HARIAN FAJAR, SURABAYA— Bursa transfer paruh musim Super League 2025/2026 kembali memantik perhatian publik. Kali ini, satu nama asing dengan latar belakang Eropa elite muncul ke permukaan: Milos Pantovic. Gelandang serang berkebangsaan Serbia tersebut santer dikabarkan tengah menjalin komunikasi dengan salah satu klub papan atas Indonesia.
Pantovic bukan pemain biasa. Ia adalah jebolan akademi Bayern Munchen, salah satu pusat pembinaan terbaik dunia. Nama besar itu otomatis membuat rumor kedatangannya ke Indonesia terdengar menggoda—sekaligus memantik kewaspadaan.
Kabar kepindahan pemain berusia 29 tahun ini pertama kali mencuat lewat unggahan akun informan transfer sepak bola nasional @transfernews__ft, Minggu (18/1/2026). Dalam unggahan tersebut, disebutkan bahwa Pantovic dikaitkan dengan klub yang saat ini berada di 10 besar klasemen Super League.
“Inisialnya dari klasemen 1 sampai 10,” tulis akun tersebut menjawab rasa penasaran warganet.
Spekulasi pun mengerucut pada dua klub besar: Persija Jakarta (peringkat 3) dan Persebaya Surabaya (peringkat 7). Dua kekuatan tradisional yang sama-sama punya basis suporter besar, tekanan tinggi, dan ambisi kuat di sisa musim.
Persija: Slot Terbuka, Proyek Serius
Dari Jakarta, peluang Persija mendatangkan Pantovic terlihat cukup realistis. Macan Kemayoran baru saja mengakhiri kerja sama dengan Gustavo França, gelandang asing yang dinilai belum memberi dampak signifikan.
Pengumuman resmi disampaikan Persija melalui kanal media sosial klub.
“Persija dan Gustavo França sepakat mengakhiri kerja sama di paruh musim ini agar masing-masing pihak dapat berkembang ke level yang lebih baik,” tulis manajemen, Minggu (18/1).
Kepergian França otomatis membuka slot pemain asing di lini tengah. Dalam konteks ambisi juara, Persija membutuhkan sosok kreator yang mampu mengatur tempo, memecah kebuntuan, dan memberi solusi di laga-laga ketat.
Pantovic, dengan pengalaman sepak bola Eropa dan posisi natural sebagai gelandang serang, masuk dalam profil yang dicari. Jika mendarat di Jakarta, ia berpotensi diplot sebagai otak permainan—penghubung lini tengah dan depan.
Persebaya: Perombakan Masif, Risiko Besar
Namun Surabaya tak bisa dikesampingkan. Persebaya Surabaya tengah menjalani fase perombakan besar-besaran di bawah pelatih Bernardo Tavares. Klub kebanggaan Bonek ini dikabarkan tak puas dengan performa beberapa legiun asingnya.
Meski telah meresmikan sejumlah pemain baru dan dikaitkan dengan Pedro Matos, rumor menyebut Persebaya masih memburu hingga lima pemain asing tambahan untuk memperkuat kedalaman skuad.
Menurut akun @liga_dagelann, masih ada satu slot asing yang bisa dimanfaatkan jika skenario tertentu terealisasi. Celah inilah yang membuat nama Pantovic masuk dalam radar Bajul Ijo.
Bagi Persebaya, Pantovic bisa menjadi solusi di lini tengah—area yang kerap kehilangan kreativitas saat menghadapi tim bertahan rapat.
Latar Belakang Bayern Munchen: Nilai Plus atau Beban?
Tak bisa dimungkiri, embel-embel “jebolan Bayern Munchen” menjadi daya tarik utama Milos Pantovic. Ia mengenyam pendidikan sepak bola di sistem Jerman yang terkenal disiplin, taktis, dan detail.
Pantovic juga memiliki postur ideal (185 cm), visi bermain baik, serta kemampuan bermain di beberapa peran: gelandang serang, second striker, hingga winger kiri.
Namun di sinilah letak paradoksnya.
Super League Indonesia bukan kompetisi yang ramah bagi semua pemain dengan CV Eropa mentereng. Sejarah mencatat, nama besar tidak selalu berbanding lurus dengan performa di lapangan.
Pelajaran dari Mauricio: Rekan Neymar yang Gagal Bersinar
Publik Persebaya tentu masih ingat Mauricio, eks gelandang asal Brasil yang pernah satu generasi dengan Neymar di tim nasional junior. Datang dengan reputasi besar, ia justru gagal memenuhi ekspektasi.
Masalah adaptasi, intensitas liga, hingga kesulitan memahami dinamika sepak bola Indonesia membuat Mauricio tak pernah benar-benar menjadi pembeda.
Kasus ini menjadi pengingat keras: rekam jejak elit tidak menjamin sukses di Super League.
Pantovic, meski berbeda karakter dan latar budaya, tetap menghadapi tantangan serupa—iklim, perjalanan panjang, tekanan suporter, dan ritme pertandingan yang mengandalkan duel fisik.
Menunggu Keputusan, Menimbang Risiko
Kini, bola ada di tangan Milos Pantovic. Jakarta menawarkan stabilitas dan struktur. Surabaya menawarkan gairah, tekanan, dan revolusi.
Ke mana ia akan berlabuh?
Apakah ia mampu mengonversi reputasi akademi Bayern Munchen menjadi performa nyata di lapangan hijau Indonesia?
Yang jelas, baik Persija maupun Persebaya tak hanya membeli nama, tetapi berharap mendapatkan jawaban atas masalah lini tengah mereka.
Dan bagi Pantovic sendiri, Super League bisa menjadi panggung kebangkitan—atau justru ujian paling keras dalam kariernya.

:format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/202574-lulusan-penerima-beasiswa-LPDP-2025.jpg)


