Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan masalah kesehatan mental pada anak dan remaja dipicu oleh penggunaan gawai berlebihan serta perundungan.
“Kalau kita lihat kan yang paling banyak tuh anxiety sama depresi. Kalau anxiety tuh kayak cemas gitu ya. Kalau depresi ya itu yang benar-benar harus [ditangani]. Beberapa perlu obat,” kata Budi usai di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (19/1).
“Di anak-anak ditemukan banyak. Tadi dibilang kan penyebabnya apa? Nah, itu sekarang sedang kita cari. Ada yang disebabkannya kebanyakan pakai gadget, ada juga di sekolahnya di-bully gitu ya,” lanjutnya.
Budi mengatakan, pemerintah saat ini masih terus menelusuri penyebab pasti meningkatnya gangguan kesehatan mental pada anak dan remaja.
Namun, pihaknya memilih untuk terlebih dahulu memperkuat skrining agar kasus-kasus tersebut dapat terdeteksi.
“Nah, itu sekarang sedang kita cari. Tapi yang penting buat Kemenkes sekarang kita skrining dulu aja. Pasti nanti akan ketemu, nggak usah kaget. Kan lebih baik ketemu daripada nggak ketemu,” ujar Budi.
“Kalau dulu kan kita nggak tahu kalau kita punya masalah itu. Sekarang kita tahu bahwa masalah kesehatan jiwa ternyata cukup banyak,” sambung dia.
Dari hasil skrining tersebut, pemerintah mulai menyusun kebijakan dan menyiapkan tata laksana penanganan kesehatan jiwa, baik melalui pengobatan maupun konseling.
“Dan dari situ, kita sudah mulai menghitung, bikin kebijakan. Ini skriningnya sudah ketahuan banyak, nah harus ada tata laksananya kan. Harus ada tindakannya. Nah, tindakannya itu dua kan. Kalau penyakit biasa kan dikasih obat, kalau jiwa kan ada juga mesti konseling ya,” jelas Budi.
Untuk mendukung penanganan tersebut, Kementerian Kesehatan juga menyiapkan tenaga khusus kesehatan jiwa di fasilitas layanan primer.
“Nah, itu tenaganya sudah kita persiapkan. Tadi sudah dihitung, supaya mulai tahun depan kita isi tuh 10.000 Puskesmas secara bertahap ada tenaga kesehatan khusus yang bisa menangani masalah kesehatan jiwa,” tuturnya.
Budi menjelaskan, sebagian besar kasus gangguan mental pada anak dan remaja berupa kecemasan atau anxiety yang penanganannya lebih banyak melalui konseling.
Sementara itu, untuk kasus depresi yang lebih berat, pengobatan menjadi salah satu langkah yang ditempuh pemerintah dengan menambah anggaran obat kesehatan jiwa.
“Kalau dia sudah depresi, nah itu yang baru dikasih obat. Nah, untuk begitu kita lihat juga depresinya kan tinggi, di dewasa tadi tinggi. Itu anggaran untuk obat-obatannya juga sudah kita naikkan lima kali lipat. Kita bagi ke semua Puskesmas,” tandasnya.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5477120/original/068290900_1768809455-IMG-20260119-WA0009__1_.jpg)