Dalam banyak hubungan, perempuan sering tumbuh dengan keyakinan bahwa mencintai berarti memahami, mengalah, dan menopang emosi pasangan. Kita belajar menjadi pendengar yang sabar, penenang saat emosi meledak, hingga penopang saat pasangan kehilangan arah. Tanpa sadar, peran ini perlahan terasa seperti kewajiban, bukan lagi pilihan.
Fenomena inilah yang kini dikenal sebagai mankeeping. Istilah tersebut merujuk pada kerja emosional tak terlihat yang kerap dilakukan perempuan untuk menjaga kestabilan emosional laki-laki dalam hubungan. Mulai dari mengingatkan hal-hal kecil, meredam konflik, memvalidasi perasaan, hingga menjadi tempat pulang setiap kali pasangan merasa lelah dengan dunianya. Semua dilakukan demi hubungan tetap berjalan baik-baik saja.
Masalahnya, mankeeping sering membuat beban emosional menjadi timpang. Perempuan dituntut peka, komunikatif, dan dewasa secara emosional, sementara laki-laki tidak selalu didorong untuk mengembangkan kapasitas emosional yang sama. Akibatnya, kelelahan emosional pun muncul karena terlalu banyak memberi tanpa ruang untuk dirawat balik.
“Perempuan sering menjadi manajer emosi dalam hubungan, mengantisipasi kebutuhan pasangan dan menjaga stabilitas emosional, sementara laki-laki jarang dilatih untuk melakukan hal yang sama,” tulis dr. Darcy Lockman, psikolog dan peneliti relasi asal Amerika Serikat.
Ketimpangan ini membuat perempuan memikul beban yang sering kali tak disadari, bahkan oleh dirinya sendiri.
Dalam jangka panjang, pola mankeeping bisa menggerus keseimbangan relasi. Perempuan merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan pasangan, sementara kebutuhannya sendiri terpinggirkan.
Padahal hubungan yang sehat bukan soal siapa yang paling kuat menahan, melainkan siapa yang mau bertumbuh bersama. Mankeeping menjadi alarm bahwa cinta tidak seharusnya dibangun di atas pengorbanan sepihak.



