Isu child grooming kembali menjadi perbincangan hangat di Indonesia pada awal tahun 2026, terutama setelah aktris Aurelie Moeremans merilis buku memoarnya yang berjudul Broken Strings: Kepingan Masa Muda yang Patah.
Child grooming adalah upaya sistematis yang dilakukan pelaku untuk membangun kepercayaan dan hubungan emosional dengan anak atau remaja agar bisa mengeksploitasi mereka secara seksual.
Proses child grooming seringkali dilakukan secara perlahan dan halus. Pelaku biasanya menggunakan pujian hingga perhatian khusus, sehingga korban tidak menyadari bahwa mereka sedang dimanipulasi.
Lantas, orang tua harus memahami cara menjaga anak dari child grooming, salah satunya dengan memantau perilaku anak. Menurut Psikolog Rumah Sakit Pelni, Yulian Nanda, ada tiga tanda-tanda awal yang menunjukkan anak mengalami child grooming, yaitu:
1. Anak cenderung menarik diri
2. Cemas berlebihan
3. Ketergantungan pada satu orang tertentu
Tiga tanda tersebut dapat dicegah oleh kehadiran orang tua. Hubungan orang tua dan anak berpengaruh besar pada cara anak memahami situasi yang dialaminya.
"Pencegahan paling efektif bukan hanya sebuah pengawasan, tapi kualitas hubungan yang baik antara orang tua dan anak. Anak yang memiliki ruang aman untuk bercerita, akan lebih cepat menyadari dan melaporkan situasi yang tidak sehat," jelas Yulian Nanda, dikutip dari Instagram @ihc.rspelni, Senin (19/1).
Berikut langkah-langkah yang dapat dilakukan orang tua untuk melindungi anak dari bahaya child grooming:
1. Menjadi pendengar yang baik: Pastikan anak merasa nyaman bercerita tentang apa pun tanpa takut dimarahi atau dihakimi.
2. Percaya pada insting anak: Jika anak merasa tidak nyaman dengan seseorang, jangan memaksanya untuk tetap dekat dengan orang tersebut, meskipun itu bagian dari keluarga atau teman.
3. Ajarkan anak untuk tidak menyimpan rahasia dari orang tua. Tanamkan aturan bahwa anak harus melaporkan setiap hadiah, pemberian, atau perhatian yang diberikan orang dewasa lain.
4. Ajarkan batasan tubuh, berikan pemahaman tentang bagian tubuh pribadi yang tidak boleh disentuh orang lain. Biasakan anak untuk berkata tidak pada sentuhan yang tidak diinginkan.
5. Kenalkan anak nama-nama organ tubuh yang benar dengan istilah medis. Hal ini dapat membantu anak melaporkan kejadian dengan lebih akurat.
6. Orang tua harus memahami dunia digital anak, seperti aplikasi yang biasa digunakan anak hingga kenali teman-teman daring mereka.



/https%3A%2F%2Fasset.kgnewsroom.com%2Fphoto%2Fpre%2F2024%2F01%2F29%2F812ae2ed-a1bf-494c-9e95-829828b88bb7_jpg.jpg)