Survei BI: Harga Jual Produsen Naik, Laju Investasi Melambat pada Kuartal I/2026

bisnis.com
9 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA — Tekanan inflasi dari sisi produsen diprakirakan meningkat pada kuartal pertama 2026 seiring dengan momentum musiman Ramadan dan Idulfitri. Di sisi lain, laju investasi korporasi justru terindikasi mengalami moderasi di tengah tantangan perizinan dan suku bunga.

Berdasarkan laporan Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia (BI), tekanan harga jual pada kuartal I/2026 terindikasi meningkat dengan Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 13,65%, lebih tinggi dibandingkan realisasi kuartal IV/2025 yang tercatat sebesar 12,37%. BI menyebutkan peningkatan tekanan harga ini tidak terlepas dari pola musiman awal tahun.

"Peningkatan tekanan harga jual diprakirakan berlanjut hingga triwulan I 2026," tulis Bank Indonesia dalam laporannya, Senin (19/1/2026).

Secara sektoral, kenaikan harga jual terutama akan didorong oleh Lapangan Usaha (LU) Industri Pengolahan dengan SBT 3,41% dan LU Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan dengan SBT 2,83%. Selain itu, sektor Transportasi dan Pergudangan juga mencatatkan potensi kenaikan harga dengan SBT 0,61%, merespons peningkatan mobilitas masyarakat.

Adapun pada kuartal sebelumnya (IV/2025), kenaikan harga jual dipicu oleh naiknya biaya bahan baku dan biaya promosi yang dikeluarkan produsen untuk menangkap peluang permintaan saat momen Natal dan Tahun Baru.

Investasi Tertahan Perizinan hingga Perpajakan

Berbanding terbalik dengan tekanan harga yang diprediksi terakselerasi, kinerja investasi dunia usaha pada awal tahun depan diprediksi tidak seagresif akhir 2025.

Baca Juga

  • Bukan BUMN Tekstil, Industri Usul Dana Rp101 Triliun jadi 'Pemanis' Investasi Swasta
  • Kontribusi Investasi Asing Melemah, Indonesia Kalah Saing dengan Vietnam?
  • Rasio Investasi Asing terhadap PDB 2025 Turun, RI Mulai Kehilangan Daya Saing?

Responden survei memprakirakan kegiatan investasi pada kuartal I/2026 tetap tumbuh, namun melambat dengan SBT 6,88%. Proyeksi ini lebih rendah dibandingkan realisasi investasi pada kuartal IV/2025 yang mencatatkan SBT sebesar 9,54%.

"Pada semester I 2026, persentase responden yang berencana untuk melakukan investasi sebesar 24,69%, lebih rendah dibandingkan semester II/2025 [24,83%]," tulis laporan BI.

Kegiatan investasi terutama bersumber dari Industri Pengolahan dengan SBT 0,98%, serta Perdagangan Besar dan Eceran dengan SBT 0,90%. Mayoritas bentuk investasi diarahkan untuk pembelian atau perbaikan mesin dan alat berat, serta pembangunan pabrik dan toko.

Kendati demikian, pelaku usaha menyoroti sejumlah hambatan struktural yang menahan ekspansi bisnis pada semester I/2026. Masalah perizinan menjadi kendala utama yang dikeluhkan oleh 19,41% responden.

Selain birokrasi, beban biaya dana juga masih menjadi sorotan. Sebanyak 13,14% responden menyatakan suku bunga sebagai faktor penghambat investasi, disusul oleh masalah perpajakan yang dikeluhkan oleh 9,77% responden.

Ketidakpastian ekonomi juga membuat sebagian pelaku usaha mengambil sikap hati-hati. Sebanyak 27,72% responden menyebutkan "faktor lainnya" sebagai penghambat, yang di dalamnya mencakup sikap wait and see terhadap kondisi ekonomi.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Klasemen Liga Italia Serie A: Inter Milan terus Dibayang-bayangi
• 14 jam lalumediaindonesia.com
thumb
Viral Guru Honorer Dipolisikan Usai Tertibkan Rambut Siswa, Susno Duadji: Polri Harus Tolak Laporan
• 12 jam lalufajar.co.id
thumb
Iran Berdarah: Korban Tewas Diduga Tembus 20.000, Trump Hentikan Negosiasi dan Kirim Sinyal Perang
• 5 jam laluerabaru.net
thumb
OTT, KPK Tangkap Wali Kota Madiun
• 6 jam lalukompas.com
thumb
Trump Akan Kenakan Tarif 10% Bagi 8 Negara Eropa Pendukung Greenland
• 10 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.