Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) menambah alokasi kuota BBM subsidi dan kompensasi negara untuk Provinsi Aceh pada 2026. Kebijakan ini diambil salah satunya untuk memastikan kebutuhan energi masyarakat tetap terpenuhi di tengah kondisi darurat bencana alam yang masih berlangsung di sejumlah wilayah Aceh.
Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas, mengatakan peningkatan kuota tersebut diharapkan mampu menutup kebutuhan BBM masyarakat selama masa tanggap darurat bencana yang statusnya masih berlaku hingga 22 Januari 2026.
“Alokasi kuota BBM untuk wilayah Banda Aceh tahun 2026 kita berikan kurang lebih 104 persen dari realisasi yang kami sampaikan tahun 2025. Jadi ada kenaikan. Berikutnya untuk Pertalite, ada kenaikan sebesar 102,1 persen,” kata Wahyudi saat meninjau penyaluran BBM di Lhokseumawe, Aceh, Sabtu (17/1).
Sepanjang tahun 2025 realisasi penyaluran biosolar di Provinsi Aceh termasuk untuk penanganan bencana mencapai 428.324 kiloliter dan Pertalite 576.147 kiloliter.
“Selama bencana alam mulai bulan akhir November sampai dengan Desember itu naik 8 persen tapi khusus pas bencana alam. Tapi secara nasional dari penetapan kuota masih di bawah tahun 2025 95 persen untuk pertalite, 98 persen sekian untuk biosolar,” jelasnya.
BPH Migas juga memberikan relaksasi aturan pembelian BBM subsidi di wilayah terdampak bencana. Sejak 28 November 2025, pembelian BBM subsidi di Aceh dapat dilakukan tanpa menggunakan QR Code dan dilayani secara manual di seluruh penyalur.
Selain itu BBM subsidi juga diperuntukkan bagi masyarakat terdampak bencana baik untuk kebutuhan alat berat termasuk kendaraan dinas, kendaraan posko jika semua kendaraan penanganan kebencanaan.
Dalam kunjungannya ke Aceh, Wahyudi juga menyalurkan bantuan dari BPH Migas kepada warga terdampak bencana banjir dan longsor di Bener Meriah, salah satunya 4 generator set (genset) untuk 4 Dusun di Desa Uning Mas.
Desa Uning Mas di Bener Meriah merupakan salah satu desa yang berada di atas bukit, banyak rumah warga, jembatan, fasilitas umum hingga sarana kelistrikan yang ikut hanyut terbawa banjir bandang yang membawa serta material longsor seperti batu dan kayu. Akibatnya desa tersebut padam total.
Selain itu, BPH Migas juga membagikan paket sembako sebanyak 500 paket berisi beras SPHP 5 kg, gula pasir 1 kg, minyak goreng 1 liter, mie instan 10 bungkus, dan lain-lain. Paket sembako ini diberikan sebanyak 150 paket di Desa Alue Krak Kayee, 150 paket di Desa Tanjong Dalam Selatan dan 200 paket di Desa Uning Mas, Bener Meriah.
Di sisi lain, Pertamina melalui Pertamina Patra Niaga memastikan kondisi stok BBM di Aceh dalam keadaan aman dengan rata-rata ketahanan selama 5 hari. Hal ini diutarakan oleh Executive General Manager Pertamina Patra Niaga Regional Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) Sunardi.
“Jadi secara umum kondisi stok di 5 depot itu sampai paling kecil 5 hari ke depan. Tapi kondisinya reguler kapal RTD-nya (Regular Tanker Delivery) 3 hari masuk. (Stok) insyaallah aman,” tutur Sunardi dalam kesempatan yang sama.
Dia merinci, Aceh saat ini memiliki lima terminal BBM yang tersebar di Lhokseumawe, Krueng Raya, Meulaboh, Sabang, dan Simeulue. Di Lhokseumawe, stok biosolar 5 hari, Pertalite 5,6 hari.
Untuk terminal BBM di Krueng Raya stok solar kurang lebih ada 5,75 hari dan Pertalite 10 hari. Lalu terminal BBM Meulaboh biosolar dengan posisi stok 8,3 hari dan Pertalite 8,57 hari.
“Simeulue untuk solar itu ketahanan stoknya 6,57 hari. Kemudian untuk Pertalite 17,55 hari. Kemudian untuk di Sabang, biosolar ketahanan stoknya 19,54 hari. Kemudian untuk Pertalite cukup panjang, ada 49 hari. Karena dia cuma di Kepulauan Jera,” jelasnya.



