FAJAR, BANDUNG — Persib Bandung kembali berada di titik yang membuat publik sepak bola Indonesia menahan napas. Menjelang bergulirnya putaran kedua Super League 2025/2026, Maung Bandung justru memilih bergerak senyap. Tak ada pengumuman rekrutan anyar, tak ada konferensi pers gemuruh. Namun, di balik keheningan itu, sinyal gebrakan besar mulai tercium.
Sebagai penguasa klasemen paruh musim, Persib berada dalam posisi ideal. Stabil di kompetisi domestik, konsisten di lintasan Asia, dan memiliki fondasi tim yang relatif solid di bawah arahan Bojan Hodak. Justru dari posisi mapan itulah, Persib mulai berpikir lebih jauh: bukan sekadar juara Super League, tapi benar-benar kompetitif di level Asia.
Di tengah berbagai spekulasi—mulai dari pemain diaspora Timnas Indonesia seperti Maarten Paes hingga Joey Pelupessy—muncul satu nama yang membuat rumor bursa transfer mendadak melonjak ke level berbeda. Nama itu: Layvin Kurzawa.
Bek kiri asal Prancis, jebolan Paris Saint-Germain (PSG), disebut-sebut tengah dalam komunikasi lanjutan dengan Persib Bandung. Sebuah kabar yang terdengar nyaris sureal, namun justru datang dari sumber yang kredibel.
Bocoran dari Prancis
Isu ini pertama kali diungkap jurnalis Prancis, Sebastian Denis, yang dikenal kerap meliput dinamika transfer pemain Eropa. Melalui akun media sosial X, Denis menyebut bahwa Kurzawa—yang kini berstatus bebas transfer—sedang menjalin pembicaraan lanjutan dengan klub Indonesia, Persib Bandung.
“Agen bebas, Layvin Kurzawa sedang dalam pembicaraan lanjutan dengan klub Indonesia Persib Bandung,” tulis Denis.
Tak berhenti di situ, Denis juga memberi konteks penting mengapa Persib menjadi destinasi yang masuk akal bagi pemain sekelas Kurzawa. Ia menyoroti status Persib sebagai salah satu klub paling populer di Asia, serta kiprah Maung Bandung yang berhasil menembus babak 16 besar Liga Champions Asia 2.
“Klub ini dianggap sebagai salah satu klub terpopuler di Asia dan telah lolos ke babak 16 besar Liga Champions Asia 2,” tambahnya.
Pernyataan itu menjadi penguat bahwa rumor ini bukan sekadar isapan jempol. Persib kini tak lagi dilihat sebagai klub lokal, melainkan sebagai proyek Asia yang menarik bagi pemain dengan latar belakang Eropa.
Mengapa Kurzawa?
Layvin Kurzawa bukan nama asing di sepak bola elite. Lahir di Fréjus, Prancis, 4 September 1992, ia dikenal sebagai bek kiri modern dengan karakter ofensif kuat. Kecepatan, agresivitas, dan keberanian naik membantu serangan menjadi ciri khasnya sejak awal karier.
Nama Kurzawa mulai mencuat saat berseragam AS Monaco. Di Ligue 1, ia tampil sebagai salah satu bek kiri muda paling menjanjikan Prancis. Performa impresif itu membuat PSG merekrutnya pada 2015—sebuah langkah yang menempatkannya di pusat dominasi sepak bola Prancis.
Bersama PSG, Kurzawa menikmati periode panjang dan penuh gelar. Ia menjadi bagian dari tim yang mendominasi Ligue 1, menjuarai Coupe de France dan Coupe de la Ligue, serta rutin tampil di Liga Champions Eropa. Total, ia mencatatkan lebih dari 154 penampilan di semua kompetisi bersama PSG.
Yang membuat Kurzawa berbeda dari banyak bek kiri lain adalah produktivitasnya. Ia bukan sekadar penjaga sisi pertahanan, tapi juga ancaman nyata di area lawan. Beberapa golnya di Liga Champions menjadi bukti bahwa ia memiliki naluri menyerang yang tajam—sesuatu yang jarang dimiliki pemain bertahan.
Proyek Asia Persib
Dalam konteks Persib Bandung, nama Kurzawa terasa sangat relevan. Maung Bandung tengah memasuki fase di mana kedalaman skuad dan pengalaman internasional menjadi kebutuhan mendesak, terutama untuk bersaing di kompetisi Asia.
Di Liga Champions Asia 2, perbedaan kualitas sering kali terlihat bukan pada sebelas pemain utama, melainkan pada pengalaman membaca situasi, manajemen tempo, dan ketenangan di momen krusial. Di titik inilah, pemain seperti Kurzawa menjadi aset strategis.
Statusnya sebagai bebas transfer juga membuka peluang besar. Meski nilai pasarnya masih berada di kisaran Rp13 miliar, Persib tak perlu mengeluarkan biaya transfer. Tantangannya terletak pada kesepakatan personal dan peran yang ditawarkan klub—bukan sekadar kontrak, tapi proyek.
Bagi Kurzawa yang kini berusia 33 tahun dan baru saja menyelesaikan petualangan singkat bersama Boavista FC di Portugal, Persib menawarkan sesuatu yang unik: kesempatan memimpin proyek ambisius di Asia, tetap bermain di level kontinental, dan menjadi figur sentral, bukan sekadar pelapis.
Lebih dari Sekadar Transfer
Jika transfer ini benar-benar terwujud, kehadiran Layvin Kurzawa akan menjadi pernyataan tegas. Persib Bandung tak hanya ingin mempertahankan dominasinya di Super League, tetapi juga menegaskan diri sebagai kekuatan baru Asia Tenggara.
Ini bukan soal nama besar semata. Ini tentang arah. Tentang bagaimana Persib membangun identitas klub yang mampu menarik pemain dengan pengalaman Liga Champions Eropa, tanpa kehilangan akar lokalnya.
Kini, publik hanya bisa menunggu. Manajemen Persib masih memilih diam. Namun satu hal pasti: ketika nama sebesar Layvin Kurzawa mulai dikaitkan, itu berarti Persib sedang menyiapkan sesuatu yang lebih besar dari sekadar bursa transfer paruh musim.





