Sebagian wisatawan domestik rela terbang jauh-jauh ke luar negeri untuk berwisata daripada berkunjung ke tempat wisata yang dekat dari tempat tinggal mereka. Apa saja alasan di balik pilihan tersebut?
Berwisata sudah menjadi salah satu ritual wajib bagi Fauzi (29), warga Salatiga, Jawa Tengah. Di tengah rutinitas kerja yang padat, karyawan swasta ini selalu menyisihkan waktu untuk berwisata demi menghindari kelelahan kerja (burn out).
Pada Juni 2025, untuk pertama kali Fauzi berwisata ke luar negeri, yakni Kuala Lumpur, Malaysia. Ia memilih berwisata ke Kuala Lumpur karena ingin menjelajahi ibu kota negara lain. Selama tiga hari di Malaysia, Fauzi berkunjung ke Menara Petronas, Istana Negera, Central Market, dan ke kawasan Sunway City.
”Saya memilih untuk berwisata ke Malaysia karena di sana menarik, kotanya tertata rapi, bersih, dan akses transportasi umumnya sangat baik, jadi ke mana-mana gampang, tinggal pilih moda. Kemudian, harga tiket penerbangan ke sana juga tergolong murah, bahkan lebih murah daripada tiket penerbangan dalam negeri,” kata Fauzi, Jumat (16/1/2026).
Fauzi menyebut, tempat-tempat yang ia datangi mayoritas tidak menerapkan tiket alias gratis. Dengan demikian, ia bisa menggunakan uangnya untuk membeli oleh-oleh. Untuk berlibur selama tiga hari di Malaysia, Fauzi mengeluarkan Rp 3,5 juta. Itu sudah termasuk tiket penerbangan pergi-pulang.
Menurut Fauzi, dirinya bosan berwisata di Jateng. Sebab, sejumlah tempat wisata andalan di wilayah ini sudah pernah ia datangi, termasuk Candi Borobudur. Fauzi terakhir kali berwisata di Candi Borbudur pada tahun 2023. Sejak saat itu, ia belum pernah kembali lagi ke salah satu destinasi wisata super prioritas Indonesia tersebut.
”Saya merasa, sudah tidak ada lagi yang bisa dieksplorasi di Candi Borobudur, jadi bingung kalau ke sana mau ngapain. Kemudian, tempatnya juga kurang dijangkau transportasi umum. Kalaupun ada, biasanya (pengunjung) naik travel dan bisa sampai Rp 100.000 (biayanya) sekali jalan kalau dari Salatiga,” kata Fauzi.
Yanuarwati (37), warga Kota Yogyakarta, DIY, juga memilih untuk kembali berwisata ke Malaysia pada September 2025. Sebelumnya, ia pernah berwisata ke negara itu tahun 2022. Karyawan swasta itu kembali berwisata ke Malaysia karena merasa biaya perjalanan ke negara tersebut terjangkau.
Untuk membeli tiket penerbangan pergi-pulang dari Yogyakarta ke Kuala Lumpur, misalnya, Yanuarwati mengeluarkan biaya Rp 1,6 juta. Harga tiket itu jauh lebih murah daripada harga penerbangan tiket pergi-pulang ke Pekanbaru yang mencapai Rp 3,5 juta.
Tak hanya biaya penerbangan, biaya penginapan di Kuala Lumpur juga, disebut Yanuarwati, terjangkau. Untuk tiga hari dua malam, Yanuarwati mengeluarkan biaya sekitar Rp 1 juta.
”Dengan biaya yang relatif murah, saya sudah bisa berlibur ke luar negeri, bisa merasakan suasana baru di negara lain,” ujarnya.
Selama di Kuala Lumpur, Yanuarwati berkunjung ke Menara Petronas, kawasan Petaling, Central Market, Kuil Sri Maha Mariamman, dan BookXcess. Untuk bepergian ke tempat-tempat itu, Yanuarwati mengandalkan transportasi umum yang dinilai Yanuarwati ongkosnya terjangkau, bahkan ada yang gratis.
Selain ke luar negeri, Yanuarwati juga sempat berwisata di dalam negeri. Salah satu tempat wisata yang ia kunjungi adalah Candi Borobudur di Magelang. Yanuarwati pergi ke Borobudur pada Mei 2025 karena menemani seorang temannya dari Spanyol.
”Kalau saya pribadi, sebenarnya sudah sering ke Borobudur, jadi tidak terlalu terkesan. Tapi, ternyata, teman saya yang baru pertama kali ke Borobudur juga merasa tidak terkesan. Dia merasa kurang puas dengan penjelasan pemandu wisata yang ada. Di sisi lain, dia juga merasa keberatan dengan tarif naik ke candi yang cukup mahal,” katanya.
Menurut Yanuarwati, harga tiket masuk dan naik ke candi untuk dirinya bersama temannya yang merupakan warga negara asing sekitar Rp 700.000. Selain harga tiket yang dinilai mahal, biaya transportasi dari Yogyakarta ke Borobudur juga disebut Yanuarwati mahal.
Oleh karena tidak ada transportasi umum yang langsung ke candi, Yanuarwati dan temannya menyewa kendaraan serta pengemudi untuk mengantar mereka. Biaya yang dikeluarkan untuk menyewa mobil dan sopir sebesar Rp 700.000. Hal itu masih harus ditambah dengan biaya makan sebesar Rp 200.000.
”Untuk perjalanan setengah hari, sudah habis Rp 1,6 juta. Menurut saya kurang worth it,” ujarnya.
Fauzi dan Yanuarwati berharap pemerintah menyediakan transportasi publik dengan tarif terjangkau dari kota-kota besar, seperti Semarang dan Yogyakarta ke Borobudur. Selain itu, mereka juga berharap ada penambahan berupa pertunjukan atau event-event sehingga wisatawan tidak hanya berkunjung untuk melihat candi.
Pada masa libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026, jumlah kunjungan wisata di Candi Borobudur yang merupakan destinasi wisata super prioritas itu bukanlah yang tertinggi di Jateng. Berdasarkan data Dinas Kepemudaan, Olahraga, dan Pariwisata Jateng, jumlah kunjungan di Candi Borobudur pada masa libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 sekitar 146.860 orang. Jumlah itu paling banyak keenam, di bawah Candi Prambanan dengan jumlah 232.983 orang.
Tak hanya sebagian wisatawan, sejumlah pelaku usaha wisata di Magelang juga merasa minat wisata ke Candi Borobudur tidak sebesar dulu karena sejumlah hal. Kondisi itu dinilai turut berdampak pada usaha wisata di sekitar Borobudur.
Pendiri Kampung Bahasa Borobudur, Hani Sutrisno, mengatakan, salah satu yang menjadi sebab berkurangnya minat wisatawan berkunjung ke Borobudur adalah adanya pembatasan jumlah wisatawan yang naik ke candi. Jumlah orang yang naik ke candi dibatasi maksimal 1.200 orang per hari. Hal itu dinilai Hani membuat wisatawan enggan berspekulasi karena takut tidak bisa naik ke candi. Padahal, mereka sudah jauh-jauh berkunjung ke Borobudur.
”Sebenarnya sekarang ini, kan, kuota wisatawan yang naik ke candi sudah ditambah menjadi 4.000 orang per hari. Tapi, ini belum ada sosialisasi baik ke biro-biro perjalanan wisata maupun ke kalangan luas,” kata Hani.
Hani juga menilai, harga tiket naik ke candi juga masih terlalu mahal. Ia menyarankan agar harganya diturunkan, setidaknya sama dengan harga tiket ke Candi Prambanan.
Selain itu, beberapa waktu terakhir, sempat viral informasi mengenai rencana kenaikan harga tiket naik ke candi menjadi sebesar Rp 750.000. Meski kenaikan harga itu tak jadi diterapkan, sosialisasinya dinilai Hani kurang, sehingga sebagian wisatawan menilai harganya jadi naik menjadi Rp 750.000.
Sementara itu, Ketua Forum Daya Tarik Wisata Kabupaten Magelang Edwar Alfian mengatakan, jumlah kunjungan wisata di Borobudur yang tak sebanyak dulu kemungkinan dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal yang dimaksud ialah adanya pembatasan jumlah orang yang boleh naik ke candi.
Adapun faktor eksternal yang dimaksud Edwar adalah kebijakan dari pemerintah, salah satunya larangan bagi pelajar untuk karya wisata keluar daerah. Padahal, kunjungan wisata pelajar menjadi salah satu andalan Candi Borobudur.
”Kemudian adanya kebijakan efisiensi anggaran dari pemerintah itu juga berpengaruh. Karena adanya efisiensi anggaran, beberapa instansi yang biasanya melakukan perjalanan wisata ke luar daerah jadi tidak ada lagi,” kata Edwar.
Selain itu, kondisi ekonomi masyarakat yang menurun juga disebut Edwar berpengaruh. Dalam kondisi keuangan yang tidak terlalu bagus, masyarakat dinilai Edwar lebih mengutamakan pemenuhan kebutuhan pokok daripada berwisata.
Edwar menyebut, dirinya juga sempat mendapatkan keluhan dari pengusaha penginapan mengenai sulitnya mendapatkan slot bagi tamunya untuk naik ke candi. Mayoritas yang tidak mendapatkan tiket itu, disebut Edwar, wisatawan mancanegara.
”Nah, ini yang cukup menjadi catatan bagi kita. Tamu-tamu dari luar negeri yang sudah sampai di Magelang ke Borobudur mau naik candi, enggak bisa itu mereka akan membawa oleh-oleh berupa berita negatif ke negaranya,” ujar Edwar.
Edwar berharap, penambahan jumlah orang yang boleh naik ke candi bisa mendongkrak jumlah wisatawan, khususnya wisatawan mancanegara di Borobudur. Dengan begitu, daya tarik wisata lain di sekitarnya juga bisa ikut tumbuh.
PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko atau Injourney Destination Management juga terus berupaya mendongkrak kunjungan wisata melalui berbagai cara. Yang terbaru adalah paket sunrise dan sunset, yakni menyaksikan matahari terbit dan terbenam dari Candi Borobudur. Harga paketnya, termasuk sarapan atau makan malam, masing-masing sebesar Rp 1 juta.
Selain itu, ada kegiatan wisata spiritual, yakni pilgrim yang dikembangkan di Candi Borobudur sejak 2022. Direktur Komersial InJourney Destination Management Gistang Richard Panutur menyebut, sejumlah pihak berkolaborasi mengembangkan Borobudur sebagai destinasi wisata spiritual dan budaya berkelas dunia. Pendekatannya adalah berbasis pelestarian, edukasi, dan pemberdayaan masyarakat.
Borobudur sebagai mandala suci dan pusat ziarah umat Buddha memiliki potensi yang besar untuk menarik wisatawan beragama Buddha. Gistang menyebut, jumlah pemeluk Buddha di Asia sekitar 490 juta orang. Jumlah itu kira-kira 92 persen dari jumlah total pemeluk Buddha di dunia.
”Di Asia Tenggara ada 120 juta pemeluk Buddha, dan kalau kita zoom lagi, di Thailand itu ada sekitar 64 juta jiwa atau 53 persen dari total pemeluk Buddha di Asia Tenggara. Jumlah ini tentu sangat potensial, ya, cukup besar untuk membuka peluang. Mungkin, ke depan, kita akan punya konektivitas bagi Thailand ke Candi Borobudur,” kata Gistang.
Selain menyasar umat Buddha, wisata spiritual di Candi Borobudur juga, kata Gistang, ingin menarik pelancong umum. Untuk itu, tahun ini, upaya penataan dan pengelolaan Candi Borobudur sebagai destinasi wisata spiritual dan budaya yang inklusif semakin dikuatkan.
Sebelumnya, Malaysia menjadi negara yang paling banyak menarik pengunjung asing di Asia Tenggara. Jumlah kunjungan wisatawan asing di negeri jiran itu telah mengalahkan Thailand dan jauh meninggalkan Indonesia (Kompas.id, 14/1/2026).
Berdasarkan data Kementerian Pariwisata, Seni, dan Budaya Malaysia, jumlah kunjungan pengunjung asing ke Malaysia pada Januari-Agustus 2025 sekitar 28 juta kunjungan. Angka itu melonjak menjadi sekitar 38,3 juta kunjungan hingga November 2025. Sebanyak 3,8 juta kunjungan di antaranya pengunjung berpaspor Indonesia.
Dari 38,3 juta kunjungan ke Malaysia, sekitar 24 juta merupakan kunjungan turis dan 14,2 juta kunjungan pengunjung yang hanya singgah tanpa menginap. Dengan capaian itu, Malaysia kini menjadi negara yang paling banyak dikunjungi pengunjung asing di ASEAN. Malaysia mengalahkan Thailand dua tahun berturut-turut dalam hal kemampuan menarik pengunjung asing dan jauh meninggalkan Indonesia.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, pergerakan wisatawan asing ke Indonesia sepanjang Januari-November 2025 mencapai 13,98 juta kunjungan. Angka itu tumbuh 10,44 persen dibandingkan pada tahun sebelumnya, di periode yang sama. Jika dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand, jumlah kunjungan asing ke Indonesia tidak sampai setengahnya. Boleh dikata Indonesia tertinggal jauh dari dua negara itu.



