Jakarta, VIVA – Wakil Menteri Ketenagakerjaan periode 2024-2025 Immanuel Ebenezer Gerungan atau Noel Ebenezer tak mengajukan nota keberatan alias eksepsi terhadap dakwaan kasus dugaan pemerasan dalam pengurusan sertifikat Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di lingkungan Kemenaker dan gratifikasi pada periode 2024-2025.
"Sudah mengakui salah, ngapain lagi pakai eksepsi? Kami akui saja lah," ungkap pria yang akrab disapa Noel tersebut saat ditemui di sela persidangan pembacaan surat dakwaan di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Senin, 19 Januari 2026.
Ia menyebut semua dakwaan yang dituduhkan jaksa penuntut umum (JPU) dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap dirinya sudah benar.
- Youtube KPK
Dengan demikian, sambung dia, tidak perlu ada lagi yang dibuat sebagai hal rumit agar semuanya terang benderang.
Selain tak mengajukan eksepsi, Noel juga tidak membacakan surat pengakuan bersalah atas dakwaan yang disangkakan. Adapun Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) baru mengatur adanya pengakuan bersalah yang bisa diajukan terdakwa, agar perkara bisa dilimpahkan ke sidang acara pemeriksaan singkat.
Pasalnya, kata dia, dalam KUHAP baru ancaman pidana terhadap perbuatan yang ia lakukan cukup rendah, yakni pidana penjara selama 4 tahun hingga seumur hidup.
"Paling ini tengah-tengahnya 20 tahun dan nggak ada ruang untuk itu," tuturnya.
Dalam kasus tersebut, Noel didakwa melakukan pemerasan terhadap para pemohon sertifikasi atau lisensi K3 senilai Rp6,52 miliar dan menerima gratifikasi.
Pemerasan diduga dilakukan bersama 10 orang terdakwa lainnya, yakni Temurila, Miki Mahfud, Fahrurozi, Hery Sutanto, Subhan, Gerry Aditya Herwanto Putra, Irvian Bobby Mahendro Putro, Sekarsari Kartika Putri, Anitasari Kusumawati, dan Supriadi.
Disebutkan bahwa para pemohon sertifikasi K3 yang diperas para terdakwa, antara lain Fanny Fania Octapiani, Fransisca Xaveriana, Grhadini Lukitasari Tasya, Intan Fitria Permatasari, Muhammad Deny, Nicken Ayu Wulandari, Nur Aisyah Astuti, Octavia Voni Andari, Shalsabila Salu, dan Sri Enggarwati.
Secara perinci, pemerasan diduga dilakukan untuk menguntungkan para terdakwa yang disidangkan bersamaan tersebut, yang terdiri atas Noel diuntungkan sebesar Rp70 juta; Fahrurozi Rp270,95 juta; Hery, Gerry, dan Sekarsari masing-masing Rp652,24 juta; Subhan dan Anitasari masing-masing Rp326,12 juta; Irvian Rp978,35 juta; serta Supriadi Rp294,06 juta.




