jpnn.com, JAKARTA - Forum Sinologi Indonesia (FSI) menghadirkan sinolog asal Hungaria, Prof. Dr. Pal Nyiri, dalam seminar berjudul 'From Taojin To Tangping: Southeast Asia, Chinese Migration, and the Waves of China’s Re-globalisation'
Acara yang digelar di Universitas Pelita Harapan (UPH) pada 17 Januari 2026, itu membahas fenomena migrasi baru yang dipicu gaya hidup “tangping” atau rebahan atau memilih hidup santai dan menolak tekanan berlebih.
BACA JUGA: Akademisi Ingatkan Indonesia Waspadai Dampak Ekonomi dan Keamanan China
Dalam paparannya, Prof Nyiri menjelaskan bahwa perubahan pola migrasi warga China tidak lagi sekadar didorong motif ekonomi.
“Sejak 2010-an, kami melihat munculnya kelompok baru yang bermigrasi demi kualitas hidup yang lebih baik, bukan sekadar mencari penghasilan,” ujar Prof Nyiri.
BACA JUGA: China Sebut Aksi Amerika Ini Mengancam Pasar Energi Dunia
Dia menambahkan bahwa kelompok ini terdiri dari profesional urban, keluarga kelas menengah atas, hingga pengusaha.
Menurut Nyiri, pandemi Covid-19 menjadi titik balik penting dalam perkembangan fenomena yang oleh para ahli ilmu sosial dijuluki sebagai fenomena xinyimin tersebut. “Kebijakan lockdown yang sangat ketat membuat banyak warga kelas menengah atas merasa rentan,” katanya.
BACA JUGA: FSI Imbau Anggota ASEAN Bersatu dan Tegas Hadapi Provokasi China di LCS
Hal itu, lanjutnya, memengaruhi keputusan sebagian warga China untuk mencari negara dengan kontrol sosial lebih longgar seperti Thailand, Malaysia, dan Singapura.
Nyiri menegaskan bahwa tekanan hidup di kota besar turut mempercepat tren migrasi. “Biaya hidup tinggi, persaingan kerja ekstrem, dan fenomena involusi membuat banyak orang merasa tidak mungkin lagi mencapai mobilitas sosial,” paparnya.
Kondisi ini, menurut dia, mendorong makin banyak masyarakat China memilih gaya hidup tangping sebagai bentuk perlawanan pasif.
Seminar dibuka oleh Dekan FISIP UPH, Prof. Edwin M. B. Tambunan. Ia menilai kajian tersebut penting untuk memperluas perspektif publik.
“Diskusi ini membantu kami memahami bahwa masyarakat China sangat beragam dan tidak bisa dilihat dari satu sisi saja,” ujarnya dalam sambutan. Acara dipandu Ketua FSI, Dr. Johanes Herlijanto.
Ketua FSI Johanes Herlijanto menambahkan bahwa fenomena migrasi kaum rebahan menunjukkan adanya dinamika sosial yang lebih kompleks di Cina. “Ini bukan hanya soal gaya hidup, tetapi juga respons masyarakat terhadap tekanan politik dan ekonomi,” katanya.
Ia menilai fenomena ini merefleksikan ketegangan dalam hubungan negara dan warga.
Nyiri juga menyinggung meningkatnya arus keluarnya pengusaha dan pejabat kaya China sejak pengetatan regulasi pada era Xi Jinping.
“Banyak dari mereka memindahkan aset dan keluarga ke luar negeri untuk mengurangi risiko politik,” ucapnya.
Migrasi ini, menurutnya, memperlihatkan bentuk adaptasi sekaligus sikap kehati-hatian masyarakat terhadap perubahan kebijakan negara.
Melalui kegiatan ini, FSI berharap publik Indonesia dapat memahami dinamika sosial China secara lebih utuh. “
Fenomena migrasi ini menunjukkan pergulatan internal masyarakat terhadap tekanan negara dan kompetisi ekonomi,” tutup Johanes.
Ia berharap diskusi akademis semacam ini dapat terus membuka ruang dialog yang lebih luas mengenai isu-isu Asia Timur. (jlo/jpnn)
Redaktur & Reporter : Djainab Natalia Saroh



:strip_icc()/kly-media-production/medias/5414733/original/056595300_1763347294-Ivar_Jenner_Timnas_U-22-5.jpg)
