OPINI: Short-Term Outlook Harga Minyak 2026

bisnis.com
10 jam lalu
Cover Berita

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar minyak global pada awal 2026 berada dalam tekanan ketidakpastian yang tinggi. Pada saat tulisan ini dibuat, harga minyak bergerak pada level yang relatif rendah, WTI berada di kisaran US$58 per barel dan Brent di US$64 per barel.

Level tersebut jauh lebih rendah dibandingkan awal 2025, di mana WTI berada di sekitar US$78 per barel dan Brent US$82 per barel. Tekanan terhadap pasar dan harga pada awal 2026 ini terutama dipengaruhi oleh dinamika geopolitik terkait AS–Venezuela, Iran dan Green land, serta ekspektasi pelaku pasar terhadap potensi terjadinya kelebihan pasokan (oversupply) minyak global.

Dalam jangka pendek, kurang lebih dalam 3 hingga 6 bulan ke depan, setidaknya terdapat tiga faktor utama yang berpotensi memengaruhi pergerakan harga minyak dunia. Pertama, faktor fundamental yang berkaitan dengan pasokan–permintaan. Kedua, risiko ketidakpastian yang meningkat terutama terkait kondisi geopolitik dan kebijakan luar negeri AS (Trump). Ketiga, dinamika relasi dan interaksi AS dengan OPEC+, khususnya dalam hal ini adalah dengan Arab Saudi dan Rusia dalam mengkompromikan kepentingan terkait (harga) minyak.

Data US Energy Information Administration (2025) memproyeksikan pasar minyak global pada 2026 akan berada dalam kondisi kelebihan pasokan (oversupply). Pasokan minyak global diproyeksi akan berada pada kisaran 107,4 juta barel per hari (bph), meningkat dibandingkan 2025 sebesar 106,2 juta bph. Kenaikan pasokan ini terutama didorong oleh pertumbuhan produksi non-OPEC, yang naik dari 72,5 juta bph pada 2025 menjadi sekitar 73,7 juta bph pada 2026. Kenaikan dari kelompok ini utamanya berasal dari produksi AS, Brasil, Guyana, dan Kanada. Di sisi lain, produksi OPEC+ juga diproyeksi meningkat, dari 33,6 juta bph menjadi sekitar 33,8 juta bph.

Dari sisi permintaan, konsumsi minyak global pada 2026 diperkirakan akan berada pada kisaran 105,2 juta barel per hari, meningkat terbatas dari 103,9 juta bph pada 2025. Sebagian besar pertumbuhan permintaan minyak berasal dari kelompok negara non-OECD di kawasan Asia, terutama China (+300.000 bph) dan India (+170.000 bph). Di luar Asia, kawasan Timur Tengah dan Afrika menjadi sumber tambahan pertumbuhan permintaan non-OECD pada 2026, dengan estimasi kenaikan konsumsi masing-masing sekitar 100.000 bph dan 150.000 bph.

Proyeksi pertumbuhan permintaan minyak global yang terbatas pada 2026 terutama karena pasar masih dibayangi oleh risiko perlambatan ekonomi dunia. International Monetary Fund (IMF) memperkirakan bahwa pertumbuhan GDP global akan berada di kisaran 3,1% pada 2026, sedikit lebih rendah dibandingkan 2025 yaitu 3,2%. Sementara laporan the United Nations (2026) memperkirakan pertumbuhan ekonomi global 2026 hanya pada kisaran 2,7% atau lebih rendah dari tingkat sebelum pandemi.

Baca Juga

  • OPINI : Short-Term Outlook Harga Minyak 2026
  • Harga Minyak Dunia Selasa (20/1) Tak Banyak Bergerak di Tengah Krisis Greenland
  • BPS: Harga Minyak Goreng Naik di 109 Wilayah Indonesia

GEOPOLITIK AS-TRUMP

Pendekatan kebijakan AS-Trump yang cenderung uni lateral, transaksional, dan sulit diprediksi termasuk penerapan tarif resiprokal, intervensi terhadap pemerintahan Venezuela serta eskalasi ketegangan dengan Iran dan terkait Greenland memberi tekanan lebih besar lagi terhadap ekonomi global yang pada dasarnya memang melambat dan makin meningkatkan risiko di pasar minyak dunia.

Dalam jangka pendek, intervensi Amerika Serikat terhadap Venezuela berpotensi memicu ketidakseimbangan sementara antara pasokan dan permintaan minyak global, terutama melalui perubahan arus perdagangan minyak. Berdasarkan publikasi Reuters (2024), ekspor minyak Venezuela berada di kisaran ±770.000 barel per hari, di mana China merupakan importir terbesar sekitar 351.000 bph, disusul oleh AS sekitar 222.000 bph, Eropa sekitar 75.000 bph, dan India sekitar 63.000 barel per hari.

Intervensi AS berpotensi mengganggu arus ekspor minyak Venezuela ke Asia, khususnya ke China, yang selama ini menjadi tujuan utama. Kondisi yang demikian berpotensi mendorong dilakukannya proses penyesuaian ulang terhadap pola aliran pasokan minyak global dan berpotensi mendorong fluktuasi harga minyak pada tingkatan terbatas.

Dinamika serupa juga berlaku dalam konteks meningkatnya ketegangan antara AS dan Iran. Kawasan Timur Tengah memiliki peran strategis dalam sistem energi global, terutama Selat Hormuz yang menjadi jalur vital perdagangan energi dan dilintasi sekitar 20%—30% pasokan minyak dunia. Risiko terhadap tekanan terhadap kondisi ekonomi global dan harga minyak akan semakin meningkat apabila pemerintahan Trump melanjutkan manuver lainnya.

RELASI AS-OPEC+

Titik keseimbangan harga minyak global pada 2026 tidak dapat dilepaskan dari dinamika relasi antara AS dan OPEC+, yang masing-masing memiliki kepentingan berbeda tetapi saling membatasi. Bagi AS, harga minyak yang moderat menjadi penting untuk menjaga stabilitas inflasi domestik, mempertahankan daya beli konsumen, serta memastikan keberlanjutan industri shale oil yang memiliki struktur biaya relatif lebih tinggi dibandingkan lapangan konvensional.

Harga minyak yang terlalu rendah berisiko menekan investasi dan produksi shale, sementara harga minyak yang terlalu tinggi akan memicu inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi AS. Di sisi lain, negara-negara OPEC+ memiliki ketergantungan fiskal yang tinggi terhadap pendapatan dari minyak. Porsi pendapatan minyak terhadap penerimaan negara di sejumlah anggota utama OPEC+ seperti Arab Saudi, Irak, dan Kuwait berkisar di atas 50%, bahkan mendekati 70% pada beberapa periode.

Ketergantungan ini mendorong OPEC+ untuk cenderung berupaya mempertahankan harga minyak pada level yang relatif tinggi demi menjaga keseimbangan anggaran dan stabilitas ekonomi domestik.

Dalam konteks tersebut, dari tinjauan ekspektasi dengan tetap mendasarkan pada faktor fundamental, dan dengan catatan tidak terjadi kejadian luar biasa yang menimbulkan shock yang tidak terkendali pada ekonomi dan geopolitik global, dalam jangka pendek kisaran harga minyak US$55–65 per barel dapat dipandang sebagai titik “kompromi” yang relatif moderat dan rasional. Merujuk data Rystad Energy (2024) rentang harga ini masih di atas biaya produksi lapangan konvensional Timur Tengah yang memiliki breakeven sekitar US$25—US$30 per barel atau lebih rendah, sekaligus cukup untuk menjaga keekonomian pasokan dari lapangan non-konvensional.

Dalam hal ini, shale dan tight oil Amerika Utara saat ini umumnya mem butuhkan harga sekitar US$40—US$50 per barel, off-shore shelf di kisaran US$35–US$40 per barel, deepwater sekitar US$40–US$45 per barel, sementara oil sands dan heavy oil berada pada kisaran US$50–US$60 per barel. Dengan demikian, dalam kondisi pasar minyak yang dibayangi risiko oversupply, pertumbuhan permintaan yang moderat-melambat, dan ketidakpastian geopolitik yang tinggi, dari sudut pandang ekonomi migas global rentang harga tersebut dapat dikatakan relatif menjadi short run equilibrium antara kepentingan produsen-konsumen minyak utama, stabilitas ekonomi dan keberlangsungan industri migas global.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Haul Ponpes Assalafi Kedinding Surabaya Akan Dihadiri Ratusan Ribu Jemaah, Panitia Imbau Potensi Kemacetan
• 23 jam lalusuarasurabaya.net
thumb
Anak Eks Bupati Sleman Jadi Saksi Sidang Korupsi Dana Hibah Pariwisata
• 2 jam lalukumparan.com
thumb
Prabowo Pimpin Rapat dari London, Bahas Satgas Penerbitan Kawasan Hutan
• 20 jam laluliputan6.com
thumb
Perkuat Lini Pertahanan, Bali United Pinjam Yusuf Meilana dari Persik Kediri
• 1 jam lalumetrotvnews.com
thumb
IP Animasi Populer Asal Tiongkok, Nailoong, Resmi Hadir di Indonesia
• 9 jam lalutabloidbintang.com
Berhasil disimpan.