jpnn.com, JAKARTA - Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) bersama Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia (MRPTNI) membentuk Konsorsium PTN untuk penanganan pascabencana Sumatra 2025.
Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemdiktisaintek, Fauzan Adziman menegaskan pembentukan konsorsium menjadi kebutuhan mendesak agar kontribusi perguruan tinggi tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan terintegrasi, dan berdampak nyata.
BACA JUGA: Kemdiktisaintek Terima Hibah 30 Karya Seni ISI Surakarta
“Bencana yang terjadi di Sumatera tidak bisa ditangani secara parsial. Kami butuh konsorsium agar kepakaran, riset, dan sumber daya perguruan tinggi bisa digerakkan secara terkoordinasi dan tepat sasaran,” ujarnya, Sabtu (17/1).
Pemerintah tengah menyiapkan kerangka pemulihan dan rekonstruksi nasional melalui pembentukan satuan kerja khusus sesuai keputusan presiden, dengan kebutuhan anggaran diperkirakan mencapai Rp 60 triliun, yang akan dialokasikan berbasis rencana aksi dan penguatan ekosistem akademik nasional.
BACA JUGA: Kemdiktisaintek Bakal Merekrut 47 Ribu Dosen CPNS, PNS Pensiun Dikaryakan di PTS
Oleh karena itu, pemetaan wilayah kritis, pengorganisasian kepakaran dan penguatan basis data ahli kebencanaan dari perguruan tinggi menjadi krusial.
“Saat ini sudah terdata puluhan pakar kebencanaan lintas kampus yang siap turun langsung, dan konsorsium ini akan membantu kami mendelegasikannya,” tegas Dirjen Fauzan.
BACA JUGA: KP2MI dan Kemdiktisaintek Teken MoU untuk Tingkatkan Keterampilan Pekerja Migran Indonesia
Salah satu program yang diperkenalkan oleh Dirjen Fauzan adalah program “Mahasiswa Berdampak” yang mengintegrasikan kegiatan KKN dengan pendanaan proposal mahasiswa agar terlibat langsung dalam proses pemulihan di daerah terdampak, dengan total anggaran mencapai Rp 18 miliar hingga Ro 20 miliar pada 150 proposal, dengan pendanaan maksimal Rp 120 juta/proposal.
Dirjen Fauzan juga menekankan pentingnya komunikasi publik yang efektif, termasuk melalui media nasional dan konten edukasi, agar pemulihan dapat dipahami dan didukung oleh masyarakat luas.
Sejalan dengan arahan tersebut, Sekretaris Jenderal MRPTNI Muryanto Amin menegaskan pembentukan konsorsium ini sebagai tindak lanjut dari berbagai diskusi antar-pimpinan perguruan tinggi sebelumnya.
“Kami ingin memastikan kerja perguruan tinggi pascabencana ini punya acuan bersama yang sudah ada. Perlu ada rule book, komitmen, dan pembagian peran yang jelas, supaya upaya pemulihan bisa berjalan lebih cepat," ucapnya.
Sebagai tuan rumah, Rektor Universitas Indonesia, Heri Hermansyah menyampaikan komitmen UI dalam mendukung penanganan bencana melalui berbagai program yang telah dijalankan secara berkelanjutan.
Selama lebih dari satu dekade, UI telah terlibat dalam respon kebencanaan melalui program UI Peduli.
"Pengalaman ini kami bawa untuk memperkuat kerja konsorsium, khususnya di bidang kesehatan, teknik, dan sosial,” ungkap Rektor Heri.
Dia juga menyoroti pentingnya menjaga keberlanjutan pendidikan bagi masyarakat terdampak bencana, termasuk kemudahan akses dan pendampingan administrasi pendidikan bagi peserta didik.
Pemulihan tidak hanya soail infrastruktur, tetapi memastikan anak-anak dan generasi muda tetap bisa melanjutkan pendidikan mereka dengan baik. (esy/jpnn)
BACA ARTIKEL LAINNYA... Kekurangan Dosen Meningkat, Kemdiktisaintek Siap Rekrut CPNS Baru, PMDSU Berpeluang
Redaktur : Dedi Sofian
Reporter : Mesyia Muhammad




