FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Pesawat ATR 42-500 yang sebelumnya dilaporkan hilang kontak ditemukan Basarnas di Puncak Bukit Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan, pada Minggu (18/1). Basarnas juga menyatakan satu korban telah ditemukan.
Pesawat tersebut terbang dari Yogyakarta menuju Makassar pada Sabtu (17/1) membawa 10 penumpang. Pesawat lalu hilang kontak sekitar pukul 13.17 WITA.
Anggota Komisi V DPR RI, Hamka B Kady menyampaikan, pada dasarnya pesawat ATR 42-500 tersebut sudah siap landing. Tim navigasi juga sudah menyiapkan alur, namun pesawat tiba-tiba keluar jalur.
”Memang dalam navigasi itu, radar flig-nya, rutenya sudah ada, tapi kok bergeser. Jadi rutenya itu, berdasarkan navigasi ada di ketinggian 8.000, tapi berubah arah dan turun 5.000 meter. Nah kalau turun 5.000 di jalurnya, itu tidak masalah, tapi ini keluar jalur,” kata Hamka saat dihubungi, Senin (19/1).
Dia menduga ada dua kemungkinan yang menjadi penyebab kecelakaan ini terjadi. Pertama karena faktor cuaca yang membuat pesawat keluar jalur, dan kedua karena ada kerusakan pada pesawat.
”Apalagi ada informasi kalau pesawat itu baru saja diperbaiki. Padahal airnav bilang ketinggian 8.000 itu ideal dan sudah disiapkan jalurnya. Cuma memang waktu mau landing, cuaca agak mendung, tapi kemungkinan juga ada kesalahan dari pilot yang mengubah rute,” tuturnya.
Legislator senior Partai Golkar itu menegaskan, kejadian ini menjadi atensi untuk didiskusikan dengan Kementerian Perhubungan, terkait syarat pesawat boleh terbang atau tidak.
”Tapi menurut saya, tidak mungkin diterbangkan kalau tidak laik terbang. Rule of the game-nya kan sudah jelas. Saya khawatirnya memang di tengah jalan ini ada cuaca buruk, atau peralatannya rusak, itu masih dalam penelitian. Yang jelas, fakta yang ada menurut navigasi, alurnya sudah disiapkan tetapi keluar jalur dan turun 5000,” jelasnya.
Hamka turut menyampaikan bela aungkawa atas tragedi ini, dan berharap ke depan tidak terulang lagi. ”aya turut berduka cita kepada semua penumpang dan keluarga yang ditinggalkan, karena saat ini baru satu yang bisa dievakuasi. Kami prihatin dengan musibah ini agar tidak terjadi lagi. Kami senantiasa berupaya agar ada perbaikan terus menerus terhadap penerbangan di negeri ini,” tegasnya.
Direktur Operasional Indonesia Air Transport, Kapten Edwin menyampaikan, sehari sebelum penerbangan menuju Makassar, Jumat, 16 Januari, armada tersebut sempat mengalami kerusakan. Mereka melakukan pembenahan di Bandara Halim Perdana Kusuma, lalu terbang ke Jogja pada hari yang sama.
Perjalanan dari Halim menuju Jogja memang tidak ada kendala. Sehingga, mereka menganggap kondisi pesawat dalam keadaan normal dan layak untuk melakukan penerbangan.
”Memang ada maslah di engine kami, tapi kami sudah diperbaiki dan enggak harus kita tes. Terbukti dari Halim sampai Semarang dan Jogja tidak ada masalah. Itu di hari Jumat. Jadi semua sudah normal. Kita sudah perbaiki, jadi pesawat itu laik terbang,” jelasnya.
Diketahui, Pesawat ATR 42-500 atau Avions de Transport Regional adalah sebuah pesawat turboprop penumpang sipil (airliner) komuter regional, dengan kapasitas 42 orang penumpang. Armada ini dibuat oleh Aerospatiale Prancis dan Aeritalia (sekarang Alenia) (Italia).
Dengan mesin turboprop 1610 kW buatan Pratt & Whitney PW-127Es, dengan baling-baling 6 bilah ini mwmiliki kecepatan 563 km/jam (304 mil/jam) dengan jarak jelajah 1.850 km.
Pesawat dengan rentang sayap 24,57 meter, panjang 22,67 meter, tinggi 7,59 meter ini memiliki bobot kosong 11.250 kg dan berat maksimal saat lepas landas (take-off) 18.600 kg. (Pram/fajar)




