Di bawah terik matahari Surabaya, seorang pria lanjut usia berdiri tegak di tepi rel kereta api. Topi caping di kepalanya ditahan erat agar tak terbang diterpa angin.
Setiap kali kereta melintas, Kasi (72 tahun) memastikan kendaraan berhenti agar penumpang di dalamnya selamat. Pekerjaan sebagai penjaga palang pintu sukarela itu sudah ia lakukan tanpa lelah selama 35 tahun.
"Mulai tahun 1991 (jadi relawan penjaga palang pintu). (Jaga dari) jam 12.00 WIB sampai nanti jam 16.00 WIB," kata Kasi saat ditemui di lokasi, Senin (19/1).
Sekitar tiga menit palang itu diturunkan. Kemudian, tangannya perlahan membuka. Motor hingga mobil dari dua arah langsung berebut melintasi rel kereta api di Jalan Manunggal Kebonsari.
Kasi mengatakan, dulunya perlintasan rel kereta api di Jalan Manunggal Kebonsari ini tidak memiliki palang pintu sama sekali. Hingga tiga tahun terakhir, Dinas Perhubungan (Dishub) memasang palang besi manual.
"Palang ini hampir sudah 3 tahunan langsung dipasang sama dishub. Iya, manual," ucapnya.
Bapak dua anak ini mengatakan banyak suka duka sebagai relawan penjaga palang pintu kereta api selama 35 tahun.
"Suka-dukanya kalau saya tutup itu yang lewat itu manut (nurut) yang jaga itu saya senang. Kalau bobol saya yang susah," katanya.
"Kadang iya (pengendara maju-maju menerobos), kadang ada kereta api dekat bobol, itu yang bahaya. Padahal masih jauh bisa saya tutup," imbuhnya.
Namun, sejauh ini, Kasi mengaku belum pernah ada kecelakaan di perlintasan rel kereta api itu. Sebab, ia selalu mengimbau kepada pengguna jalan untuk menjaga keselamatan dan mendahulukan kereta api yang lewat.
"Kalau saya enggak pernah (ada peristiwa kecelakaan). Saya kasih tahu ada kereta api saya tutup jangan sampai bobol harus nunggu sebentar," ujar dia.
Selain itu, relawan penjaga palang pintu kereta api di kawasan ini juga bergiliran berjaga selama 24 jam penuh. Termasuk saat hari raya, mereka tetap bergiliran menjaga perlintasan tersebut, termasuk Kasi.
"24 jam, jadi kayak saya ini jam 4 pulang, jam 4 ada lagi sampai jam 7, jam 7 ada lagi sampai jam 10, jam 10 ada lagi sampai pagi. Ada yang ganti lagi. Iya, enggak pernah absen. Kalau absen kalau sakit itu temannya dibilangin dulu. Hari raya tetap, enggak ada yang gak jaga," katanya.
Penghasilan Kasi sebagai relawan penjaga palang pintu kereta api ini juga hanya mengandalkan sumbangan dari orang yang melintas. Ia mengaku juga mencari tambahan lain sebagai buruh cuci mobil setiap paginya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
"Kalau penghasilan enggak tentu soalnya sukarela. Kadang ya dapat Rp 80 ribu, kadang ya Rp 70 ribu. Jam 12.00 WIB sampai jam 16.00 WIB. Kadang kalau bagus bisa Rp 100 ribu. Tapi jarang, gak tiap hari. Ada (pekerjaan lain), kalau pagi cuci mobil," kata dia.
Bagi Kasi, menjaga palang pintu bukan sekadar rutinitas. Di setiap palang yang ia turunkan, ada tanggung jawab dan harapan agar semua orang bisa pulang dengan selamat.


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5476405/original/071795300_1768745505-Banjir_Jakut.jpeg)