Social Partnership untuk Sumatera Pulih

viva.co.id
13 jam lalu
Cover Berita

(Artikel opini ini ditulis oleh Boy Mareta, Pegiat Kemanusiaan Human Initiative, Magister Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia)

VIVA – Lebih dari seribu jiwa meninggal, 7.000 di antaranya luka-luka, dan kita mengetahui bahwa ada sekitar 500 ribu jiwa mengungsi dari rumah mereka. Ratusan ribu pengungsi dilakukan keluar rumah karena memang 158 ribu rumah rusak tersebar di 3 Provinsi (sumber data: BNPB 23 desember 2025). Akses ke wilayah terdampak yang sebelumnya terputus kini mulai dapat dilalui oleh kendaraan darat. Meski demikian, beberapa daerah seperti Bener Meriah dan Aceh Tengah masih mengalami keterbatasan akses dan hanya dapat dijangkau melalui transportasi udara, sehingga memerlukan dukungan logistik dan koordinasi yang berkelanjutan. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan gambaran nyata krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung.

Baca Juga :
Drama VAR, Walk Out Pemain, hingga Gol Penentu Menit 94: Senegal Juara Piala Afrika 2025 Usai Tekuk Maroko 1-0
Terpopuler: Harga Wuling Januari 2026, Denda Pemotor, dan Agenda Changan di Tengah EV

Dalam setiap bencana besar di Sumatera, ruang publik digital selalu ramai. Figur publik seperti Ferry Irwandi dkk turun langsung ke lapangan, menyuarakan kondisi korban, dan menggerakkan solidaritas publik. Di saat yang sama, pemerintah juga menyampaikan pesan bahwa negara selalu hadir, melalui berbagai kanal resmi dan pernyataan pejabat. Sayangnya, yang sering terjadi bukan kolaborasi narasi, melainkan perang komentar. Publik terbelah: ada yang membela negara, ada yang mengkritik, ada yang membandingkan siapa paling cepat, siapa paling peduli. Kepedulian yang seharusnya menjadi energi bersama, justru habis dalam adu argumen di kolom komentar.

Padahal, korban bencana tidak membutuhkan pembuktian siapa paling benar. Mereka membutuhkan bantuan yang sampai dan pemulihan yang berlanjut. Mari menggeser energi debat kepada energi dampak. Sumatera tidak pulih karena siapa yang paling viral. Sumatera pulih karena kerja bersama yang konsisten. Perang komentar tidak menyelamatkan rumah yang terendam, tidak mengobati trauma anak-anak, dan tidak membangun kembali penghidupan warga. Yang dibutuhkan hari ini adalah keberanian untuk berkata: kepedulian tidak perlu dipertentangkan, tapi dipertemukan.

Masalahnya Bukan Siapa Hadir, Tapi Bagaimana Hadir

Kehadiran figur publik menunjukkan satu hal penting: kepercayaan publik hari ini banyak tumbuh dari narasi personal dan keberanian bersuara. Sementara kehadiran pemerintah mencerminkan legitimasi, kapasitas kebijakan, dan tanggung jawab negara. Keduanya penting. Keduanya dibutuhkan. Yang menjadi masalah bukanlah kehadiran siapa yang lebih dulu, melainkan ketiadaan orkestrasi sosial. Tanpa kemitraan yang terstruktur, kepedulian publik mudah berubah menjadi kontestasi simbolik—siapa paling terlihat, siapa paling dipercaya, siapa paling disorot.

Baca Juga :
Terungkap! Alasan Wardatina Mawa Ogah Balikan dengan Insanul Fahmi
BPBD Pastikan Banjir di Jakarta Telah Surut Hari Ini
IHSG Berpeluang Menguat Meski Dibayangi Koreksi, Initp 5 Rekomendasi Saham Pilihan Analis
Disclaimer: Artikel ini adalah kiriman dari pengguna VIVA.co.id yang diposting di kanal VStory yang berbasis user generate content (UGC). Semua isi tulisan dan konten di dalamnya sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis atau pengguna.

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Menkes Mulai Gencarkan Skrining Kesehatan Pakai AI: Dia Kayak Dokter
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
Sparta Menangi Derbi Rotterdam atas Feyenoord, PSV Makin Kokoh di Puncak Liga Belanda
• 12 jam lalupantau.com
thumb
Tim SAR Gabungan Temukan Serpihan Pesawat ATR 42-500
• 10 jam lalusuara.com
thumb
Pengendara Motor Lawan Arah Diteror, Anak Jadi Sasaran Ancaman
• 2 jam lalukompas.com
thumb
Aston Villa vs Everton: Everton Bungkam Aston Villa 1-0, Rekor Kandang Unai Emery Patah!
• 17 jam lalumediaindonesia.com
Berhasil disimpan.