Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa buka suara terkait rupiah yang kian mendekati level psikologis Rp 17.000 per dolar AS. Menurut dia, rupiah akan bergantung pada fundamental ekonomi, maka ia optimistis sebentar lagi rupiah akan kembali menguat.
Adapun Purbaya optimistis karena Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat ke level 9.133 sehingga ia melihat akan banyak suplai dolar AS yang masuk.
“Anda lihat IHSG berapa? all time high kan? 9.133. Kalau indeks naik ke situ pasti ada flow asing masuk ke situ juga, kan? Enggak mungkin domestik sendiri yang bisa mendorong itu ke level yang seperti itu. Jadi tinggal tunggu waktu aja rupiahnya menguat juga. Karena suplai dolar akan bertambah,” kata Purbaya ditemui di Gedung DPR, Jakarta Selatan pada Senin (19/1).
Terkait apakah melemahnya rupiah memiliki kaitan dengan isu terpilihnya Wamenkeu sekaligus keponakan Presiden Prabowo Subianto yakni Thomas Djiwandono yang dikabarkan akan menjadi kandidat deputi Gubernur Bank Indonesia (BI), Purbaya melihat hal itu hanya spekulasi.
“Jadi ini mungkin sebagian spekulasi ketika Thomas akan ke sana, wah orang spekulasi dia akan independensinya hilang. Saya pikir enggak akan begitu. Nanti kalau sudah insyaf juga langsung menguat lagi Rupiah karena fondasi ekonominya kita akan jaga supaya semakin membaik ke depan, pertumbuhan ekonomi akan semakin cepat,” ujarnya.
Sebelumnya, berdasarkan data Bloomberg, Senin (19/1) pada pukul 13.14 WIB, rupiah tercatat anjlok 39 poin atau 0,23 persen ke level 16.925 per dolar AS. Pelemahan ini memperpanjang tren negatif rupiah yang sudah terjadi sejak pekan lalu.
Pengamat Pasar Uang Ibrahim Assuabi menilai pelemahan rupiah tidak bisa dilepaskan dari faktor fiskal dalam negeri yang dinilai belum solid. Rilis terbaru mengenai kondisi anggaran negara menjadi salah satu pemicu utama gejolak di pasar valuta asing. Sebagai catatan, defisit APBN 2025 mencapai 2,92 persen terhadap PDB.
“Pelemahan rupiah itu kan karena masalah fiskal ya. Fiskal itu kemarin pada saat rilis itu kan terjadi defisit. Nah ini yang membuat sebenarnya gonjang-ganjing rupiah ini mengalami pelemahan,” kata Ibrahim kepada kumparan, Senin (19/1).
Selain faktor domestik, tekanan terbesar justru datang dari luar negeri. Ketegangan geopolitik global dan eskalasi perang dagang dinilai memberikan dorongan kuat terhadap penguatan dolar AS sebagai aset aman, sekaligus menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.
Ibrahim menyoroti konflik geopolitik yang melibatkan Amerika Serikat dan Eropa, khususnya terkait isu Greenland, yang berujung pada ancaman kebijakan tarif tinggi antarnegara. Kondisi ini diperparah dengan kebijakan proteksionisme Uni Eropa terhadap China yang berpotensi memperdalam fragmentasi perdagangan global.
Pandangan senada disampaikan Pengamat Pasar Uang dari Investindo, Ariston Tjendra. Menurutnya, eskalasi konflik geopolitik global mendorong penguatan dolar AS sebagai aset safe haven, yang secara langsung menekan rupiah.
Isu konsentrasi pasukan Eropa di Greenland serta intervensi Amerika Serikat di Iran menjadi sentimen yang membuat investor global semakin berhati-hati. Di saat yang sama, faktor domestik seperti pertumbuhan ekonomi Indonesia yang belum mencapai target juga menambah tekanan.
“Isu pertikaian geopolitik yang memanas seperti konsentrasi pasukan Eropa di Greenland untuk menghadapi AS, intervensi AS di Iran membuat dolar AS sebagai salah satu aset aman semakin menguat,” kata Ariston.
Ariston menambahkan, meskipun pemerintah dan Bank Indonesia telah menggelontorkan berbagai stimulus, pasar masih meragukan kemampuan ekonomi nasional untuk tumbuh agresif dalam waktu dekat.





