Konsep mesin rekondisi yang telah dilakukan Isuzu di Jepang kerap dipandang sebagai solusi masa depan industri otomotif berkelanjutan. Namun, penerapannya di Indonesia tidak bisa dilakukan dengan pendekatan yang sama persis.
Division Head of Business Strategy PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI), Rian Erlangga mengamini konsep bisnis mesin rekondisi sesuai dengan kebutuhan pasar Indonesia.
“Mesin rekondisi atau remanufactured engine seperti yang dijalankan Isuzu Jepang secara prinsip sangat relevan dan memiliki potensi untuk diterapkan di Indonesia,” buka Rian kepada kumparan beberapa waktu lalu.
Akan tetapi, tidak mudah untuk menerapkannya di Indonesia, lantaran berkaitan dengan regulasi. Di Indonesia, nomor mesin masih menjadi bagian dari identitas legal kendaraan bermotor yang tercatat dalam STNK dan BPKB.
Kondisi ini membuat skema engine exchange atau tukar mesin tidak sesederhana melepas mesin lama dan menggantinya dengan unit remanufaktur.
Sejatinya, skema mesin rekondisi masih bisa diterapkan untuk mobil-mobil off the road yang tidak diregistrasi untuk kebutuhan jalan raya, seperti mobil operasional di dalam perkebunan sawit atau tambang.
“Untuk kendaraan off the road, model engine exchange jauh lebih mudah diterapkan karena tidak terikat registrasi kendaraan,” katanya.
Berbeda dengan kendaraan on the road alias teregistrasi berupa BPKB dan STNK sehingga sah untuk di jalan umum. Mobil-mobil ini lebih cocok menggunakan pendekatan rekondisi komponen.
”Dari sudut pandang IAMI, arah pengembangannya sudah dimulai dari pembentukan Isuzu Truck Center melalui aktivitas remanufaktur komponen dan sub-assembly seperti injector, alternator, slack adjuster, dan transmisi,” sambungnya.
”Ini membangun fondasi teknis, kualitas, dan kepercayaan pasar,” imbuh Rian.
Karena itu, pendekatan yang paling realistis untuk pasar Indonesia saat ini adalah mengembangkan remanufaktur komponen dan engine rebuild dengan tetap mempertahankan nomor mesin asli.
Skema ini memungkinkan perbaikan menyeluruh pada mesin, mulai dari penggantian komponen internal hingga kalibrasi ulang tanpa harus mengubah identitas legal kendaraan.
Dengan pendekatan tersebut, Indonesia tetap memiliki peluang besar untuk mengadopsi konsep remanufactured engine. Bukan dengan meniru sepenuhnya praktik di Jepang, melainkan melalui skema yang disesuaikan dengan regulasi, karakter pasar, dan kebutuhan konsumen domestik.
Bisnis mesin rekondisi Isuzu JepangBerdasarkan laporan Nikkei Asia, Isuzu memperkuat bisnis mesin truk rekondisi sebagai strategi jangka panjang untuk menjaga keberlanjutan usaha sekaligus memperpanjang usia pakai kendaraan komersial.
Perusahaan menargetkan pengiriman mesin rekondisi mencapai sekitar 8.000 unit per tahun pada 2030. Target tersebut melonjak sekitar 60 persen dibandingkan volume pengiriman saat ini yang berada di kisaran 5.000 unit per tahun.
"Kita bisa membangun ulang mesin-mesin itu agar hampir setara dengan yang baru. Ketersediaan mesin-mesin hasil perbaikan ini membuat Isuzu menjadi pilihan yang lebih layak," kata Head of Business Isuzu di headquarter Hokkaido.
Seluruh proses rekondisi mesin dilakukan di fasilitas khusus Isuzu di Hokkaido, Jepang. Mesin truk bekas yang mengalami kerusakan dikirim dari berbagai wilayah untuk dibongkar sepenuhnya. Setiap komponen diperiksa, dibersihkan, dan diperbaiki, sementara bagian yang tidak memenuhi standar akan diganti.
Setelah dirakit ulang, mesin rekondisi tersebut menjalani pengujian menyeluruh dengan standar yang setara mesin baru. Langkah ini dilakukan untuk memastikan performa, daya tahan, dan keandalannya tetap terjaga sebelum kembali digunakan oleh pelanggan.
Mesin-mesin yang telah selesai direkondisi kemudian disimpan di pusat distribusi Isuzu di Tochigi. Dengan sistem ini, penggantian mesin dapat dilakukan jauh lebih cepat dibandingkan perbaikan konvensional yang memakan waktu lama.
Bagi pelaku usaha logistik dan transportasi, kehadiran mesin rekondisi menjadi solusi untuk menekan waktu downtime kendaraan. Jika perbaikan mesin biasa bisa memakan waktu lebih dari satu bulan, penggantian dengan mesin rekondisi hanya membutuhkan waktu beberapa hari hingga dua pekan.
Selain mempercepat operasional, strategi ini juga memungkinkan truk lama termasuk model yang sudah tidak lagi diproduksi tetap beroperasi secara optimal. Pendekatan tersebut sekaligus membantu menekan biaya kepemilikan kendaraan dalam jangka panjang.





