Mengapa Planet-Planet di Tata Surya Berada di Bidang yang Datar?

mediaindonesia.com
8 jam lalu
Cover Berita

JIKA kita memperhatikan model tata surya, ada satu kesamaan yang mencolok, semua planet mengorbit Matahari pada bidang yang hampir sama. Alih-alih bergerak ke segala arah secara acak, delapan planet kita justru berbaris rapi seperti berada di atas piringan raksasa yang datar.

Lantas, apa yang ada di atas dan di bawah bidang tersebut? Dan mengapa alam semesta memilih bentuk "pancake" yang rata dibandingkan bola yang semrawut?

Menentukan Arah di Ruang Hampa

Di Bumi, arah "atas" dan "bawah" ditentukan gravitasi. Namun, di luar angkasa, konsep ini menjadi relatif. Dalam skala luas, para astronom mendefinisikan "bawah" sebagai area di bawah bidang orbit tata surya yang disebut ekliptika. Secara konvensi, jika Anda melihat planet-planet mengorbit berlawanan arah jarum jam, berarti Anda berada di "atas" bidang tersebut.

Baca juga : 2 Bintang Masif Melintas Dekat Matahari, Tinggalkan Jejak pada Awan Gas

Menariknya, bidang datar ini tidak hanya terjadi pada skala tata surya kita. Galaksi Bima Sakti juga memiliki bidang galaksi sendiri. Uniknya, bidang tata surya kita tidak sejajar dengan bidang galaksi, keduanya membentuk sudut sekitar 60 derajat. Bahkan, kelompok galaksi kita (Local Group) juga terkumpul dalam apa yang disebut bidang supergalaksi.

Berawal dari Nebula yang Runtuh

Jawaban mengapa semua ini berbentuk datar terletak pada proses pembentukan miliaran tahun lalu. Awalnya, tata surya hanyalah awan gas dan debu raksasa yang disebut nebula surya.

Karena setiap partikel memiliki massa, mereka saling tarik-menarik akibat gravitasi. Perlahan tapi pasti, awan ini mulai menyusut. Saat menyusut, nebula tersebut mulai berputar. Fenomena ini mirip dengan penari es (ice skater) yang berputar semakin cepat saat menarik tangan mereka ke arah tubuh.

Baca juga : Komet Antarbintang 3I/ATLAS Pancarkan Semburan Es dan Debu Saat Dekati Matahari

Bagaimana Piringan Terbentuk?

Saat awan gas semakin padat, partikel-partikel di dalamnya mulai sering bertabrakan. Interaksi inilah yang "meratakan" tata surya.

"Jika sebuah partikel yang bergerak turun melalui bidang orbit menabrak partikel yang bergerak naik, interaksi tersebut cenderung membatalkan gerakan vertikal dan mengorientasikan kembali orbit mereka ke dalam satu bidang datar," jelas pakar ilmu keplanetan yang terlibat dalam riset ini.

Lama-kelamaan, awan yang tadinya berbentuk tidak beraturan runtuh menjadi bentuk cakram datar. Di pusat cakram ini, Matahari terbentuk, sementara material di pinggirannya menggumpal menjadi planet-planet yang kita kenal sekarang.

Proses yang sama kemungkinan besar terjadi pada skala yang jauh lebih besar, menata miliaran bintang di Bima Sakti dan kelompok galaksi ke dalam bidang-bidang datar yang berbeda. Pada akhirnya, semua kemiringan dan arah bidang ini berakar pada rotasi acak awal dari awan gas asal mereka. (Live Science/Z-2)


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Awal terjal Timnas Basket Kursi Roda 3x3 Indonesia di APG 2025
• 4 jam laluantaranews.com
thumb
Istana Tepis Wacana Pemerintah-DPR Ubah Sistem Pemilu Presiden dan Pilkada
• 3 jam lalukatadata.co.id
thumb
Menunda Transformasi Pensiun ASN: Risiko yang Diam-Diam Membesar
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Arah Gerakan Rakyat Usai Deklarasi Jadi Partai: Dukung Anies Maju 2029, Tolak Pilkada via DPRD
• 9 jam lalukompas.com
thumb
BULOG Aceh Pastikan Stok Pangan Hadapi Tradisi Megang Jelang Ramadan-Idul Fitri
• 22 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.