Menkes: Hipertensi Tak Terkontrol Picu Stroke dan Serangan Jantung

tvrinews.com
5 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Nisa Alfiani

TVRINews, Jakarta

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin memaparkan capaian pengendalian hipertensi nasional berdasarkan hasil program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Dari sekitar 6 juta peserta yang teridentifikasi memiliki tekanan darah tinggi, hanya 191 ribu orang yang berhasil mencapai kondisi terkontrol.

“Kita sudah coba jalankan di sejumlah puskesmas, tapi hasilnya belum maksimal. Dari 6 juta yang hipertensi, baru 191 ribu yang tekanannya terkendali,” ujar Budi saat rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (19/1/2026).

Budi mengingatkan bahwa hipertensi yang dibiarkan tanpa penanganan dapat berkembang menjadi penyakit kardiovaskular berat seperti stroke dan serangan jantung.

“Kalau dibiarkan tiga sampai lima tahun, akhirnya jadi stroke atau jantung. Padahal kalau terdeteksi dan diobati rutin, mereka bisa hidup sehat tanpa perlu dirawat di rumah sakit,” tegasnya.

Menurut Budi, penyakit kardiovaskular tetap menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Namun, pengendalian faktor risiko seperti tekanan darah, gula darah, dan kolesterol mampu menurunkan angka prevalensi secara signifikan.

“Penelitian menunjukkan, jika tiga faktor itu bisa dikendalikan, prevalensi penyakit kardiovaskular bisa turun antara 30 hingga 50 persen,” jelasnya.

Ia menjelaskan, pasien hipertensi disebut terkendali bila tidak hanya mengonsumsi obat, namun juga menjalani pemantauan teratur.

“Terkendali itu artinya minum obat tiap hari, lalu dicek lagi sebulan kemudian. Pada bulan keempat dicek lagi. Kalau dua kali hasilnya turun, kita nyatakan terkendali,” katanya.

Pemerintah menargetkan 90 persen dari 6 juta peserta hipertensi dapat masuk kategori terkendali tahun ini. Upaya peningkatan kepatuhan pasien akan didukung dengan penyediaan obat generik murah di puskesmas.

Selain tekanan darah, Budi turut menyoroti rendahnya angka peserta CKG yang berhasil mengendalikan gula darah, meski diabetes merupakan pemicu banyak penyakit kronis.
“Gula ini mother of all diseases,” ungkap Budi.

Ia menyebut, dari jutaan peserta yang gula darahnya tinggi, hanya 6.736 orang yang terkendali setelah mendapat obat seperti Metformin dan pemantauan rutin.

Budi menegaskan pemerintah akan memperkuat deteksi dini dan pengobatan berkelanjutan untuk menekan risiko stroke dan serangan jantung.

“Siapa pun yang sudah punya faktor risiko kardiovaskular akan langsung kita tangani supaya tidak masuk rumah sakit dan tidak berakhir pada komplikasi berat,” tutupnya.

Editor: Redaksi TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Presiden Iran Tegaskan Serangan terhadap Khamenei Sama dengan Deklarasi Perang
• 14 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Dokter Richard Lee Masih Sakit
• 11 jam lalujpnn.com
thumb
Terjatuh dari Kapal, Pemuda Ditemukan Tak Bernyawa
• 6 jam lalutvrinews.com
thumb
Sudirman Said Kembali Diperiksa Terkait Kasus Dugaan Korupsi Petral
• 9 jam laludetik.com
thumb
Marc Marquez Siap Lanjutkan Dominasinya di MotoGP 2026
• 2 jam lalusuarasurabaya.net
Berhasil disimpan.