FAJAR, TEHERAN– Pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei menuntut pertanggungjawaban Presiden Amerika Serikat Donald Trump atas tewasnya ribuan warga Iran selama gelombang aksi unjuk rasa antipemerintah di Teheran
“Kami menuduh presiden Amerika Serikat bertanggung jawab atas korban jiwa, kerusakan, dan tuduhan yang dia ajukan terhadap bangsa Iran,” kata Khamenei kepada kerumunan pendukungnya dalam pidatonya, Sabtu 17 Januari 2026 melansir AFP.
“Ini adalah konspirasi Amerika,” tambahnya.
HRANA pada Jumat 16 Januari 2026 melaporkan korban tewas di Iran mencapai 3.090 kematian, dengan 2.885 orang di antaranya merupakan demonstran.
Sementara itu, laporan kelompok HAM yang berbasis di Norwegia, Iran Human Rights (IHR), menyebut sedikitnya 3.428 demonstran telah dipastikan tewas akibat penindakan keras pasukan keamanan Iran.
Namun IHR memperingatkan bahwa jumlah korban tewas sebenarnya bisa beberapa kali lipat lebih tinggi.
Perkiraan lainnya, sebut IHR, menyebut jumlah korban tewas mencapai lebih dari 5.000 orang — dan mungkin setinggi 20.000 orang — dengan adanya pemadaman akses internet yang sangat menghambat verifikasi independen.
Saluran oposisi berbahasa Persia, Iran Internasional, yang berbasis di luar negeri dan mengutip sumber senior dalam pemerintah dan otoritas keamanan Iran, melaporkan sedikitnya 12.000 orang tewas selama unjuk rasa.
Direktur IHR Mahmood Amiry-Moghaddam mengutip kesaksian mengerikan dari para saksi mata yang diterima IHR tentang para demonstran yang ditembak mati saat berusaha melarikan diri, kemudian soal penggunaan senjata kelas militer, dan eksekusi mati di jalanan terhadap demonstran yang terluka.
Sejak akhir Desember, demonstrasi Iran membara karena. Menurut pemberitaan media pemerintah, fasilitas sipil hingga pertokoan terbakar dalam demo itu.
Para pedemo memprotes inflasi yang melangit hingga meminta pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei mundur.
Namun, pemerintah dilaporkan menggunakan kekuatan berlebih dalam menangani demonstran hingga memutus internet skala nasional.
Khamenei juga menuding demo itu ada campur tangan Amerika Serikat. Di sisi yang lain, Presiden Donald Trump terus memprovokasi rakyat Iran untuk melakukan demo dan merebut kebebasan (*)



