Jakarta (ANTARA) - Ketua sekaligus pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) Dino Patti Djalal mendorong Indonesia untuk mengurangi ketergantungan terhadap Amerika Serikat (AS) di tengah kebijakan imperialisme Presiden Donald Trump terhadap negara lain.
"Dengan negara adidaya Amerika Serikat, kita masih harus, menghadapi tiga tahun lagi seperti ini. Dan tiga tahun kebijakan luar negeri AS bisa berdampak selama puluhan tahun," kata Dino dalam Diskusi Publik FPCI bertajuk "Outlook on Geopolitical Trends & Indonesian Foreign Policy in 2026", Jakarta, Senin.
Dino mengatakan bahwa AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump saat ini tengah menerapkan paham imperialisme dalam kebijakan luar negerinya.
Paham tersebut cenderung mendorong AS untuk melakukan penaklukan secara agresif terhadap wilayah dan sumber daya negara lain.
Mereka juga cenderung menerapkan hubungan yang tidak setara dengan negara lain, menuntut kepatuhan mereka dan merebut sesuatu dari negara lain tanpa memperhatikan hukum internasional secara semestinya.
Kebijakan tersebut dapat terlihat dari upaya AS baru-baru ini untuk merebut kekuasaan di Venezuela, rencana mereka mengakuisisi Greenland dan juga intervensinya di Iran.
Oleh karena itulah, Dino mendorong Indonesia untuk mempertimbangkan secara serius pengurangan ketergantungan terhadap AS.
"Intinya adalah tidak ada satu negara pun yang seharusnya terlalu terekspos pada sebuah kekuatan besar. Ingat, beberapa tahun yang lalu—belum lama ini—kita semua sangat khawatir tentang keterpaparan yang berlebihan terhadap China," sambung Co-founder FPCI Dewi Fortuna Anwar di acara itu.
Dewi mengatakan bahwa selama pemerintahan Joko Widodo, Indonesia sangat menggantungkan pembangunan infrastrukturnya terhadap China sebagai mitra dagang terbesar serta sebagai sumber investasi, khususnya di sektor mineral kritis, smelter, dan sebagainya.
Risikonya adalah bahkan jika China tidak menggunakan pemaksaan ekonomi sekalipun, perlambatan ekonomi China akan langsung berdampak terhadap Indonesia.
"Jadi keterpaparan yang berlebihan terhadap siapapun, jika terlalu bergantung, itu tidak baik," katanya.
Untuk itu, Dewi mendorong pemerintah untuk benar-benar melakukan diversifikasi. "Kita sering mengatakannya, tetapi pada kenyataannya kita tidak benar-benar melakukannya," kata dia.
Baca juga: Ketua FPCI: Imperialisme AS era Trump dorong tatanan dunia baru
"Dengan negara adidaya Amerika Serikat, kita masih harus, menghadapi tiga tahun lagi seperti ini. Dan tiga tahun kebijakan luar negeri AS bisa berdampak selama puluhan tahun," kata Dino dalam Diskusi Publik FPCI bertajuk "Outlook on Geopolitical Trends & Indonesian Foreign Policy in 2026", Jakarta, Senin.
Dino mengatakan bahwa AS di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump saat ini tengah menerapkan paham imperialisme dalam kebijakan luar negerinya.
Paham tersebut cenderung mendorong AS untuk melakukan penaklukan secara agresif terhadap wilayah dan sumber daya negara lain.
Mereka juga cenderung menerapkan hubungan yang tidak setara dengan negara lain, menuntut kepatuhan mereka dan merebut sesuatu dari negara lain tanpa memperhatikan hukum internasional secara semestinya.
Kebijakan tersebut dapat terlihat dari upaya AS baru-baru ini untuk merebut kekuasaan di Venezuela, rencana mereka mengakuisisi Greenland dan juga intervensinya di Iran.
Oleh karena itulah, Dino mendorong Indonesia untuk mempertimbangkan secara serius pengurangan ketergantungan terhadap AS.
"Intinya adalah tidak ada satu negara pun yang seharusnya terlalu terekspos pada sebuah kekuatan besar. Ingat, beberapa tahun yang lalu—belum lama ini—kita semua sangat khawatir tentang keterpaparan yang berlebihan terhadap China," sambung Co-founder FPCI Dewi Fortuna Anwar di acara itu.
Dewi mengatakan bahwa selama pemerintahan Joko Widodo, Indonesia sangat menggantungkan pembangunan infrastrukturnya terhadap China sebagai mitra dagang terbesar serta sebagai sumber investasi, khususnya di sektor mineral kritis, smelter, dan sebagainya.
Risikonya adalah bahkan jika China tidak menggunakan pemaksaan ekonomi sekalipun, perlambatan ekonomi China akan langsung berdampak terhadap Indonesia.
"Jadi keterpaparan yang berlebihan terhadap siapapun, jika terlalu bergantung, itu tidak baik," katanya.
Untuk itu, Dewi mendorong pemerintah untuk benar-benar melakukan diversifikasi. "Kita sering mengatakannya, tetapi pada kenyataannya kita tidak benar-benar melakukannya," kata dia.
Baca juga: Ketua FPCI: Imperialisme AS era Trump dorong tatanan dunia baru


:strip_icc()/kly-media-production/medias/5476140/original/098351200_1768713380-6.jpg)


