(Artikel opini ini ditulis oleh Boy Mareta, Pegiat Kemanusiaan Human Initiative, Magister Kesejahteraan Sosial Universitas Indonesia)
VIVA – Lebih dari seribu jiwa meninggal, 7.000 di antaranya luka-luka, dan kita mengetahui bahwa ada sekitar 500 ribu jiwa mengungsi dari rumah mereka. Ratusan ribu pengungsi dilakukan keluar rumah karena memang 158 ribu rumah rusak tersebar di 3 Provinsi (sumber data: BNPB 23 desember 2025). Akses ke wilayah terdampak yang sebelumnya terputus kini mulai dapat dilalui oleh kendaraan darat. Meski demikian, beberapa daerah seperti Bener Meriah dan Aceh Tengah masih mengalami keterbatasan akses dan hanya dapat dijangkau melalui transportasi udara, sehingga memerlukan dukungan logistik dan koordinasi yang berkelanjutan. Angka-angka ini bukan sekadar statistik, melainkan gambaran nyata krisis kemanusiaan yang sedang berlangsung.
Dalam setiap bencana besar di Sumatera, ruang publik digital selalu ramai. Figur publik seperti Ferry Irwandi dkk turun langsung ke lapangan, menyuarakan kondisi korban, dan menggerakkan solidaritas publik. Di saat yang sama, pemerintah juga menyampaikan pesan bahwa negara selalu hadir, melalui berbagai kanal resmi dan pernyataan pejabat. Sayangnya, yang sering terjadi bukan kolaborasi narasi, melainkan perang komentar. Publik terbelah: ada yang membela negara, ada yang mengkritik, ada yang membandingkan siapa paling cepat, siapa paling peduli. Kepedulian yang seharusnya menjadi energi bersama, justru habis dalam adu argumen di kolom komentar.
Padahal, korban bencana tidak membutuhkan pembuktian siapa paling benar. Mereka membutuhkan bantuan yang sampai dan pemulihan yang berlanjut. Mari menggeser energi debat kepada energi dampak. Sumatera tidak pulih karena siapa yang paling viral. Sumatera pulih karena kerja bersama yang konsisten. Perang komentar tidak menyelamatkan rumah yang terendam, tidak mengobati trauma anak-anak, dan tidak membangun kembali penghidupan warga. Yang dibutuhkan hari ini adalah keberanian untuk berkata: kepedulian tidak perlu dipertentangkan, tapi dipertemukan.
Masalahnya Bukan Siapa Hadir, Tapi Bagaimana Hadir
Kehadiran figur publik menunjukkan satu hal penting: kepercayaan publik hari ini banyak tumbuh dari narasi personal dan keberanian bersuara. Sementara kehadiran pemerintah mencerminkan legitimasi, kapasitas kebijakan, dan tanggung jawab negara. Keduanya penting. Keduanya dibutuhkan. Yang menjadi masalah bukanlah kehadiran siapa yang lebih dulu, melainkan ketiadaan orkestrasi sosial. Tanpa kemitraan yang terstruktur, kepedulian publik mudah berubah menjadi kontestasi simbolik—siapa paling terlihat, siapa paling dipercaya, siapa paling disorot.





