Bisnis.com, JAKARTA — PT Vale Indonesia Tbk (INCO) mengklaim hanya diberi jatah 30% dari kuota produksi nikel yang diajukan dalam rencana kerja dan anggaran biaya (RKAB) tahun buku 2026.
INCO baru saja mendapat persetujuan RKAB dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Kendati demikian, anak perusahaan pelat merah itu tak memerinci berapa kuota produksi nikel yang telah disetujui.
Presiden Direktur INCO Bernardus Irmanto menuturkan, RKAB 2026 yang diajukan perseroan kepada pemerintah demi mendukung operasional tambang dan pabrik pengolahan nikel.
“Saat ini, kami sudah memperoleh approval atau persetujuan atau pengesahan RKAB. Namun demikian, kuota yang diberikan kepada PT Vale sekitar 30% dari apa yang kami minta. Kemungkinan besar tidak akan bisa memenuhi komitmen-komitmen kami terhadap pabrik-pabrik yang tadi saya jelaskan di atas," tutur Bernardus dalam rapat dengar pendapat bersama Komisi XII DPR RI, Senin (19/1/2026).
Menurutnya, kuota produksi yang minim tersebut dinilai tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan bijih nikel bagi proyek-proyek perusahaan.
Padahal, INCO tengah membutuhkan pasokan yang besar untuk tiga proyek hilirisasi utama yang sedang berjalan di Sulawesi Selatan, Sulawesi Tengah, dan Sulawesi Tenggara.
Adapun, ketiga proyek itu seperti Indonesia Growth Project (IGP) Pomala di Sulawesi Tenggara, IGP Sorowako di Sulawesi Selatan, dan IGP Morowali di Sulawesi Tengah.
Bernardus menuturkan, kinerja produksi INCO sejatinya sangat positif. Dalam paparannya, dia menjabarkan kemajuan positif dalam produksi nikel matte, mencapai 66.848 ton hingga November 2025. Angka itu meningkat 3% secara tahunan (year-on-year/yoy).
Adapun, sepanjang tahun berjalan, total penjualan matte mencapai 67.351 ton, mencerminkan pertumbuhan sebesar 2% yoy.
Perusahaan juga mencatat kemajuan signifikan dalam ekspansi kegiatan komersial tahun ini melalui keberhasilan penjualan bijih nikel saprolit (kadar tinggi) dari wilayah Pomalaa dan Bahodopi. Hingga November 2025, total penjualan bijih nikel saprolit mencapai 1.905.740 wmt.
Berdasarkan realisasi produksi itu, INCO mencatatkan pendapatan sebesar US$902 juta atau setara Rp15,03 triliun (asumsi kurs Rp16.971 per US$) per November 2025.
"Produksi nikel matte itu melebihi bujet yang dicanangkan di tahun 2025. Demikian juga penjualan ore sampai dengan akhir tahun itu juga melebihi bujet yang dicanangkan di tahun 2025," ucap Bernardus.
Sebelumnya, INCO mengumumkan RKAB 2026 telah disetujui Kementerian ESDM pada Kamis (15/1/2026). Saat itu, Bernardus menuturkan bahwa persetujuan ini menegaskan kembali kepastian operasional perusahaan dan kelanjutan investasi jangka panjang.
Dia menegaskan, operasional segera dijalankan secara optimal guna mengejar ketertinggalan akibat penghentian sementara yang sebelumnya dilakukan. Pihaknya pun menyambut baik kepastian ini sebagai fondasi penting untuk menjaga disiplin produksi, tata kelola yang baik, serta keberlanjutan industri nikel nasional.
“Dengan dasar perizinan yang lengkap, seluruh kegiatan kami kini berjalan kembali secara normal, patuh, dan berkelanjutan,” ujar Bernardus melalui keterangan resmi.
Adapun, persetujuan RKAB 2026 merupakan implementasi kebijakan pemerintah yang kembali menerapkan mekanisme persetujuan RKAB tahunan. Ketentuan ini menggantikan skema sebelumnya yang berbasis tiga tahunan secara terintegrasi dengan perizinan dasar lainnya.
Bernardus menyebut, dengan berlakunya RKAB 2026, perusahaan akan melanjutkan rencana operasional dan produksi sesuai dengan persetujuan yang diberikan, serta memastikan kesinambungan pasokan bagi industri pengolahan dan pemurnian nasional.
Baca Juga
- Vale (INCO) Bukukan Pendapatan Rp15,03 Triliun per November 2025
- RKAB 2026 Disetujui ESDM, Vale (INCO) Ngebut Operasi & Investasi
- RKAB Vale (INCO) Disetujui ESDM, Perusahaan Fokus Pulihkan Operasi




