Penulis: Diah Anggaraini
TVRINews, Empat Lawang
Cuaca ekstrem yang terjadi dalam beberapa bulan terakhir berdampak serius terhadap hasil panen kopi petani di Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan.
Petani mengeluhkan penurunan produksi yang signifikan akibat cuaca yang tidak menentu, mulai dari panas terik, angin kencang, hingga intensitas hujan yang tinggi.
Kondisi ini dirasakan langsung oleh petani kopi di Desa Sawah, Kecamatan Muara Pinang. Hasil panen yang biasanya melimpah kini menyusut drastis dan menimbulkan kerugian ekonomi yang cukup besar bagi para petani setempat.
Sahril, salah satu petani kopi di Talang Kelup, Desa Sawah, mengungkapkan bahwa cuaca ekstrem menyebabkan banyak buah kopi rontok sebelum memasuki masa panen.
“Biasanya sekali panen kami bisa dapat sekitar 500 kilogram biji kopi. Tapi sekarang paling banyak cuma 100 sampai 150 kilogram saja. Jelas ini sangat merugikan kami sebagai petani,” ujar Sahril saat ditemui di lokasi perkebunan, Senin, 19 Januari 2026.
Menurut Sahril, perubahan cuaca yang ekstrem membuat tanaman kopi tidak mampu bertahan. Panas berkepanjangan yang tiba-tiba berubah menjadi hujan lebat disertai angin kencang menjadi faktor utama penyebab kegagalan panen kali ini.
“Cuacanya tidak menentu. Kadang panas terik, tiba-tiba hujan lebat dan angin kencang. Banyak buah kopi yang gugur sebelum sempat dipanen,” jelasnya.
Meski produksi menurun secara kuantitas, harga biji kopi di wilayah Empat Lawang terpantau masih cukup tinggi. Saat ini, harga kopi berada di kisaran Rp50 ribu per kilogram, walaupun sedikit mengalami penurunan dari harga sebelumnya yang sempat menyentuh angka Rp60 ribu per kilogram.
Namun, tingginya harga pasar tersebut dinilai tidak mampu menutupi kerugian petani karena jumlah hasil panen yang sangat terbatas. Para petani berharap adanya perhatian dari pemerintah daerah, khususnya dalam bentuk pendampingan teknis dan solusi untuk menghadapi dampak perubahan iklim agar produktivitas kopi di Empat Lawang dapat kembali pulih.
Editor: Redaktur TVRINews




