FAJAR, SEMARANG — PSIS Semarang akhirnya mengambil langkah yang selama ini ditunggu publik sepak bola Kota Atlas: berani memutus mata rantai stagnasi. Setelah melewati paruh pertama Pegadaian Championship 2025/2026 dengan performa yang jauh dari harapan, Mahesa Jenar memilih jalur tegas—melakukan perombakan lanjutan di tengah musim.
Empat pemain lokal resmi dilepas: Lalu Rizky, Wahyu Saputro, Amir Hamzah, dan Aulia Rahman. Keputusan ini bukan sekadar pengurangan pemain, melainkan sinyal keras bahwa PSIS sedang mengoreksi arah, bukan menunggu waktu untuk menyelamatkan diri.
Salah satu nama yang paling menyita perhatian adalah Aulia Rahman—mantan penyerang Timnas Indonesia U-20. Status “eks timnas” ternyata tidak cukup untuk bertahan jika kontribusi di lapangan tak sejalan dengan kebutuhan tim.
Reset Arah, Bukan Rotasi Biasa
Langkah PSIS kali ini tidak bisa dibaca sebagai rutinitas bursa transfer. Ini adalah reset arah. Manajemen menilai bahwa masalah PSIS bukan sekadar hasil, melainkan struktur permainan.
Sepanjang putaran pertama, PSIS kerap tampil tanpa identitas yang jelas. Lini tengah kehilangan kontrol, transisi lambat, dan lini depan miskin ancaman. Situasi itu diperparah oleh kinerja pemain asing yang belum konsisten—bahkan dalam beberapa laga, tak memberi perbedaan berarti.
Asisten Manajer PSIS, Reza Andika, menegaskan keputusan ini lahir dari evaluasi panjang.
“Keputusan ini melalui diskusi dan evaluasi menyeluruh. Kami melihat kebutuhan tim ke depan dan apa yang harus dibenahi agar performa PSIS meningkat,” ujar Reza, Kamis (15/1/2026).
Pesannya jelas: status quo tidak lagi bisa dipertahankan.
Pemain Asing Belum Jadi Solusi
Salah satu masalah utama PSIS musim ini adalah ketergantungan pada pemain asing yang tidak sepenuhnya menjawab kebutuhan sistem. Alih-alih menjadi pembeda, beberapa justru tenggelam dalam ritme kompetisi yang keras dan cepat.
Situasi ini membuat PSIS berada di persimpangan: terus berjudi dengan nama asing baru, atau beralih ke opsi yang lebih realistis—pemain lokal berpengalaman di Super League.
Dalam konteks ini, berburu pemain lokal bukan kemunduran, melainkan langkah korektif.
Mengapa Pemain Lokal Jebolan Super League?
Pemain lokal yang sudah teruji di Super League punya tiga keunggulan utama:
Adaptasi instan
Mereka memahami intensitas, tekanan, dan ritme sepak bola Indonesia.
Efisiensi biaya dan waktu
Tidak butuh masa adaptasi panjang seperti pemain asing.
Mental kompetitif
Terbiasa bermain di klub besar dengan tuntutan tinggi.
PSIS saat ini membutuhkan pemain yang siap pakai, bukan proyek jangka panjang.
PSM, Persebaya, Persib: Pasar Potensial
Beberapa klub Super League memiliki surplus pemain—baik karena rotasi, kedalaman skuad, maupun perubahan pelatih.
PSM Makassar
Dikenal punya banyak pemain pekerja keras dengan disiplin taktik kuat. Pemain lapis kedua PSM kerap punya kualitas starter di klub lain.
Persebaya Surabaya
Memiliki stok pemain muda dan lokal yang besar. Persaingan ketat membuat sebagian pemain minim menit bermain, tapi tetap matang secara kompetisi.
Persib Bandung
Klub dengan kedalaman skuad terbaik musim ini. Tidak semua pemain inti cadangan mendapat ruang, padahal kualitasnya sudah teruji di level tertinggi.
Bagi PSIS, merekrut pemain dari klub-klub ini bukan soal “mengambil sisa”, melainkan memanfaatkan kompetisi internal klub besar.
Tekanan Klasemen Tak Bisa Ditawar
Posisi PSIS di papan bawah menjadi alarm utama. Setiap laga kini bernilai strategis. Kesalahan kecil bisa berdampak besar terhadap masa depan klub di akhir musim.
Dalam kondisi seperti ini, romantisme proyek jangka panjang harus ditunda. PSIS butuh stabilitas sekarang.
Perombakan skuad menjadi jalan realistis untuk:
menyuntikkan energi baru,
meningkatkan daya saing internal,
dan mengembalikan kontrol permainan.
Pesan Keras untuk Skuad yang Tersisa
Pelepasan empat pemain lokal juga menjadi pesan tak tertulis bagi pemain lain: tidak ada zona aman. Setiap menit bermain harus dibayar dengan performa.
Bagi pemain muda PSIS, ini peluang sekaligus ujian. Mereka yang siap secara mental dan taktik akan mendapat ruang. Yang tidak, akan tergilas situasi.
Risiko Ada, Tapi Diam Lebih Berbahaya
Setiap perubahan besar membawa risiko. Chemistry bisa terganggu, adaptasi ulang dibutuhkan. Namun bertahan dengan komposisi lama yang terbukti tidak efektif justru lebih berbahaya.
PSIS memilih bergerak sekarang—bukan menunggu nasib di akhir musim.
Langkah ini menandai satu hal: Mahesa Jenar belum menyerah pada musim 2025/2026. Mereka memilih melawan arus, membongkar masalah, dan mencari solusi paling masuk akal—bahkan jika itu berarti menanggalkan nama besar dan reputasi masa lalu.
Kini, publik menunggu kelanjutan: apakah PSIS berani benar-benar berburu pemain lokal siap tempur dari Super League?
Jawabannya akan menentukan, bukan hanya posisi klasemen, tetapi arah identitas PSIS ke depan.


.jpg)


