Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengumumkan tarif 10 persen untuk barang dari negara-negara Eropa yang mendukung Denmark di tengah ambisi Trump menguasai Greenland. Hal ini sudah mendapat penolakan bahkan dari beberapa sekutu AS.
Dikutip dari Bloomberg pada Senin (19/1), Trump mengatakan tarif 10 persen itu akan berlaku mulai 1 Februari untuk Denmark, Norwegia, Swedia, Prancis, Jerman, Inggris, Belanda, dan Finlandia. Selain itu, Trump juga mengancam tarif itu akan naik menjadi 25 persen pada Juni nanti jika rencananya membeli Greenland secara penuh dan total tak kunjung mencapai kesepakatan.
“Pengenaan tarif akan melemahkan hubungan kerja sama antara Eropa dan Amerika Serikat, serta berisiko memicu situasi yang semakin memburuk dan sulit dikendalikan. Eropa akan tetap bersatu, terkoordinasi, dan berkomitmen menjaga kedaulatannya,” kata pimpinan Uni Eropa Ursula von der Leyen dan Antonio Costa.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyebut ancaman Trump tidak dapat diterima. Perdana Menteri Swedia Ulf Kristersson mengatakan ancaman tarif Trump sebagai pemerasan.
Sementara Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyebut penetapan tarif terhadap sesama anggota NATO sebagai tindakan yang keliru. Ia mengatakan akan menyinggung isu tersebut dengan AS.
Para anggota parlemen Uni Eropa kini tengah bersiap menghentikan kesepakatan dagang dengan AS yang dicapai tahun lalu. Pimpinan European People's Party (EPP), Manfred Weber, mengatakan kesepakatan dengan AS belum memungkinkan saat ini. Adapun EPP merupakan faksi terbesar di Parlemen Uni Eropa.
Saat ini, masih belum jelas landasan hukum yang akan digunakan Trump untuk menetapkan tarif. Gedung Putih belum memberi informasi detail.
Sebelumnya, Denmark mengundang sekutu NATO untuk berpartisipasi dalam kegiatan latihan di Greenland. Beberapa negara Eropa telah mengirimkan personel ke pulau tersebut. Untuk latihan itu, Denmark juga mengundang AS.
Jerman mengirim 15 tentara untuk misi eksplorasi ke Greenland, Prancis mengirim 15 tentara, Swedia mengirim beberapa perwira, Norwegia mengirim dua personel, Finlandia mengirim dua perwira penghubung, Inggris mengirim satu perwira, dan Belanda mengirim dua personel.





