Tos, Komunikasi Nonverbal yang Santai

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Seekor anak kucing berbulu oranye dengan sedikit campuran putih di bagian dadanya membuat gerakan yang begitu menggemaskan. Binatang mungil itu kira-kira usianya baru dua bulanan. Di atas salah satu boks turnstile subway sebuah bandara. Agaknya di Turki, yang masyarakatnya memberi toleransi tinggi kepada hewan mungil dengan suara yang tidak selalu membentuk bunyi meong yang jelas itu berada di ruang publik. Saya berani mengatakan demikian, karena dahulu pernah punya seekor kucing betina berbulu belang hitam putih yang suaranya hanya terdengar “aakk ..” pendek pendek.

Nah, anak kucing yang agaknya sangat friendly itu, tampak melalui video yang tersaji pada salah satu unggahan di FaceBook, melakukan tos kepada setiap orang yang masuk melewati boks turnstile subway tempatnya menongkrong dengan begitu enjoy. POV alias point of view yang tertulis “This Sweet Kitten Is High-Fiving Everyone on the Subway”. Setelah itu berderet delapan tagar: #CuteKitten, #HighFiveKitty, #SubwayCute, #WholesomeMoments, #DailySmile, #ViralPets, #CuteAnimals, #RandomKindness.

High Five atau Tos

Kiut sekali pokoknya. Layaknya manusia, anak kucing itu, seperti tercantum pada salah satu tagar, telah melakukan high five. Untunglah penyebutan ini tepat, karena kucing memang memiliki masing-masing lima jari untuk kaki depan (bisa disebut tangan saat binatang itu duduk) dan empat jari untuk masing-masing kaki belakangnya. Jadi, sudah tepat dikatakan high five. Atau, padanannya “tos telapak tangan”.

Begitulah anak kucing itu, sembari duduk manis, mengangkat tangan kanannya. Dan, ia pun menepukkan telapak tangannya itu kepada tiap orang yang melewati boks turnstile subway tempatnya, seolah dia hendak berkata dalam bahasa Turki, “Havaalanına hoş geldiniz. Allah yolculuğunuzu korusun, varış noktanıza sağ salim ulaşın" (“Selamat datang ke bandara. Semoga Allah melindungi perjalanan Anda hingga tak kurang sesuatu apa pun hingga tiba di tempat tujuan”).

Gerakan anak kucing itu, seperti manusia yang melakukan gestur fisik berupa tepukan tangan sebagai ungkapan salam. Dalam bahasa Inggris, ini disebut high five. Suatu tindakan sosial ketika dua orang mengangkat tangan dengan posisi telapak terbuka di udara setinggi kepala atau bahu. Kemudian saling menepukkan telapak tangan pada waktu yang bersamaan.

Dengan perkataan lain yang lebih sederhana, high merujuk pada posisi tangan yang terangkat tinggi setara dengan kepala atau bahu. Adapun five merujuk pada lima jari telapak tangan yang saling beradu. Konon momentum high five pertama yang terdokumentasi, adalah kejadian yang berlangsung dalam olahraga bisbol.

Saat itu 2 Oktober 1977. Johnnie B “Dusty” Baker Jr (lahir 15 Juni 1949), kala itu 32 tahun, memperkuat Los Angeles Dodgers di salah satu musim reguler Major League Baseball (MLB). Ketika itu, menghadapi Houston Atros. Dusty Baker mampu mencetak home run ke-30 dalam bentang kariernya sebagai pemain profesional hingga titimangsa itu.

Rekan satu timnya, Glenn Lawrence Burke (16 November 1952 - 30 Mei 1995), waktu itu berusia 25 tahun, menyambutnya dengan mengulurkan tangan setinggi kepala mendapat balasan dari Dusty Baker dengan tepukan telapak tangannya pada telapak tangan rekan setimnya itu. Inilah high five pertama yang tercatat dalam sejarah.

Mengingat keduanya merupakan keturunan Afrika-Amerika, bukan tidak mungkin gestur demikian mendapat pengaruh yang berasal dari komunitas mereka, seperti low five (menepukkan telapak tangan yang terbuka di area pinggang atau lebih rendah) yang sudah ada sejak tahun 1920-an. Atau, "gimme some skin", istilah gaul dari komunitas tersebut yang populer pada tahun 1940-an. Secara harfiah “beri aku kulit (telapak tanganmu)” untuk bersentuhan. Makna yang dalam ketika perilaku rasialis masih begitu kuat terasakan.

Setelah kejadian di arena olahraga bisbol tersebut, gestur high five menyebar sebagai ungkapan kegembiraan, dukungan, dan persahabatan merambah ke para pemain cabang olahraga lain dan kemudian ke masyarakat umum. Ia menjadi alternatif lain dari handshake (berjabat tangan) dan lebih biasa berlaku di kalangan anak muda sebaya.

Handshake merupakan gestur yang lebih dahulu ada terutama untuk menyampaikan salam formal atau memperlihatkan niat damai. Sementara itu, high five adalah gestur yang lebih spontan serta energik, sebagai cara sederhana untuk mengekspresikan secara nonverbal bahwa apa yang temannya lakukan itu oke atau keren. Atau dengan bahasa lain, untuk merayakan kesuksesan suatu capaian atau memproklamasikan kebahagiaan, kegembiraan.

Dengan demikian, boleh terbilang high five itu bentuk evolusi dengan gestur sederhana yang menengarai momen kebersamaan yang penuh makna. Sementata itu, dalam bahasa Inggris ada verb (kata kerja) toss (melempatkan). Erat terkait dengan pengundian. Kita cukup akrab dengan bentukan coin toss. Tindakan melemparkan sekeping uang logam ke udara. Lalu menangkap dan membukanya untuk melihat sisi gambar atau angka yang menghadap ke atas. Misalnya untuk menentukan posisi mana dua kesebelasan sepak bola mendapatkan gawang masing-masing pada awal laga.

Dalam bahasa Indonesia, kata “tos” memiliki makna yang unik. Secara resmi, sebagaimana tercantum dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi VI Dalam Jaringan, lema yang termasuk ragam cakapan ini mengusung makna yang sangat mirip dengan contoh di atas. Redaksi kalimatnya begini: “undian dengan cara melemparkan uang logam dan sebagainya (seperti untuk menentukan kalah menang, tempat bermain bola)”.

Akan tetapi, dalam realitas penggunaan bahasa sehari-hari, kata “tos” lebih sering menyelinap ke dalam konteks (karena agaknya telah terjadi pergeseran makna yang meluas), merujuk pada perbuatan atau tindakan dalam aktivitas yang memberi peran gerakan tangan relatif cepat, telapak terbuka, dan kemudian terjadi pembenturan ringan atau perlahan dua telapak tangan dari dua orang dalam suatu sekuen kejadian.

Ada yang menyebut, kata “tos” merupakan padanan bahasa Indonesia dari high five yang berupaya menjerat esensi tepukan telapak tangan untuk mengoneksikan pikiran dan membagikan kegembiraan sedikitnya antardua individu. Demikian alasan, mengapa high five dikaitan dengan “tos”. Dalam realitas konversasi sehari-hari ajakan ber-high five bisa mewujud dengan perkataan atau ucapan misalnya, “Halo apa kabar. Tos dulu ya” atau “Tim kita sukses memenangi laga hidup mati. Yuk kita lakukan tos-tosan”. Bentuk “tos-tosan” di sini bisa jadi adalah kata benda atau nomina (noun)

Sebagai padanan kata dalam bahasa Indonesia, tentu saja “tos” mengandung makna simbolis dan mempunyai fungsi sosial yang cenderung identik dengan high five. Dalam format yang menyeluruh, “tos” juga merupakan bentuk respons nonverbal sebagai wujud perayaan atas suatu pencapaian. Selain itu, tidak bisa dipisahkan sebagai tanda penghormatan. Salah satu gestur ikutan saat memberi salam. Bisa pula ekspresi untuk menjunjung spirit sportivitas dalam dunia olahraga.

Begitulah realitasnya. Kendatipun istilah high five telah menebarkan jaring popularitasnya dalam tataran melalui budaya populer dan olahraga, masyarakat Indonesia lebih mengakrabi kata “tos”, adaptasi ejaan dan sekaligus perluasan makna dari kata bahasa Inggris toss, untuk mewadahi konsep semantis dari gestur tersebut.

Alternatif Lebih Kasual

Tos atau high five (untuk uraian selanjutnya saya menggunakan kata “tos” sebagai padanan bahasa Indonesia yang telah mengalami perluasan makna sebagai gestur saling menepukkan telapak tangan di atas kepala atau setara dengan bahu), secara historis merupakan evolusi dari budaya gestur.

Tos merupakan gestur alternatif yang menunjukkan sifat lebih kasual dan energik. Tingkat keseringan penerapannya terasa menonjol di kalangan atlet dan para anak muda. Secara historis, gestur handshake (jabat tangan) sudah ada sejak abad ke-5 Sebelum Masehi. Pada mulanya jabat tangan merupakan wujud dari niat baik.

Pada konteks masa lampau, orang yang berjabat tangan menunjukkan bahwa dirinya bertangan kosong, tidak membawa senjata untuk berperang. Akan tetapi sebaliknya, siap untuk melakukan suatu perundingan dalam mencapai solusi perdamaian dari suatu belitan konflik. Dan, setelah perundingan damai sukses dilaksanakan, biasanya juga diakhiri dengan jabat tangan dari pihak-pihak yang terlibat pertikaian. Mereka berupaya menyegel kesepakatan.

Sementara itu, sebagaimana termaktub dalam uraian tulisan ini pada bagian sebelumnya, tos telapak tangan baru hadir pada kisaran tahun ketujuh dekade 1970-an dalam suatu laga bisbol. Tos telapak tangan dalam konteks ini hadir sebagai gestur untuk merayakan capaian prestasi atlet atau untuk memberikan apresiasi kekaguman atau dukungan yang hangat.

Konteks realisasi penerapan kedua budaya gestur itu juga menunjukkan warna perbedaan. Jabat tangan menemukan kesesuaian wilayah penggunaannya dalam situasi formal dan profesional. Tepat untuk orang yang belum saling mengenal atau baru pertama kali bertemu. Menjadi lambang dari sikap saling menghormati dan menyandang iktikad kebaikan dan keseriusan untuk mencari solusi yang memenangkan semua pihak (win win solution).

Sementara itu, budaya gestur tos telapak tangan memperoleh realisasi penerapan secara luas dengan sentuhan suasana yang relatif santai. Tos hadir saat tersaji intimitas atmosfer kebersamaan antarsahabat untuk merayakan keberhasilan kolektif. Tos berada dalam ranah anggapan yang “membebaskan” karena memberi celah pemungkinan relasi manusia terkoneksi secara fisik melalui cara yang lebih leluasa tanpa ikatan yang terlalu protokoler.

Ada pula pandangan yang menempatkan tos telapak tangan sebagai representasi alternatif yang lebih berani dan bebas daripada jabat tangan yang pada anggapan sementara pihak terlalu kaku untuk situasi yang penuh dengan luapan kegembiraan yang berbalutkan solidaritas. Persepsi umum menilai, tos memenuhi standar takaran yang pas sebagai ekspresi positif untuk menunjukkan persahabatan. Adapun tradisi jabat tangan yang sudah mapan lebih memiliki koneksi yang seatmosfer dengan tujuan untuk berkelana di jagat perpolitikan.

Selain “tos”, ada “dap”, kependekan akronim “dignity and pride” (martabat dan kebanggaan). Mendeskripsikan berbagai gerakan sapaan nonverbal. Dap adalah simbol solidaritas dan persatuan tentara Amerika Serikay keturunan Afrika-Amerika selama Perang Vietnam (1 November 1955 - 30 April 1975). Adapun urutan gerakan yang lazim dari dap meliputi kepalan tangan dengan pelan. Kemudian jabat tangan dengan mengaitkan jari-jari. Bisa juga berupa tepukan telapak tangan ke bahu atau telapak tangan seseorang ke telapak tangan sahabatnya. Bisa pula berupa pelukan.

Tiap urutan gerakan kerap kali menunjukkan sifat unik bagi dua individu yang melakukannya. Fungsi dari rangkaian gerakan dap tersebut merupakan cara untuk mengekspresikan rasa hormat, pengakuan eksistensi, dan peneguhan ikatan persahabatan serta persaudaraan.

Tos Kepalan Tangan

Fist bump atau istilah gaul yang informal bro fist atau lagi power five (untuk membedakan dengan high five). Ada beberapa versi terjemahan ke bahasa Indonesia. Bisa “adu kepalan tangan” (terjemahan deskripsi gestur). Bisa pula “salam tinju” (terjemahan lain yang juga umum mendapatkan realisasi pemakaian). Bisa juga “tos kepalan tangan” (terjemahan yang fokus pada keseiringan fungsi dengan high five alias tos telapak tangan)

Tos kepalan tangan bagian depan secara perlahan mempunyai hubungan kesejarahan yang sedemikian dekat dan malahan acapkali berada di dalam ranah anggapan sebagai bagian dari evolusi budaya gestur yang khas dalam komunitas keturunan Afrika-Amerika. Selain itu, juga menjadi salah satu komponen yang tampak dalam tradisi dap.

Tos kepalan tangan dalam dap atau dapping mengacu pada salah satu dari serangkaian gerakan tangan yang secara totalitas tampak begitu kompleks sebagai simbol solidaritas atau kesetiakawanan. Fist bump atau yang kerap mendapat sebutan the pound alias tos kepalan tangan itu tidak jarang menjadi elemen pembuka, penutup, bahkan inti dari rangkaian gerakan dap itu.

Hal ini tidak dapat terpisahkan dari tradisi dap yang mulai populer di kalangan para tentara Amerika Serikat yang berasal dari komunitas keturunan Afrika-Amerika selama Perang Vietnam lebih dari lima dasawarsa yang telah lampau. Suatu bentuk komunikasi nonverbal dan ungkapan senasib sepenanggungan di tengah terpaan badai diskriminasi yang masih menunjukkan taring amukannya pada masa itu.

Penggunaan kepalan tangan untuk melakukan tos tersebut ternyata mempersembahkan sentuhan pengaruh yang begitu besar, tatkala kemudian fist bump alias tos kepalan tangan menjemput dan menghampiri pesona pengadopsian dari masyarakat luas. Tidak hanya di Amerika Serikat saja tetapi juga secara global mendunia sebagai simbol rasa hormat dan persetujuan.

Tos kepalan tangan yang saling bertemu dengan tekanan lembut ternyata mempunyai kandungan filosofis sedemikian kaya. Gestur ini kendatipun tampak sederhana mengandung lambang sejumlah konsep kearifan hidup yang penting. Teristimewa dalam konteks komunikasi nonverbal dan interaksi sosial.

Ada sentuhan konsep filosofis persamaan dan kesetaraan. Penerapan tindakan tos kepalan tangan tidak jarang berada di belakang lambang untuk menyampaikan perasaan hormat dan kesetiakawanan antarindividu dalam rengkuh pandang yang sarat dengan spirit kesetaraan, tidak ada tingkatan hierarki yang datang mengusik. Tos kepalan tangan merupakan gestur yang relatif lebih santai dan inklusif.

Gestur ini memperlihatkan ekspresi dukungan, uluran perkawanan, dan ungkapan rasa persahabatan. Ini komunikasi nonverbal yang kalau seandainya terucapkan dengan kata-kata bisa jadi akan mengujarkan pernyataan “We are in this together” (“Kita bersama dalam hal ini”) atau “I support you” (“Aku mendukungmu”).

Tos kepalan tangan menjadi tindakan yang merefleksikan adanya kepercayaan timbal balik. Perlu persetujuan yang tidak terucapkan dari kedua pihak untuk melakukan gestur ini. Suatu gestur persahabatan yang mengindikasikan pengakuan terhadap kehadiran dan nilai orang lain.

Konsep persatuan menjadi tampak begitu kental sebagai kandungan makna filosofis dari tos kepalan tangan. Hal ini jika kita mengacu pada esensi simbolis dari kepalan makna secara fisik menyiratkan makna kekuatan dan ketahanan. Manakala dua kepalan tangan bersua dalam tindakan tos, itu bisa mengundang penafsiran sebagai pengintegrasian dua kekuatan yang menguatkan satu sama lain dalam menghadapi dan menghalau tantangan bersama.

Tos kepalan tangan tidak jarang menerima pengaitan sikap yang tulus, autentik, dan “keren” untuk meminjam istilah gaul anak muda zaman digital ini. Ia merupakan cara yang membawa kita untuk mengabarkan tentang adanya suatu bentuk ekspresi pikiran dan perasaan yang lebih memenuhi selera untuk melepas bebas suatu ekspresi positif secara fleksibel dan terasa lebih santai daripada metode salam tradisional.

Tos kepalan tangan pun mempunyai keunggulan dari tilikan sisi medis. Ia memindahkan bakteri sepuluh kali lebih sedikit jika berbandingkan dengan tos telapak tangan atau jabat tangan. Sebab, area kontak yang lebih sempit dan durasi yang lebih singkat. Terlebih manakala kondisi lingkungan sekitar tengah berada pada masa-masa yang penuh desakan kekhawatiran akan kerentanan kesehatan, tos kepalan tangan menawarkan adaptasi pragmatis guna memenuhi kehendak keadaan.

Tos kepalan tangan bisa jadi hampir bersamaan pemunculannya dengan tos telapak tangan. Nama pebola basket Frederick James Carter (lahir 14 Februari 1945) dengan julukan Mad Dog, telah mengarungi delapan musim (1969 - 1977) untuk Baltimore Bullets dan Pholadelphia 76ers di National Basketball Association (NBA), merupakan sosok yang mendapat sebutan sebagai pihak yang memopulerkannya pada dekade 1970-an.

Dari sinilah kemudian gestur ini menyebar ke budaya populer global sebagai entitas penanda salam yang lebih santai dan keren. Dukungan tokoh publik, seperti Barack Hussein Obama (lahir 4 Agustus 1961), menjabat sebagai presiden Amerika Serikat pada 20 Januari 2009 - 20 Januari 2017, menegaskan arus pengaruhnya yang semakin mendunia, karena sering mempertontonkan gestur serupa selama masa pandemi sebagai bentuk ungkapan salam yang lebih meminimalisasi risiko penularan penyakit pada saat itu.

Walaupun tos kepalan tangan bagian depan yang bersentuhan perlahan pada momen ketika dua orang atau beberapa orang secara bergantian melakukannya pada saat baru saja bertemu atau hendak berpisah, merupakan gestur tunggal yang mandiri, asal-usulnya dalam budaya modern tidak terelakan sentuhan pengaruhnya dari etos solidaritas yang ada dalam tradisi dapping. Salam solidaritas tentara Amerika Serikat keturunan Afrika-Amerika selama Perang Vietnam tempo dahulu. ***


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Tok, MK Batasi Penggunaan Sanksi Pidana dan Perdata Terhadap Wartawan
• 9 jam lalujpnn.com
thumb
MK: Kolumnis Tak Dapat Dikategorikan Sebagai Profesi Wartawan
• 10 jam laludetik.com
thumb
Istana Sampaikan Duka atas Tragedi Jatuhnya Pesawat ATR 42-500
• 4 jam laluidntimes.com
thumb
Bank NTT dan LPK Musubu Jalin Kerja Sama Pembiayaan Pekerja Migran, Gubernur Melki: Solusi Cegah Rentenir
• 2 jam lalutvrinews.com
thumb
PKB Minta Pengusutan Kecelakaan Pesawat ATR yang Jatuh di Maros Transparan
• 18 jam laludetik.com
Berhasil disimpan.