kinerja perseroan.
Corporate Secretary Pizza Hut Indonesia Andromeda Hermawan Tristanto, menerangkan salah satu faktor kepercayaan diri PZZA untuk membukukan kinerja positif adalah keberhasilan perseroan dalam mencetak profit pada 2025 setelah sejumlah sentimen membayangi kinerja perseroan hingga merugi pada periode 2020–2024.
“Kami mempunyai kepercayaan diri tinggi bahwa penjualan dan profitabilitas perseroan pada 2026 akan lebih baik secara signifikan dibanding 2025,” katanya kepada Bisnis, dikutip Sabtu (17/1/2026).
Pada tahun ini, strategi PZZA akan difokuskan pada upaya penguatan sistem operasional perusahaan. Strategi itu diterjemahkan menjadi implementasi teknologi, inovasi produk, hingga kolaborasi dengan pihak luar guna memperkuat nilai bagi pelanggan.
Dengan begitu, PZZA percaya diri mampu membukukan pertumbuhan lebih baik daripada proyeksi pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 di level 5,3%–5,4%.
“Proyeksi kami, penjualan kami pada 2026 akan tumbuh lebih baik dari pertumbuhan ekonomi nasional. Sebagai lanjutan dari momentum pertumbuhan yang telah kami bangun pada 2025,” tambahnya.
Kepercayaan diri Pizza Hut juga berada dalam fakta kian ketatnya persaingan bisnis pizza di Tanah Air lantaran kemunculan sejumlah pemain baru. Andromeda memandang, bahwa Pizza Hut masih memiliki keunggulan tersendiri untuk dapat bersaing.
Selain ekuitas merek Pizza Hut yang kuat, skala operasional yang telah berbasis nasional hingga ragam portofolio multibrand dan multi format membuat kepercayaan diri ini meningkat. Beberapa brand milik PZZA antara lain Pizza Hut Ristorante, Pizza Hut Restaurant, atau Pizza Hut Delivery (PHD).
“Kami mempunyai diversifikasi brand yang luas, yang selalu berfokus pada kepentingan dan keinginan pelanggan melalui penawaran bernilai dan kemudahan akses. Pada 2025, SSSG [same store sales growth] kami tumbuh secara signifikan dibanding 2024 di mana hal ini mencerminkan keberhasilan perseroan dalam menjaga relevansi merek di mata konsumen,” katanya.
Adapun, Pizza Hut mampu meraup laba bersih sebesar Rp15,91 miliar per kuartal III/2025, berbalik dari kondisi rugi periode yang sama tahun sebelumnya Rp96,71 miliar.
Berdasarkan Laporan Keuangan, perolehan laba PZZA ini sejalan dengan peningkatan penjualan 11,17% secara tahunan (year on year/YoY) per kuartal III/2025, menjadi Rp2,26 triliun, dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya Rp2,03 triliun.
Segmen usaha makanan PZZA menyumbang penjualan sebesar Rp2,13 triliun, naik 12,14% YoY. Sementara itu, segmen usaha minuman mencapai Rp128,7 miliar, menyusut 2,71% YoY.
PZZA mencatatkan beban pokok penjualan sebesar Rp690,27 miliar per kuartal III/2025, naik dibandingkan dengan catatan beban pokok penjualan per kuartal III/2025, sebesar Rp638,93 miliar.
Laba bruto PZZA kemudian naik 12,61% YoY menjadi Rp1,57 triliun pada periode yang berakhir 30 September 2025.



