Mengapa Validasi Ayah Penting bagi Masa Depan Anak Perempuan

kumparan.com
13 jam lalu
Cover Berita

Di Indonesia, istilah fatherless sering dipahami secara sempit sebagai kondisi anak yang tumbuh tanpa ayah karena meninggal atau perceraian. Padahal, ada bentuk lain yang jauh lebih sunyi dan kerap luput dari perhatian: fatherless secara emosional. Anak—terutama anak perempuan—memiliki ayah yang hadir secara fisik, bekerja setiap hari, pulang ke rumah setiap malam, tetapi nyaris tidak pernah benar-benar hadir sebagai sosok emosional yang utuh. Banyak anak perempuan tumbuh bersama ayah yang “ada”, tetapi tidak pernah merasa ditemani. Mereka menjadi yatim, bukan karena kehilangan figur ayah secara biologis, melainkan karena kehilangan kehangatan dan pengakuan emosional dari sosok yang seharusnya menjadi pelindung pertama. Ayah yang Hadir, tetapi Absen secara Emosional Fenomena fatherless emosional bukan berarti para ayah tidak mencintai anak perempuannya. Jika ditanya, hampir semua ayah akan menjawab bahwa mereka sayang dan peduli. Masalahnya, banyak ayah tidak pernah benar-benar diajari bagaimana cara mengekspresikan kasih sayang itu. Peran ayah sering dipahami sebatas bekerja dan mencari nafkah. Urusan emosi, komunikasi, dan pengasuhan dianggap wilayah ibu sepenuhnya. Banyak ayah bersikap dingin, minim dialog, dan jarang menunjukkan afeksi bukan karena tidak peduli, tetapi karena tidak paham bagaimana menjalani peran sebagai ayah yang utuh. Sikap ini merupakan hasil konstruksi sosial yang diwariskan lintas generasi. Banyak laki-laki tumbuh dengan figur ayah yang keras, kaku, dan jauh secara emosional. Ketika mereka menjadi ayah, pola itu diulang tanpa disadari. Tuntutan maskulinitas—bahwa laki-laki harus kuat dan tidak emosional—semakin menjauhkan ayah dari dunia batin anak perempuannya. Validasi Ayah dan Pembentukan Harga Diri Anak Perempuan Bagi anak perempuan, kehadiran emosional ayah memiliki dampak yang sangat besar. Anak perempuan cenderung membangun rasa aman dan harga diri melalui relasi emosional. Validasi dari ayah—bukan sekadar perhatian materi—menjadi pondasi penting dalam pembentukan kepercayaan diri. Validasi bukan berarti memanjakan. Ia adalah pengakuan atas usaha, perasaan, dan keberadaan anak. Ungkapan sederhana seperti, “Ayah bangga kamu sudah berusaha,” atau “Ayah sayang kamu, hasil bukan segalanya,” mungkin terdengar remeh bagi orang dewasa. Namun bagi anak perempuan, kalimat-kalimat semacam ini memiliki kekuatan luar biasa. Melalui validasi, anak merasa dihargai dan diakui. Dari sanalah tumbuh rasa percaya diri, keberanian menyampaikan pendapat, dan keyakinan bahwa dirinya berharga tanpa harus terus membuktikan diri secara berlebihan. Sebaliknya, ketiadaan validasi membuat anak perempuan tumbuh dengan perasaan tidak pernah cukup. Ia terbiasa bekerja keras dan menekan diri demi pengakuan yang tak kunjung datang. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat membentuk mental yang tampak kuat di luar, tetapi rapuh di dalam. Ayah sebagai Cermin Relasi Laki-Laki dalam Hidup Anak Perempuan Ayah adalah figur laki-laki pertama yang membentuk standar relasi dalam hidup anak perempuan. Cara ayah memperlakukan anaknya—apakah dengan empati, penghargaan, dan kehangatan, atau sebaliknya dengan jarak dan tekanan—akan menjadi cermin bawah sadar ketika sang anak menjalin hubungan dengan lawan jenis di masa depan. Anak perempuan yang tumbuh dengan validasi emosional cenderung tidak mudah dimanipulasi, berani menetapkan batas, dan lebih mampu mengenali relasi yang sehat. Ia tidak bergantung pada pengakuan orang lain untuk merasa berharga. Sebaliknya, kekosongan emosional membuat anak perempuan rentan terhadap relasi manipulatif, eksploitasi emosi, bahkan child grooming. Ketika kebutuhan akan cinta dan pengakuan tidak terpenuhi di rumah, ia akan mencarinya di luar—sering kali tanpa bekal emosional yang memadai. Dalam konteks ini, validasi ayah sejatinya adalah bentuk perlindungan jangka panjang. Teladan dalam Sejarah: Ketika Ayah Hadir, Peradaban Tumbuh Persoalan fatherless emosional bukanlah fenomena Barat yang asing bagi budaya kita. Sejarah justru menunjukkan bahwa peradaban besar lahir dari keluarga-keluarga yang memaknai peran ayah secara utuh. Dalam sejarah Indonesia, Raden Ajeng Rasuna Said tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memberi ruang besar bagi pendidikan dan keberanian berpikir. Ayahnya berperan penting dalam membentuk karakter Rasuna sebagai perempuan yang kritis, berani bersuara, dan teguh dalam prinsip. Kehadiran ayah tidak hanya sebagai pencari nafkah, tetapi juga sebagai pendidik dan pendukung intelektual. Di banyak keluarga Nusantara—terutama dalam tradisi ulama dan pendidik—ayah terlibat langsung dalam pendidikan anak perempuan. Mereka diajak berdialog, didorong untuk belajar, dan dihargai pendapatnya. Sejarah mencatat bahwa perempuan-perempuan terdidik inilah yang kelak menjadi ibu bagi generasi yang kuat, beradab, dan berdaya pikir. Menghadirkan Ayah secara Utuh: Dari Kesadaran ke Tindakan Menghadirkan ayah secara utuh bukan perkara besar yang sulit dilakukan. Ia dimulai dari hal-hal sederhana: meluangkan waktu untuk mendengar tanpa menghakimi, memberikan pujian atas usaha bukan hanya hasil, berani mengungkapkan kasih sayang secara verbal, dan membangun komunikasi yang aman. Bagi laki-laki yang belum menjadi ayah, kesadaran ini penting sebagai bekal. Peran ayah tidak dimulai ketika anak lahir, melainkan ketika seorang laki-laki memahami bahwa kepemimpinan di rumah mencakup tanggung jawab emosional, bukan hanya ekonomi. Bagi ayah yang telah memiliki anak perempuan, tidak ada kata terlambat untuk belajar dan memperbaiki diri. Anak perempuan tidak membutuhkan ayah yang sempurna, tetapi ayah yang hadir. Ayah yang mau belajar mendengar, mengakui, dan menyayangi tanpa syarat. Sebab di balik validasi sederhana dari seorang ayah, tersimpan masa depan seorang anak perempuan—dan di balik masa depan anak perempuan, terletak arah peradaban itu sendiri.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Jenazah Florencia Pramugari Pesawat ATR Ditemukan
• 6 jam lalukumparan.com
thumb
Mahasiswa di London Kagumi Sikap Humble Presiden Prabowo saat Kunjungan Kerja
• 6 jam lalumatamata.com
thumb
KPK Tetapkan Sudewo Bupati Pati Tersangka Korupsi Pengisian Jabatan Perangkat Desa
• 15 menit lalusuarasurabaya.net
thumb
Imbas Ketegangan Iran-AS Memanas, Harga Minyak Dunia Kini Terancam
• 40 menit laludisway.id
thumb
Puskapol UI Beri Masukan dan Catatan Buat RUU Pemilu, Soroti Marak Politik Uang
• 3 jam lalukumparan.com
Berhasil disimpan.