Jakarta (ANTARA) - Ketahanan pangan nasional kerap dibicarakan melalui indikator yang bersifat makro, seperti kecukupan stok, stabilitas harga, dan kelancaran distribusi.
Indikator-indikator tersebut memang penting, namun sering kali perhatian belum sepenuhnya diarahkan pada fondasi yang menopangnya, yakni struktur pelaku usaha pertanian itu sendiri.
Data Badan Pusat Statistik melalui Sensus Pertanian 2023 memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai siapa sesungguhnya aktor utama penyedia pangan Indonesia dan bagaimana peran mereka membentuk sistem pangan nasional hingga saat ini.
Dari sekitar 29,4 juta usaha pertanian yang tercatat, lebih dari 99 persen dikelola oleh Usaha Pertanian Perorangan. Artinya, hampir seluruh produksi pangan nasional bertumpu pada jutaan petani skala rumah tangga yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Angka ini mencerminkan kekuatan sekaligus tantangan.
Di satu sisi, luasnya basis petani menunjukkan daya sebar produksi pangan yang merata dan berfungsi sebagai penyangga penting ketika terjadi guncangan ekonomi atau gangguan pasokan. Di sisi lain, skala usaha yang relatif kecil menuntut perhatian berkelanjutan agar peran strategis petani tersebut dapat terus terjaga dan ditingkatkan seiring perubahan zaman.
Kebergantungan pada petani perorangan paling nyata terlihat pada subsektor tanaman pangan. Sekitar 70 persen Usaha Pertanian Perorangan (UTP) mengusahakan padi sawah, dan sebagian besar di antaranya menjadikan padi sebagai komoditas utama. Bahkan, lebih dari tiga perempat UTP tanaman pangan tercatat mengelola padi.
Fakta ini menegaskan bahwa pasokan beras nasional sangat erat kaitannya dengan keberlanjutan usaha petani kecil. Setiap upaya menjaga stabilitas pangan, baik melalui pengendalian harga, pengelolaan cadangan, maupun kebijakan distribusi, pada akhirnya bermuara pada kemampuan petani padi untuk terus berproduksi secara konsisten dan berkelanjutan.
Data sensus juga menunjukkan bahwa sebagian petani masih memanfaatkan hasil usahanya untuk konsumsi sendiri, baik seluruhnya maupun sebagian besar. Pola ini lazim dijumpai pada pertanian skala kecil dan mencerminkan fungsi ganda pertanian, tidak hanya sebagai sumber pendapatan, tetapi juga sebagai penyangga pangan rumah tangga.
Dalam konteks perdesaan, keberadaan petani perorangan menjadi lapisan pengaman sosial yang penting, terutama ketika akses terhadap pangan pasar mengalami gangguan akibat kenaikan harga atau kendala distribusi.
Pada subsektor hortikultura, petani perorangan kembali memegang peranan penting. Cabai rawit, cabai merah keriting, dan bawang merah merupakan komoditas yang paling banyak diusahakan. Selain memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan petani, komoditas hortikultura juga berpengaruh besar terhadap pergerakan harga pangan harian.
Fluktuasi produksi akibat cuaca ekstrem, serangan hama, atau hambatan distribusi sering kali tercermin langsung pada inflasi. Dengan demikian, penguatan sistem produksi, pascapanen, dan distribusi hortikultura berpotensi memberikan manfaat ganda, yakni meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga stabilitas ekonomi secara lebih luas.
Peternakan
Subsektor peternakan menunjukkan pola yang relatif serupa. Peternakan sapi potong, kambing, dan ayam kampung didominasi oleh petani perorangan dengan skala usaha terbatas. Rata-rata kepemilikan sapi potong yang hanya dua hingga tiga ekor per petani mencerminkan karakter peternakan rakyat yang fleksibel dan adaptif terhadap kondisi lokal. Sapi perah bahkan dikelola dalam skala yang lebih kecil lagi.
Pada saat yang sama, keterbatasan skala ini menjelaskan mengapa produktivitas dan efisiensi masih menjadi ruang perbaikan yang terus diupayakan melalui berbagai program pendampingan, penguatan kelembagaan, dan peningkatan kapasitas peternak.
Sementara itu, komoditas peternakan yang lebih padat modal, seperti ayam ras pedaging dan petelur, lebih banyak dikelola oleh usaha pertanian berbadan hukum. Karakter produksi yang menuntut investasi besar, teknologi modern, dan manajemen intensif membuat peran perusahaan menjadi semakin menonjol.
Pola ini menunjukkan adanya pembagian peran yang saling melengkapi antara petani perorangan dan pelaku usaha skala besar dalam memenuhi kebutuhan protein hewani nasional, sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan.
Gambaran serupa juga terlihat pada subsektor perkebunan dan perikanan. Pada perkebunan, kelapa sawit menjadi komoditas utama yang banyak diusahakan oleh perusahaan, terutama sebagai pemasok bahan baku industri pengolahan dan pasar ekspor. Di sisi lain, petani perorangan lebih banyak mengelola komoditas seperti kelapa, karet, kopi, dan cengkeh dengan skala yang lebih kecil dan berorientasi jangka panjang.
Pada subsektor perikanan, budidaya ikan dan udang, khususnya udang vaname, berkembang pesat dengan kontribusi signifikan dari usaha skala besar untuk memenuhi pasar ekspor, sementara nelayan dan pembudidaya kecil tetap menjadi penopang utama pasokan ikan bagi konsumsi domestik.
Dimensi spasial juga menjadi aspek penting dalam membaca struktur pertanian nasional. Pulau Jawa memiliki posisi yang sangat strategis. Hasil sensus pertanian menunjukkan bahwa sekitar 85 persen UTP tanaman pangan berada di wilayah ini, sedangkan UTP hortikultura dan peternakan masing-masing mencapai sekitar 60 persen.
Infrastruktur yang relatif lengkap, akses pasar yang luas, serta jaringan distribusi yang terintegrasi menjadikan Jawa sebagai lumbung pangan nasional sekaligus simpul utama sistem pangan. Namun, tingginya konsentrasi kegiatan pertanian di Jawa juga menuntut pengelolaan lahan yang semakin cermat agar kapasitas produksi pangan tetap terjaga dalam jangka panjang.
Di luar Jawa, potensi pertanian terus berkembang. Sejumlah provinsi seperti Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Aceh dikenal sebagai sentra produksi beras. Nusa Tenggara Timur dan Gorontalo menonjol sebagai penghasil jagung.
Pada subsektor peternakan, Sumatera dan Sulawesi telah menunjukkan perkembangan usaha sapi yang cukup baik, sementara NTB dan NTT memiliki peluang besar untuk pengembangan sapi, kambing, dan domba. Kawasan timur Indonesia juga memberikan kontribusi signifikan pada subsektor perikanan tangkap, bahkan menjadi salah satu sumber utama komoditas ekspor ikan laut nasional.
Keseluruhan temuan sensus BPS memberikan pesan yang konstruktif bagi perumusan kebijakan pembangunan pertanian. Ketahanan pangan Indonesia telah berdiri di atas fondasi yang kuat berupa jutaan petani perorangan dengan keragaman komoditas dan wilayah.
Tantangannya adalah memastikan fondasi tersebut terus diperkuat seiring perubahan iklim, dinamika pasar, dan transformasi ekonomi. Peningkatan produktivitas melalui adopsi teknologi tepat guna, perluasan akses pembiayaan, penguatan kelembagaan petani, serta pengembangan kemitraan yang saling menguntungkan menjadi bagian penting dari upaya memperkokoh sistem pangan nasional.
Pada akhirnya, data BPS melalui Sensus Pertanian 2023 tidak hanya menyajikan potret kondisi pertanian, tetapi juga menyediakan dasar yang kuat untuk melangkah ke depan. Dengan menjadikan data sebagai pijakan bersama, penguatan petani dapat diarahkan secara lebih tepat sasaran, sekaligus memastikan bahwa ketahanan pangan nasional terus terjaga, inklusif, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Baca juga: Menuju kemajuan bangsa sejati melalui swasembada pangan
*) Penulis merupakan statistisi dan pemerhati isu sosial ekonomi
Indikator-indikator tersebut memang penting, namun sering kali perhatian belum sepenuhnya diarahkan pada fondasi yang menopangnya, yakni struktur pelaku usaha pertanian itu sendiri.
Data Badan Pusat Statistik melalui Sensus Pertanian 2023 memberikan gambaran yang sangat jelas mengenai siapa sesungguhnya aktor utama penyedia pangan Indonesia dan bagaimana peran mereka membentuk sistem pangan nasional hingga saat ini.
Dari sekitar 29,4 juta usaha pertanian yang tercatat, lebih dari 99 persen dikelola oleh Usaha Pertanian Perorangan. Artinya, hampir seluruh produksi pangan nasional bertumpu pada jutaan petani skala rumah tangga yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia. Angka ini mencerminkan kekuatan sekaligus tantangan.
Di satu sisi, luasnya basis petani menunjukkan daya sebar produksi pangan yang merata dan berfungsi sebagai penyangga penting ketika terjadi guncangan ekonomi atau gangguan pasokan. Di sisi lain, skala usaha yang relatif kecil menuntut perhatian berkelanjutan agar peran strategis petani tersebut dapat terus terjaga dan ditingkatkan seiring perubahan zaman.
Kebergantungan pada petani perorangan paling nyata terlihat pada subsektor tanaman pangan. Sekitar 70 persen Usaha Pertanian Perorangan (UTP) mengusahakan padi sawah, dan sebagian besar di antaranya menjadikan padi sebagai komoditas utama. Bahkan, lebih dari tiga perempat UTP tanaman pangan tercatat mengelola padi.
Fakta ini menegaskan bahwa pasokan beras nasional sangat erat kaitannya dengan keberlanjutan usaha petani kecil. Setiap upaya menjaga stabilitas pangan, baik melalui pengendalian harga, pengelolaan cadangan, maupun kebijakan distribusi, pada akhirnya bermuara pada kemampuan petani padi untuk terus berproduksi secara konsisten dan berkelanjutan.
Data sensus juga menunjukkan bahwa sebagian petani masih memanfaatkan hasil usahanya untuk konsumsi sendiri, baik seluruhnya maupun sebagian besar. Pola ini lazim dijumpai pada pertanian skala kecil dan mencerminkan fungsi ganda pertanian, tidak hanya sebagai sumber pendapatan, tetapi juga sebagai penyangga pangan rumah tangga.
Dalam konteks perdesaan, keberadaan petani perorangan menjadi lapisan pengaman sosial yang penting, terutama ketika akses terhadap pangan pasar mengalami gangguan akibat kenaikan harga atau kendala distribusi.
Pada subsektor hortikultura, petani perorangan kembali memegang peranan penting. Cabai rawit, cabai merah keriting, dan bawang merah merupakan komoditas yang paling banyak diusahakan. Selain memberikan kontribusi signifikan terhadap pendapatan petani, komoditas hortikultura juga berpengaruh besar terhadap pergerakan harga pangan harian.
Fluktuasi produksi akibat cuaca ekstrem, serangan hama, atau hambatan distribusi sering kali tercermin langsung pada inflasi. Dengan demikian, penguatan sistem produksi, pascapanen, dan distribusi hortikultura berpotensi memberikan manfaat ganda, yakni meningkatkan kesejahteraan petani sekaligus menjaga stabilitas ekonomi secara lebih luas.
Peternakan
Subsektor peternakan menunjukkan pola yang relatif serupa. Peternakan sapi potong, kambing, dan ayam kampung didominasi oleh petani perorangan dengan skala usaha terbatas. Rata-rata kepemilikan sapi potong yang hanya dua hingga tiga ekor per petani mencerminkan karakter peternakan rakyat yang fleksibel dan adaptif terhadap kondisi lokal. Sapi perah bahkan dikelola dalam skala yang lebih kecil lagi.
Pada saat yang sama, keterbatasan skala ini menjelaskan mengapa produktivitas dan efisiensi masih menjadi ruang perbaikan yang terus diupayakan melalui berbagai program pendampingan, penguatan kelembagaan, dan peningkatan kapasitas peternak.
Sementara itu, komoditas peternakan yang lebih padat modal, seperti ayam ras pedaging dan petelur, lebih banyak dikelola oleh usaha pertanian berbadan hukum. Karakter produksi yang menuntut investasi besar, teknologi modern, dan manajemen intensif membuat peran perusahaan menjadi semakin menonjol.
Pola ini menunjukkan adanya pembagian peran yang saling melengkapi antara petani perorangan dan pelaku usaha skala besar dalam memenuhi kebutuhan protein hewani nasional, sekaligus menjaga keberlanjutan pasokan.
Gambaran serupa juga terlihat pada subsektor perkebunan dan perikanan. Pada perkebunan, kelapa sawit menjadi komoditas utama yang banyak diusahakan oleh perusahaan, terutama sebagai pemasok bahan baku industri pengolahan dan pasar ekspor. Di sisi lain, petani perorangan lebih banyak mengelola komoditas seperti kelapa, karet, kopi, dan cengkeh dengan skala yang lebih kecil dan berorientasi jangka panjang.
Pada subsektor perikanan, budidaya ikan dan udang, khususnya udang vaname, berkembang pesat dengan kontribusi signifikan dari usaha skala besar untuk memenuhi pasar ekspor, sementara nelayan dan pembudidaya kecil tetap menjadi penopang utama pasokan ikan bagi konsumsi domestik.
Dimensi spasial juga menjadi aspek penting dalam membaca struktur pertanian nasional. Pulau Jawa memiliki posisi yang sangat strategis. Hasil sensus pertanian menunjukkan bahwa sekitar 85 persen UTP tanaman pangan berada di wilayah ini, sedangkan UTP hortikultura dan peternakan masing-masing mencapai sekitar 60 persen.
Infrastruktur yang relatif lengkap, akses pasar yang luas, serta jaringan distribusi yang terintegrasi menjadikan Jawa sebagai lumbung pangan nasional sekaligus simpul utama sistem pangan. Namun, tingginya konsentrasi kegiatan pertanian di Jawa juga menuntut pengelolaan lahan yang semakin cermat agar kapasitas produksi pangan tetap terjaga dalam jangka panjang.
Di luar Jawa, potensi pertanian terus berkembang. Sejumlah provinsi seperti Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Lampung, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, dan Aceh dikenal sebagai sentra produksi beras. Nusa Tenggara Timur dan Gorontalo menonjol sebagai penghasil jagung.
Pada subsektor peternakan, Sumatera dan Sulawesi telah menunjukkan perkembangan usaha sapi yang cukup baik, sementara NTB dan NTT memiliki peluang besar untuk pengembangan sapi, kambing, dan domba. Kawasan timur Indonesia juga memberikan kontribusi signifikan pada subsektor perikanan tangkap, bahkan menjadi salah satu sumber utama komoditas ekspor ikan laut nasional.
Keseluruhan temuan sensus BPS memberikan pesan yang konstruktif bagi perumusan kebijakan pembangunan pertanian. Ketahanan pangan Indonesia telah berdiri di atas fondasi yang kuat berupa jutaan petani perorangan dengan keragaman komoditas dan wilayah.
Tantangannya adalah memastikan fondasi tersebut terus diperkuat seiring perubahan iklim, dinamika pasar, dan transformasi ekonomi. Peningkatan produktivitas melalui adopsi teknologi tepat guna, perluasan akses pembiayaan, penguatan kelembagaan petani, serta pengembangan kemitraan yang saling menguntungkan menjadi bagian penting dari upaya memperkokoh sistem pangan nasional.
Pada akhirnya, data BPS melalui Sensus Pertanian 2023 tidak hanya menyajikan potret kondisi pertanian, tetapi juga menyediakan dasar yang kuat untuk melangkah ke depan. Dengan menjadikan data sebagai pijakan bersama, penguatan petani dapat diarahkan secara lebih tepat sasaran, sekaligus memastikan bahwa ketahanan pangan nasional terus terjaga, inklusif, dan berkelanjutan dalam jangka panjang.
Baca juga: Menuju kemajuan bangsa sejati melalui swasembada pangan
*) Penulis merupakan statistisi dan pemerhati isu sosial ekonomi



/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F19%2F22ce297956bff456b01010041b231a3f-FAK_9712.jpg)