Oleh: Intan Nur Aini
Magang Fajar, Unhas
Deru air terjun terdengar semakin jelas saat mendekati kawasan Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, Kabupaten Maros. Udara sejuk menyambut para pengunjung yang datang dari berbagai daerah. Bantimurung bukan sekadar destinasi wisata alam, melainkan ruang hidup yang menyimpan cerita panjang tentang keindahan dan kekayaan alam Sulawesi Selatan.
Dikenal sebagai “Kerajaan Kupu-Kupu”, Bantimurung pernah memikat perhatian ilmuwan dunia, Alfred Russel Wallace, yang menemukan ratusan spesies kupu-kupu di kawasan ini. Hingga kini, warna-warni kupu-kupu yang beterbangan bebas menjadi pemandangan khas yang sulit ditemui di tempat lain. Keberadaan mereka menjadi simbol keseimbangan alam yang masih terjaga.
Tak hanya kupu-kupu, Bantimurung juga menawarkan pesona alam lain seperti air terjun yang megah, gua-gua karst yang eksotis, serta tebing batu kapur yang menjulang tinggi. Setiap sudutnya menghadirkan pengalaman berbeda, mulai dari wisata keluarga hingga petualangan bagi pecinta alam. Keunikan inilah yang menjadikan Bantimurung sebagai salah satu ikon pariwisata Sulawesi Selatan.
Saat saya tiba di loket masuk Taman Nasional Bantimurung, biaya tiket menjadi hal pertama yang saya cek sebelum menjelajah lebih jauh. Untuk masyarakat lokal, harga tiket masuk biasanya sekitar Rp25.000-30.000 per orang, tergantung hari kunjungan, sementara pengunjung lokal lebih muda atau rombongan sering mendapatkan tarif yang lebih rendah. Biaya ini sudah memberi akses ke area utama air terjun, gua, serta penangkaran kupu-kupu yang jadi daya tarik utama.
Saat saya pertama kali masuk ditempat ini, suasana sejuk langsung menyambut saya, tempatnya luas dan dingin diiringi dengan suara air di kiri dan kanan saya membuat saya tidak sabar sampai diujung jalan yaitu di air terjunnya. Di beberapa sisi ada beberapa makanan ringan yang dijual oleh pedagang disana. Kolam renang kecil di sebelah kanan saya dan gua kecil di sisi kiri membuat tempat ini semakin indah.
Langkah kaki saya terhenti saat kami sekeluarga sudah sampai pada tempat air terjun ditempat ini, kami mengambil tempat di sisi kanan dan melebarkan karpet serta mengeluarkan beberapa makanan kami untuk dimakan bersama nantinya, pada saat kami sudah bermain air di air terjun itu. Airnya yang masih bersih, dingin, dan tidak ada campuran apapun membuat tubuh kami langsung segar, batu-batu kecil yang sering terkena air membuatnya banyak yang sudah berlumut.
Setelah cukup lama bermain air, kami kembali ke tempat beristirahat untuk menikmati makanan yang telah disiapkan. Di sekitar area air terjun, pengunjung lain juga terlihat melakukan aktivitas serupa bersama keluarga maupun teman. Suasana terasa ramai, namun tetap nyaman karena area wisata yang cukup luas. Anak-anak bermain di tepian air, sementara orang dewasa memilih duduk bersantai menikmati suasana alam.
Bagi masyarakat sekitar, kawasan wisata Bantimurung menjadi sumber penghidupan. Sejumlah warga membuka usaha kecil seperti berjualan makanan, menyewakan tikar, hingga menawarkan jasa pemandu wisata. Kehadiran wisatawan memberikan dampak ekonomi sekaligus menuntut kesadaran bersama untuk menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
Kunjungan ke Bantimurung memberikan pengalaman wisata alam yang lengkap, mulai dari keindahan air terjun, kekayaan hayati, hingga suasana yang cocok untuk wisata keluarga. Dengan pengelolaan yang baik dan kesadaran pengunjung dalam menjaga lingkungan, Bantimurung diharapkan tetap menjadi destinasi wisata unggulan di Sulawesi Selatan dan dapat dinikmati sampai seterusnya. (*/)




