Nilai tukar dolar AS kian mendekati Rp 17.000. Bagi banyak sektor perekonomian yang bergantung pada impor, kondisi ini merupakan mimpi buruk. Namun, bagi sektor lain, justru muncul potensi peningkatan pendapatan, salah satunya pariwisata.
Hingga Senin (19/1/2026), kurs dolar AS terhadap rupiah tercatat masih bertengger di kisaran Rp 16.900. Tren kenaikan dolar ini telah berlangsung sejak awal Desember 2025, kala nilainya masih Rp 16.700.
Bagi dunia pariwisata, kenaikan nilai tukar dolar AS ini akan meningkatkan daya tarik Indonesia di mata pelancong asing. Alasannya, kondisi tersebut membuat daya beli wisatawan mancanegara atau wisman menguat di Indonesia.
Sekretaris Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (Asita) DI Yogyakarta Sri Mujiyati, Senin, mengungkapkan, bagi pelaku usaha pariwisata inbound (melayani kunjungan wisman di Indonesia), hal ini menguntungkan.
Yogyakarta sebagai salah satu destinasi wisata populer di Tanah Air bagi wisman pun berpotensi menikmati lonjakan kunjungan. “Ini bisa menjadi potensi daya tarik wisman untuk berkunjung ke Yogyakarta,” ujarnya.
Namun, dia menyebut, saat ini masih terlalu dini untuk menilai bagaimana penguatan nilai tukar dolar AS itu akan berdampak terhadap kunjungan wisman. “Kebanyakan wisman berlibur di musim panas (pertengahan tahun),” tuturnya.
Adanya eskalasi politik global bisa menjadi faktor yang menghambat minat bepergian wisman, terutama bagi wisatawan asal Eropa.
Selain itu, Sri mengungkapkan, biaya yang menjadi relatif lebih rendah untuk berwisata ke Indonesia bukan sebagai satu-satunya faktor pertimbangan wisman. Sejumlah faktor lain turut mempengaruhi.
Menurut dia, adanya eskalasi politik global bisa menjadi faktor yang menghambat minat bepergian wisman, terutama bagi wisatawan asal Eropa. Hal ini di antaranya perang Rusia-Ukraina dan ketegangan AS-NATO.
Kondisi tersebut bukan hanya menimbulkan ketidakpastian politik, tetapi juga telah menyebabkan peningkatan biaya hidup warga di Eropa. Hal ini ditambah lagi dengan kelesuan global yang sedang terjadi.
Terlepas dari itu, dia menambahkan, ada potensi untuk menarik wisman dari Asia, meski sedang ada konflik Thailand-Kamboja. Namun, tantangan yang harus dihadapi adalah persaingan dengan Vietnam, yang menawarkan destinasi “lebih murah” daripada ke Indonesia.
Untuk itu, menurut Sri, implementasi pariwisata berkualitas (quality tourism) dan konsep pariwisata yang berkelanjutan (sustainable tourism) menjadi kunci penting guna menarik minat wisman. “Promosi pariwisata juga perlu dioptimalkan,” katanya.
Selain itu, pemerintah juga bisa memberi insentif kepada para pelaku usaha pariwisata hingga meningkatkan kapasitas sumber daya manusia pariwisata melalui pelatihan atau lokakarya kepariwisataan.
Secara terpisah, Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) DIY Bobby Ardyanto Setyo Ajie mengungkapkan, ada peluang kunjungan wisman meningkat di tengah menguatnya nilai tukar dolar AS ini. Daya tarik Indonesia dibandingkan negara-negara tujuan wisata lainnya di Asia Tenggara pun terdongkrak karena biaya wisatanya menjadi relatif lebih murah.
Namun, dia menyebut, kenaikan kurs dollar AS juga akan berdampak pada naiknya biaya sejumlah sektor penunjang pariwisata. Hal ini salah satunya adalah avtur atau bahan bakar pesawat.
Tapi, semua wisatawan happy karena kualitas destinasi menarik dan memberi experience bagi mereka.
“Itu yang perlu diperhatikan. Harapannya ini tidak mendorong inflasi. Perlu kehati-hatian agar perubahan nilai tukar rupiah ini bisa memberikan dampak positif ke wisman,” katanya.
Bobby juga mengungkapkan, pemerintah harus memanfaatkan momentum ini untuk sekaligus membenahi pariwisata agar wisman yang datang memiliki kesan yang baik. Seperti Sri, dia berharap quality tourism bisa digencarkan di Indonesia, termasuk DIY.
Hal tersebut, misalnya, telah dilakukan Thailand. Bobby mengatakan, negara itu tidak lagi berfokus pada kuantitas wisatawan, tapi kualitasnya. Obyek-obyek wisata pun dibenahi untuk menonjolkan aspek interaksi dan aktivitas wisatawan agar mereka menikmati pengalaman baru.
“Kalau melihat harga tiket obyek-obyek wisata di Thailand, rata-rata berkisar 500-600 baht (Rp 270.000-Rp 325.000), jauh lebih tinggi dari di Indonesia. Tapi, semua wisatawan happy karena kualitas destinasi menarik dan memberi experience bagi mereka,” ucapnya.
Karena ini pula, kata Bobby, destinasi wisata di Thailand bisa ramai sepanjang tahun, bukan hanya pada musim-musim tertentu saja. “Untuk meningkatkan demand (permintaan), kita harus memperkuat daya tarik wisatanya, salah satunya dari kualitas produk tadi,” ujarnya.



