DEPOK, KOMPAS.com – Di tengah kepadatan lalu lintas kawasan Ratu Jaya, Depok, sebuah pelintasan kereta api tanpa palang otomatis menjadi simpul krusial pergerakan warga.
Setiap hari, motor, mobil, pejalan kaki, hingga pelajar berseliweran melintasi jalur rel aktif yang berada tepat di depan sekolah, bergantung sepenuhnya pada kewaspadaan warga penjaga swadaya.
Rel kereta api memotong jalur warga, pengendara motor, mobil, hingga pejalan kaki yang silih berganti melintas tanpa jeda.
Di lokasi ini, tak ada palang otomatis, sirene elektronik, atau petugas berseragam PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Baca juga: Cara Penjaga Parkir Stasiun Klender Tata Motor Pelanggan: Sesuai Jam Pulang
Yang ada hanyalah sebuah pos kecil, peluit, portal manual, dan beberapa orang warga yang secara bergantian berjaga demi memastikan tidak ada nyawa yang melintas sembarangan di jalur besi itu.
Pelintasan tersebut berada tepat di depan SMP Ratu Jaya dan SMK Teknindo Jaya, dua sekolah yang berada dalam satu kawasan.
Aktivitas nyaris tak pernah benar-benar berhenti. Sejak pagi hingga malam, arus warga terus mengalir, bercampur dengan lalu lintas kendaraan dan pelajar yang keluar-masuk area sekolah.
Di titik inilah Pembri (37) bersama dua warga lainnya menjalani keseharian sebagai penjaga jalan lintasan (PJL) swadaya. Mereka selalu siaga menaikkan dan menurunkan palang pintu setiap kali kereta melintas.
Tubuh Pembri tampak tegap dibalut rompi hijau stabilo. Topi lusuh menempel di kepalanya, sementara peluit dan handy talkie menggantung di dada.
Setiap kali suara kereta mulai terdengar dari kejauhan, ia segera menarik palang hingga melintang menutup akses jalan, menghentikan kendaraan dan pejalan kaki yang hendak melintas.
Motor dan mobil di kiri-kanannya perlahan menahan laju. Dari arah rel, rangkaian KRL Commuterline melintas dengan suara bergetar, membuat tanah dan kerikil di sekitarnya seolah ikut berdenyut.
Baca juga: Cerita Penjaga Parkir Stasiun Klender Baru: Digaji Rp 2,4 Juta, Tanggung Risiko Kerusakan
Di sela tugasnya, Pembri tetap menyapa siapa pun yang melintas. Ketika sekelompok siswi berseragam putih hitam mendekat untuk menyeberang, ia mengangkat tangan, memberi tanda aman.
“Sudah bel pas banget,” serunya kepada para pelajar yang hendak menyeberang.
Murid-murid itu menanggapi dengan senyum, lalu melangkah cepat melewati rel. Ransel di punggung mereka bergoyang kecil mengikuti langkah.
Tak lama kemudian, dua murid lain datang dari arah sekolah berboncengan dengan sepeda motor. Mereka berhenti sejenak di bibir rel.
“Mau ke mana, sudah bel?” tanya Pembri.
“Praktek, kami praktek di luar,” jawab keduanya sambil tertawa kecil.
Pembri mengangguk, lalu menoleh sebentar ke arah tikungan rel.
“Awas-awas, ada kereta,” katanya, memberi isyarat agar mereka segera menyeberang sebelum palang ditutup penuh.
Pelintasan sebidang yang ia jaga berada di antara Stasiun Citayam dan Stasiun Depok. Dengan mata yang selalu waspada, Pembri mengawasi pergerakan kereta sekaligus arus lalu lintas kendaraan di depan sekolah.
Baca juga: Dikira Petugas Kebersihan, Dede Sukria Justru Jadi Penjaga Selokan Secara Sukarela di Bogor
Selama 24 jam, ia dan rekan-rekannya bekerja bergantian menjaga titik rawan tersebut. Peran ini dijalaninya sejak pandemi Covid-19 pada 2020, ketika ia menggantikan pamannya yang lebih dulu menjadi penjaga palang swadaya.
Sejak saat itu, Pembri telah tujuh tahun menjaga pelintasan kereta api di kawasan Ratu Jaya.
"Sekitar tujuh tahunan, gantiin om saya gara-gara covid aja tuh," kata Pembri saat ditemui Kompas.com, Kamis (15/1/2026).
Mata yang selalu waspadaBerjaga di pos yang berdiri tepat di depan sekolah membuat Pembri harus ekstra waspada. Di tengah lalu lintas yang bergerak cepat itu, ia nyaris tak pernah benar-benar bisa duduk santai.
Meski berbincang, matanya terus bergerak, menyapu rel, jalan, dan kendaraan yang melintas. Menurutnya, kelengahan sekecil apa pun bisa berakibat fatal, terlebih karena palang pintu di perlintasan ini masih manual dan sepenuhnya bergantung pada kewaspadaan penjaga.
“Memang musti sering-sering (pantau sekitar) enggak boleh lengah biar kita ngobrol begini juga mata mah jelalatan (mantau sekitar),” kata Pembri seraya memperhatikan sekitar.
Baca juga: Imbas Banjir, KAI Batalkan Sejumlah Perjalanan Kereta Api dari Pasar Senen dan Gambir
Menurut Pembri, keberadaan penjaga bukan hanya soal membuka dan menutup palang, tetapi memastikan tidak ada pengendara yang nekat menerobos. Apalagi jalur rel berada di tikungan tajam, membuat kereta kerap datang tanpa terlihat dari kejauhan.
"Motor sama mobilnya kenceng-kenceng banget. Biar pun kami sudah tiup peluit, sudah apa. Bukannya malah pelan, dia malah kenceng," kata dia.
Perlintasan Ratu Jaya dijaga oleh tiga orang warga setempat yang bekerja secara bergantian. Sistem jaga diatur agar pelintasan tetap terpantau selama 24 jam penuh.




