REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Dalam ajaran Islam, kualitas amal tidak selalu diukur dari besarnya perbuatan, tetapi dari keikhlasan dan beratnya ujian batin yang menyertainya. Sayidina Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu menjelaskan empat amal yang paling berat timbangan pahalanya di sisi Allah SWT.
Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Banteni dalam buku Nashaihul Ibad mengutip pernyataan Sayidina Ali bin Abi Thalib yang menjelaskan empat amal yang paling berat timbangan pahalanya.
Baca Juga
Refleksi 25 Tahun Baznas: Dari Zakat dan Filantropi Tradisional ke Pemberdayaan Sosial Produktif
Perusahaan Jepang Hadirkan Toilet yang Bisa Cek Kesehatan dengan Analisis Tinja
Farabi El Fouz Tekankan Makna Isra Miraj Bagi Kehidupan Berbangsa
Diriwayatkan Sayyidina Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu anhu berkata, "Sesungguhnya amal perbuatan yang paling berat (timbangannya) itu ada empat. Yaitu memberi maaf ketika sedang marah, suka berderma di saat miskin, berbuat iffah (menahan hawa nafsu) ketika sendirian, dan berkata benar terhadap orang yang ditakuti atau diharapkan jasanya."
Menurut Ali bin Abi Thalib bahwa amal perbuatan yang paling berat timbangan amalnya itu ada empat.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Pertama, memaafkan kesalahan orang lain, meskipun pada dasarnya hatinya panas (marah). Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW berikut ini.
Rasulullah SAW bersabda, "Siapapun yang menghentikan marahnya, maka Allah akan menghentikan siksa baginya."