Bisnis.com, JAKARTA – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bicara tentang dampak nilai tukar rupiah yang terus tertekan bahkan berpotensi menembus level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) terhadap stabilitas perbankan.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyampaikan bahwa pelemahan nilai tukar merupakan salah satu risiko pasar yang harus dihadapi perbankan.
“Kita lihat ya, itu kan masuk salah satu risiko pasar yang harus kita hadapi,” kata Dian usai menghadiri rapat kerja dengan Komisi XI DPR RI di Kompleks Parlemen, Jakarta, Senin (19/1/2026).
Kendati begitu, dampaknya tidak bisa disamaratakan ke semua bank. Dian mengatakan setiap bank memiliki kondisi yang berbeda sehingga harus dinilai secara individual.
Oleh karena itu, Dian menyebut masing-masing bank tentu akan melakukan stress test untuk melihat seberapa kuat industri menghadapi tekanan nilai tukar.
Dian mengatakan, penilaian semacam ini rutin dilakukan bank, dan OJK juga ikut memantau hasilnya untuk memastikan stabilitas perbankan tetap terjaga.
Baca Juga
- Pemerintah Diminta Perkuat Kredibilitas Fiskal di Tengah Pelemahan Rupiah
- Reaksi Purbaya Soal Kurs Rupiah Dekati Rp17.000: Spekulasi, IHSG Tembus Rekor
- Rupiah Masih Lesu, Bankir Bicara Dampaknya ke Kinerja Perbankan
“Jadi saya kira itu harus di-assess individual bank seperti apa. Tentu ada semacam stresnya di mana masing-masing bank juga akan melakukan itu. Sejauh apa sih dampaknya, itu rutin biasanya mereka lakukan,” tuturnya.
Respons BankirSementara itu, Direktur Risiko, Kepatuhan, dan Hukum PT Allo Bank Indonesia Tbk. (BBHI) Ganda Raharja Rusli memastikan pelemahan nilai tukar rupiah tidak berdampak signifikan terhadap kinerja perbankan.
Ganda menuturkan, perbankan telah memastikan pemberian kredit dolar AS hanya diberikan kepada perusahaan berorientasi ekspor dengan pendapatan dalam dolar AS.
“... sehingga kondisi pelemahan rupiah memiliki dampak minimal kepada pendapatan perusahaan dan kepada pembayaran kembali kredit bank,” kata Ganda kepada Bisnis, Senin (19/1/2026).
Ganda menambahkan, bank juga telah memiliki mekanisme penyediaan dana untuk membayar beban bunga dan menghindari adanya risiko nilai tukar dalam menyediakan dana tersebut.
Kendati begitu, Ganda menyebut bahwa perbankan mewaspadai dampak lebih luas terhadap perekonomian Indonesia secara umum. Dia menjelaskan, perekonomian Indonesia masih cukup besar bergantung pada sektor konsumsi, sehingga pelemahan rupiah ini dapat berdampak pada pelemahan daya beli masyarakat dan juga penurunan pembelanjaan masyarakat.
“Hal ini dapat menimbulkan efek domino pada perekonomian Indonesia,” ujarnya.
Di sisi lain, dalam mengelola risiko nilai tukar jika rupiah menembus level Rp17.000 per dolar AS, Ganda menyebut bahwa industri mengacu pada Peraturan Bank Indonesia terkait Posisi Devisa Neto. Aturan ini bahkan telah diterapkan oleh Allo Bank.
Selain itu, lanjut dia, bank juga akan terus melakukan pemantauan sekaligus melakukan stress testing dampak nilai tukar tersebut bagi bisnis bank sekiranya pelemahan terjadi terus menerus dan berlangsung lama pada portfolio kredit bank.




