Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada perdagangan hari ini dan kian mendekati level psikologis Rp 17.000 per dolar AS. Tekanan datang dari kombinasi sentimen eksternal yang memanas serta kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal domestik.
Berdasarkan data Bloomberg, Senin (19/1) pada pukul 13.14 WIB, rupiah tercatat anjlok 39 poin atau 0,23 persen ke level 16.925 per dolar AS. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah yang sudah terjadi sejak awal pekan.
Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuabi menilai pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari faktor fiskal dalam negeri yang dinilai belum solid. Rilis terbaru mengenai kondisi anggaran negara menjadi salah satu pemicu utama gejolak di pasar valuta asing. Sebagai catata, defisit APBN 2025 mencapai 2,92 persen terhadap PDB.
“Pelemahan rupiah itu kan karena masalah fiskal ya. Fiskal itu kemarin pada saat rilis itu kan terjadi defisit. Nah ini yang membuat sebenarnya gonjang-ganjing rupiah ini mengalami pelemahan,” kata Ibrahim kepada kumparan, Senin (19/1).
Selain faktor domestik, tekanan terbesar justru datang dari luar negeri. Ketegangan geopolitik global dan eskalasi perang dagang dinilai memberikan dorongan kuat terhadap penguatan dolar AS sebagai aset aman, sekaligus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ibrahim menyoroti konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Eropa, khususnya terkait isu Greenland, yang berujung pada ancaman kebijakan tarif tinggi antarnegara. Kondisi ini diperparah dengan kebijakan proteksionisme Uni Eropa terhadap China yang berpotensi memperdalam fragmentasi perdagangan global.
Situasi politik di Amerika Serikat juga dinilai menambah ketidakpastian pasar. Pemanggilan sejumlah tokoh penting ke ranah hukum menjadi sentimen negatif tambahan yang memperbesar volatilitas global dan mendorong pelaku pasar mencari perlindungan pada dolar AS.
Dari sisi domestik, Ibrahim menilai koordinasi kebijakan antara Bank Indonesia dan pemerintah belum cukup kuat untuk meredam tekanan eksternal. Meski BI terus melakukan intervensi di pasar, upaya tersebut dinilai belum mampu menahan laju pelemahan rupiah secara signifikan.
“Ya internal sendiri kan tidak ada kesimbangan antara Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan. Bank Indonesia terus melakukan intervensi, tapi buktinya ya itu pun juga belum bisa menahan laju pelemahan penguat mata uang rupiah,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa prospek pendapatan negara yang melemah, khususnya dari sisi pajak pada 2025, menjadi faktor yang sensitif bagi pasar. Isu defisit anggaran kembali dijadikan momentum oleh pelaku pasar untuk melepas aset berdenominasi rupiah.
Dengan kombinasi tekanan tersebut, Ibrahim memperkirakan rupiah berpeluang menembus level Rp 17.000 per dolar AS dalam waktu dekat. “Ya di minggu ini, saya perkirakan Rp 17.000 kena di minggu ini,” tegasnya.
Pandangan senada disampaikan Pengamat Pasar Uang dari Investindo, Ariston Tjendra. Menurutnya, eskalasi konflik geopolitik global mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven, yang secara langsung menekan rupiah.
Isu konsentrasi pasukan Eropa di Greenland serta intervensi Amerika Serikat di Iran menjadi sentimen yang membuat investor global semakin berhati-hati. Di saat yang sama, faktor domestik seperti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang belum mencapai target juga menambah tekanan.
“Isu pertikaian geopolitik yang memanas seperti konsentrasi pasukan Eropa di Greenland untuk menghadapi AS, intervensi AS di Iran membuat dolar AS sebagai salah satu aset aman semakin menguat,” kata Ariston.
Ariston menambahkan, meskipun pemerintah dan Bank Indonesia telah menggelontorkan berbagai stimulus, pasar masih meragukan kemampuan ekonomi nasional untuk tumbuh agresif dalam waktu dekat.
“Ditambah kondisi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang belum bisa ke 6 persen meskipun sudah banyak stimulus yang diberikan pemerintah dan BI, memberikan tekanan ke rupiah,” tutur dia.
Dengan kondisi tersebut, Ariston juga membuka peluang pelemahan rupiah berlanjut hingga ke level psikologis berikutnya. “Minggu ini berpeluang ke Rp 17.000,” katanya.



