FAJAR, MAROS – Tim SAR Gabungan berhasil menemukan titik koordinat jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.
Dalam pencarian intensif yang memasuki hari kedua tersebut, petugas menemukan puing-puing krusial. Mulai dari roda dan mesin. Bagian ekor pesawat juga ditemukan.
Saat ini mulai mengevakuasi korban yang ditemukan di lokasi kejadian.
Upaya evakuasi pesawat rute Yogyakarta-Makassar ini dilakukan di tengah kondisi alam yang sangat menantang.
Berada pada ketinggian 1.353 mdpl, lokasi jatuhnya pesawat merupakan perbukitan karst dengan tebing curam dan vegetasi yang sangat rapat.
Kadispenad, Brigjen TNI Donny Pramono, mengungkapkan bahwa faktor cuaca menjadi kendala terbesar bagi ribuan personel di lapangan. Sejak pagi hari, kabut tebal telah menyelimuti area dengan jarak pandang (visibilitas) hanya sekitar 5 meter.
“Selain hujan deras di siang hari, angin kencang berkecepatan hingga 22 knot terus menerjang. Namun, dedikasi tim di lapangan membuat hasil signifikan tetap tercapai,” jelas Donny dalam keterangan resminya.
Temuan Puing dan Evakuasi Korban
Berdasarkan pantauan udara pada pukul 07.17 Wita, tim darat segera bergerak menuju lokasi serpihan.
Hasilnya, badan utama dan ekor pesawat ditemukan pada jarak sekitar 300 meter dari Puncak Gunung Bulusaraung.
Komponen pesawat yang ditemukan berupa mesin, roda, ekor, dan alat pemancar sinyal darurat (Emergency Locator Transmitter/ELT).
Tim juga menemukan bagian jenazah berjenis kelamin laki-laki tidak jauh dari posisi ekor pesawat.
Guna mempercepat laporan dari titik buta sinyal, tim memasang sistem komunikasi satelit Starlink di lokasi penemuan.
Sinergi TNI AD dan Teknologi Modern
TNI AD menjadi unsur penggerak utama dalam operasi ini dengan mengerahkan personel dari Kodam XIV/Hasanuddin dan Divisi Infanteri 3 Kostrad.
Sebanyak 1.214 personel gabungan diterjunkan dengan dukungan peralatan canggih untuk mempercepat proses evakuasi.
Prajurit di lapangan dibekali dengan teknologi mutakhir.
Drone dan Night Vision Goggle (NVG) untuk pengamatan serta perangkat GPS dan Radio Taktis.
Menurunkan pula kendaraan taktis dan motor trail untuk mobilisasi di kaki gunung.
Ada alat khusus mountaineering dan gergaji listrik untuk membuka jalur di vegetasi rapat.
Hingga saat ini, proses evakuasi korban masih terus dilakukan secara bertahap melalui jalur darat, mengingat kondisi geografis yang tidak memungkinkan untuk evakuasi udara secara langsung di titik penemuan. (*)


