tvOnenews.com - Pep Guardiola tak mencari alasan setelah Manchester City tumbang di Old Trafford. Usai kalah 0-2 dari Manchester United pada Derbi Manchester, Sabtu (17/1/2026), pelatih asal Spanyol itu secara terbuka mengakui keunggulan tuan rumah.
Menurut Guardiola, faktor pembeda utama dalam laga tersebut adalah energi luar biasa yang ditunjukkan Setan Merah di bawah arahan Michael Carrick.
Guardiola bahkan menyebut energi Manchester United berada di level yang tidak mampu ditandingi timnya. Pengakuan itu menjadi sorotan, mengingat laga ini juga menjadi debut Carrick sebagai pelatih kepala interim.
Dalam waktu singkat, Carrick sukses membangkitkan intensitas permainan United yang sempat meredup di paruh pertama musim.
Derbi Manchester Jadi Panggung Carrick
Pertandingan pekan ke-22 Premier League tersebut berakhir dengan kemenangan 2-0 untuk Manchester United. Hasil itu terasa spesial karena bukan hanya soal skor, melainkan cara bermain. United tampil agresif sejak menit awal, mendominasi tempo, dan konsisten menekan City sepanjang pertandingan.
Sebaliknya, Manchester City terlihat kesulitan mengembangkan permainan. Pola build-up yang biasanya rapi kerap terputus akibat pressing tinggi United. City hampir tak menciptakan ancaman berarti, sebuah pemandangan yang jarang terlihat di era Guardiola.
Usai laga, Guardiola tak ragu mengakui keunggulan lawannya.
“Tim yang lebih baik menang. Mereka memiliki energi yang tidak kami miliki. Selamat kepada mereka,” ujar Guardiola, dikutip dari Sky Sports.
Ia juga menyoroti bagaimana United memulai pertandingan dengan agresivitas tinggi, sesuatu yang membuat City langsung berada dalam tekanan.
“Mereka memiliki peluang di akhir pertandingan dengan umpan silang. Kami tahu mereka adalah tim transisi, tetapi secara umum, mereka lebih baik. Mereka memulai dengan sangat kuat, itu normal,” lanjutnya.
Kontras dengan Era Ruben Amorim
Penampilan penuh energi ini terasa kontras jika dibandingkan dengan Manchester United di bawah asuhan Ruben Amorim sebelumnya. Amorim sebenarnya sempat menunjukkan potensi, termasuk hasil positif di beberapa laga besar. Namun, konsistensi menjadi masalah utama.
Di bawah Amorim, United kerap tampil ragu-ragu, dengan intensitas yang naik turun. Eksperimen taktik dan posisi pemain sering kali membuat permainan kehilangan keseimbangan. Akibatnya, tekanan tinggi dan agresivitas jarang terlihat secara berkelanjutan.




