Kurs Rupiah Jeblok Nyaris Merapat Rp 17.000

celebesmedia.id
3 jam lalu
Cover Berita

CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Nilai tukar mata uang Indonesia rupiah tembus ke level terburuk sepanjang masa di awal pekan, Senin (19/1/2016) hampir menyentuh kurs Rp 17.000 per dolar AS.

Pengamat pasar keuangan pun memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 16.900 - Rp 17.000 per dolar AS pada perdagangan Selasa (20/1/2026).

Faktor penyebabnya diduga karena meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) dan memburuknya sentimen global.

Pada perdagangan Senin (19/1/2026), rupiah di pasar spot ditutup di level Rp 16.955 per dolar Amerika Serikat (AS). Ini membuat rupiah melemah 0,40% dari akhir pekan lalu pada kurs Rp 16.886 per dolar AS.

Dengan penutupan tersebut, rupiah berada di level terburuk sepanjang masa. Level penutupan terburuk rupiah sebelumnya terjadi 8 April 2025 silam. Kala itu, rupiah ditutup di posisi Rp 16.891 per dolar AS. 

Sejalan dengan hal itu, Rupiah di Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia ada di level Rp 16.935 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Senin (19/1/2026), melemah 0,33% dari perdagangan sebelumnya yang ada di Rp 16.880 per dolar AS.

Ini adalah kedua kalinya rupiah Jisdor tembus ke atas Rp 16.900 per dolar AS. Level terburuk rupiah Jisdor berada di Rp 16.943 per dolar AS, yang terjadi pada 9 April 2025.

Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, seperti dikutip KONTAN, menilai pemicu pelemahan rupiah di awal pekan ini, kombinasi sentimen domestik dan global.

Dari dalam negeri, pasar masih mencermati meningkatnya ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter menjelang Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang akan digelar pada 20-21 Januari 2026, pekan ini.

“Rupiah saat ini bergerak mendekati rekor terendah terhadap dolar AS di tengah meningkatnya ekspektasi pelonggaran moneter menjelang RDGBI. Selain itu, kekhawatiran terhadap defisit anggaran yang berpotensi melampaui 3% juga masih terus membebani pergerakan rupiah,” ujar Lukman kepada Kontan, Senin (19/1/2026).

Dari sisi eksternal, tekanan terhadap mata uang negara berkembang (emerging market), termasuk rupiah, juga datang dari memburuknya sentimen global. Ancaman kebijakan tarif yang kembali dilontarkan Presiden AS Donald Trump kepada negara-negara yang menentang penjualan Greenland ke AS memicu sentimen risk off di pasar keuangan global.

Untuk perdagangan Selasa (20/1/2026), Lukman menilai belum ada rilis data ekonomi penting yang dapat menjadi katalis baru bagi rupiah. Namun, pelaku pasar diperkirakan masih bersikap wait and see sembari mengantisipasi hasil RDG BI.

Dengan begitu Lukman pun memproyeksikan rupiah akan bergerak dalam kisaran Rp 16.900 - Rp 17.000 per dolar AS pada perdagangan Selasa (20/1/2026). 


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Statistik Keren Pascal Struijk: Punya Segudang Pengalaman di Premier League, Bisa Menambah Kuat Pertahanan Timnas Indonesia
• 14 jam lalubola.com
thumb
Bos BI Beri Rekomendasi Calon Pengganti Juda Agung ke Prabowo
• 13 jam laluwartaekonomi.co.id
thumb
Dasco Pastikan Tak Ada Revisi UU Pilkada dalam Waktu Dekat: Prolegnas Fokus UU Pemilu
• 19 jam lalukompas.tv
thumb
Tipu Jual Rumah Fiktif Rp 650 Juta, Erick Julianus Winardi Diadili di PN Surabaya
• 13 jam lalurealita.co
thumb
Korlantas Polri Resmi Terapkan e-BPKB, Target Wajib 2027 untuk Mobil Baru
• 14 jam laluokezone.com
Berhasil disimpan.