Sri Mulyani (65) kini bisa sedikit bernapas lega seusai sampah yang menumpuk di belakang rumahnya mulai berkurang. Sampah-sampah yang berasal dari tempat pembuangan sampah ilegal itu memenuhi sekitar tanggul Muara Baru, Jakarta Utara. Area tanggul yang dahulu menjadi tempat warga memancing dan anak-anak berenang itu berubah menjadi hamparan sampah.
Tumpukan sampah yang memenuhi area tanggul itu bermula dari lahan kosong yang digunakan sebagai tempat pembuangan sampah ilegal. Menurut Sri, lahan itu memang sudah sejak dulu dimanfaatkan sebagai tempat pembuangan puing-puing bangunan.
”Lama-lama kok malah jadi tempat segala macam sampah, seperti sampah rumah tangga sampai sampah tekstil,” ucap Sri saat menunggu warungnya di RT 020/RW 017, Muara Baru, Jakarta Utara, Senin (19/1/2026).
Tumpukan sampah ini membuat warga yang tinggal di sekitar tanggul terganggu. Warga mengeluhkan banyaknya nyamuk dan lalat setelah sampah memenuhi area tanggul. Sri khawatir kesehatan keluarganya terganggu.
Pada Minggu (18/1/2026), warga sekitar pun akhirnya melakukan protes di depan area tanggul agar sampah ilegal tidak dibuang di sekitar permukiman mereka. Dengan membawa poster dan spanduk penolakan, Sri bersama warga RT 020 yang lain kompak turun ke jalan. Massa aksi yang mayoritas ibu-ibu ini menahan sebuah truk yang akan membuang sampah ke daerah tanggul.
”Situasinya sempat panas, ada warga yang mau ngerusak truk saya tahan, karena yang salah bukan truk atau sopirnya. Dia hanya menjalankan tugas saja,” ujar Sri saat menceritakan aksi penolakan tersebut.
Sebelum adanya tumpukan sampah, area tanggul tersebut menjadi lokasi favorit para pemancing. Banyak pemancing dari luar, bukan warga RT 020, datang untuk mencari ikan. Area tanggul sering juga dimanfaatkan anak-anak sekitar sebagai tempat berenang.
Salah seorang warga RT 020, Dewi (30), menceritakan bahwa air di tanggul itu masih jernih dan ikan sangat mudah ditemukan. Bahkan, saat malam, makhluk laut kecil, seperti udang, bisa sangat mudah terlihat dari tempat tinggalnya yang berjenis rumah panggung.
”Sekitar 2005-an, tempat ini masih bersih. Bahkan, ikan-ikan berenang saja bisa langsung terlihat,” ungkapnya.
Dewi menyayangkan tumpukan sampah ini memenuhi sekitar tempat tinggalnya. Sebagai seorang ibu, Dewi mencemaskan kesehatan anak-anaknya. Nyamuk dan lalat yang selalu berdatangan ke rumahnya sulit ia cegah. Keterbatasan ekonomi juga membuat Dewi dan keluarganya tetap bertahan walau keadaan sekitar menjadi tidak ideal.
Merespons keluhan warga, Dinas Lingkungan Hidup Jakarta melalui Unit Pengelola Sampah Badan Air mulai membersihkan kawasan pesisir tanggul laut Muara Baru sejak Jumat (16/1/2026). Hingga saat ini, 137 ton sampah telah diangkut dari kawasan tanggul.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jakarta Asep Kuswanto menjelaskan bahwa pengangkutan dilakukan secara bertahap dengan peningkatan intensitas setiap hari. Ia menambahkan, pihaknya menerapkan metode khusus berupa pemasangan sekat dari material high-density polyethylene (HDPE) dan bambu. Sekat ini berfungsi menahan pergerakan sampah agar tidak menyebar ke perairan yang lebih luas sekaligus mempermudah pengumpulan dan pemuatan ke armada angkut.
”Pada hari ketiga, kami memperkuat penanganan dengan mengerahkan 100 petugas kebersihan, 12 unit ponton, tujuh unit truk sampah tipe kecil, enam unit truk tipe besar, dua unit ekskavator, serta dua unit perahu karet. Penanganan juga didukung berbagai alat bantu, seperti APD, serokan sampah, cangkrang, dan kontainer sampah untuk mempercepat pengangkutan,” ujar Asep dalam keterangan tertulisnya.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5476765/original/050705400_1768798153-IMG_9387.jpeg)
