TNI Bangun Jembatan Darurat Pulihkan Akses di Wilayah Bencana Aceh

tvrinews.com
3 jam lalu
Cover Berita

Penulis: Redaksi TVRINews

TVRINews, Jakarta 

Pemerintah bersama TNI terus bergerak cepat memulihkan infrastruktur pasca-banjir bandang yang melanda sejumlah wilayah di Aceh. Salah satu fokus utama adalah membuka kembali akses jalan dan jembatan yang terputus, agar mobilitas warga dan distribusi logistik dapat berjalan normal.

Komandan Batalyon Zeni Tempur (Danyon Zipur) 16, Letkol CZI Rudy Haryanto, menyebut bahwa dari data posko penanganan bencana, terdapat sekitar 492 jembatan di Aceh yang rusak atau terputus akibat banjir. Kerusakan ini bervariasi, mulai jembatan permanen hingga jembatan gantung.

“Dari total tersebut, prioritas kami adalah jembatan nasional dan jalur alternatif yang paling cepat menghubungkan daerah terisolasi, seperti Bener Meriah dan Takengon,” ujar Rudy dalam keterangan tertulis, Senin, 19 Januari 2026

Tantangan di Lapangan

Pembangunan jembatan darurat menghadapi berbagai kendala. Banyak jembatan tertutup material banjir berupa kayu, puing rumah, bahkan ada yang hanyut sepenuhnya. Di beberapa lokasi, jembatan masih berdiri, tetapi akses jalan menuju jembatan tergerus aliran sungai yang meluap.

Rudy mencontohkan kondisi di Teupin Mane, Bireuen. Sungai yang sebelumnya memiliki lebar 120 meter melebar menjadi 180 meter setelah banjir. 

“Tantangannya adalah membersihkan wilayah kerja terlebih dahulu, lalu mempersiapkan pemasangan jembatan darurat agar jalur yang terputus bisa segera digunakan,” jelasnya.

Respons Cepat TNI

Sejak banjir terjadi pada 26 November 2025, personel TNI di wilayah langsung melakukan pemantauan. Begitu air mulai surut, Kodim setempat bekerja sama dengan masyarakat dan pemerintah daerah membersihkan puing-puing yang menutupi jalan dan jembatan. Batalyon Zipur 16 yang bermarkas di Banda Aceh mulai masuk ke lokasi awal Desember untuk menyiapkan jembatan pengganti.

Dalam kondisi terbatas alat berat, prajurit mengandalkan tenaga manusia, dibantu alat berat dari pemerintah daerah dan Kementerian PU untuk mempercepat pembersihan material yang tersangkut di jembatan.

“Perintah kami jelas, segera membangun jembatan. Sebelumnya, warga harus menyeberang sungai menggunakan sampan, bahkan ada yang mengandalkan tali dan keranjang. Melihat kondisi itu, kami terdorong untuk bekerja cepat,”ungkapnya.

Pengerjaan 24 Jam dan Kolaborasi Lintas Instansi

Prajurit bekerja siang dan malam dengan sistem shift 24 jam untuk memastikan jembatan dapat segera digunakan masyarakat. Salah satu lokasi tersulit adalah Jembatan Teupin Reudeup di Awe Geutah, jalur strategis Bireuen–Lhokseumawe. Keterbatasan ruang kerja dan kombinasi material lama menuntut improvisasi agar jembatan tetap aman dilalui.

Rudy menekankan, keberhasilan pembangunan jembatan tak lepas dari kerja sama lintas instansi, termasuk dukungan BPJN Aceh dan Kementerian PUPR dalam penyediaan material dan logistik.

“Semua saling mendukung, sehingga logistik tercukupi dan anggota dapat melaksanakan pemasangan jembatan dengan lancar,”pungkasnya.

Editor: Redaktur TVRINews

Komentar
1000 Karakter tersisa
Kirim
Komentar

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Ikan yang Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup bagi Pencinta Seafood
• 15 jam lalubeautynesia.id
thumb
KPK Pastikan Bupati Pati Sudewo Terjaring OTT!
• 4 jam lalusuara.com
thumb
Banjir Mulai Surut, Aktivitas Warga Bekasi Kembali Normal
• 3 jam lalumetrotvnews.com
thumb
Purbaya Respons Wamenkeu Thomas Diusulkan Jadi Deputi Gubernur BI: Saya Dukung
• 4 jam lalukumparan.com
thumb
PGN Salurkan Gas 881 BBTUD Selama Nataru
• 6 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.