Otoritas China dalam sejumlah wilayah bergerak cepat menghadapi gelombang udara dingin kuat yang disertai salju lebat, guna menjaga keselamatan publik dan kelancaran aktivitas.
Dilansir dari Xinhua, Senin (19/1), Di Beijing, salju pertama tahun ini memicu mobilisasi besar-besaran semalam. Ribuan petugas kebersihan dan kendaraan pembersih salju dikerahkan untuk memastikan jalan utama, jembatan, dan kawasan permukiman tetap dapat dilalui. Pemerintah kota juga menaburkan cairan anti-es secara terbatas di titik rawan seperti jembatan dan tanjakan demi keselamatan lalu lintas.
Baca Juga: Beijing Gerak, Operasi Drone China Diam-diam Masuki Taiwan
Di Provinsi Hubei dan Henan, pemerintah setempat mengaktifkan respons darurat Level empat terhadap bencana akibat suhu rendah, hujan, salju dan kondisi beku.
Cuaca ekstrem turut memukul sektor pariwisata. Provinsi Shaanxi menutup sementara jalur pendakian sejumlah pegunungan menyusul prakiraan salju lebat.
Di Daerah Otonomi Xinjiang Uygur, China mencatatkan adanya penurunan suhu hingga minus 47,4 Celsius. Capaian itu menjadi suhu terendah dalam wilayah terkait pada musim dingin ini. Pemerintah setempat mengaktifkan langkah darurat untuk menjaga transportasi, produksi, ternak dan kehidupan masyarakat.
Di Provinsi Gansu, salju dan penurunan suhu menyebabkan beberapa ruas jalan tol diberlakukan pengaturan lalu lintas sementara. Otoritas transportasi menyatakan tim pembersih salju dan pasokan darurat telah disiagakan.
Sementara Provinsi Anhui mengeluarkan peringatan kuning badai salju, dengan prakiraan salju lebat. Sejumlah kota menangguhkan kegiatan belajar mengajar pada Senin dan Selasa.
Baca Juga: Sesuai Target, Ekonomi China Tumbuh 5% di 2025
China memprioritaskan kelancaran jaringan transportasi, stabilitas pasokan listrik dan air serta perlindungan kelompok rentan di tengah cuaca ekstrem.


