Sebuah aplikasi keselamatan dengan nama yang sangat mencolok melonjak di tangga aplikasi Apple, mencerminkan meningkatnya kecemasan di kalangan populasi Tiongkok yang kian besar dan hidup sendirian.
EtIndonesia. Sebuah aplikasi baru asal Tiongkok bernama Sileme (死了吗) juga nama lainnya Demumu atau “Apakah Kamu Mati” menjadi viral dalam beberapa hari terakhir. Awal pekan ini, aplikasi tersebut sempat menduduki peringkat pertama dalam daftar aplikasi utilitas berbayar teratas Apple di Tiongkok, sebelum turun ke posisi kedua pada Rabu.
Fungsi aplikasi ini sangat sederhana dan lugas. Pengguna menunjuk satu kontak darurat dan diwajibkan melakukan check-in secara berkala. Jika pengguna gagal melakukan check-in selama dua hari berturut-turut, sistem secara otomatis akan mengirim email peringatan kepada kontak tersebut. Aplikasi ini secara khusus ditujukan bagi orang-orang yang tinggal sendirian.
Kesuksesan mendadak aplikasi ini telah mengubah sebuah startup kecil beranggotakan tiga orang yang sebelumnya nyaris tak dikenal menjadi fenomena viral. Para analis menilai hal ini sebagai cerminan yang mengganggu dari kehidupan modern di daratan Tiongkok.
Pasar Hidup Sendirian yang Terus MembengkakKeberhasilan aplikasi ini menyoroti tren meningkatnya jumlah orang yang hidup sendirian di Tiongkok. Menurut laporan tahun 2023 dari Beike Research Institute yang dikutip media pemerintah Tiongkok Xinhua, populasi warga yang hidup sendiri diperkirakan akan mencapai 150 juta hingga 200 juta orang pada 2030, atau sekitar 30 persen dari populasi dewasa.
Para pencipta “Are You Dead?” mengatakan bahwa mereka merespons langsung realitas demografis tersebut.
Aplikasi ini dikembangkan oleh Yuejing Technology Services Co., yang didirikan pada pertengahan 2025. Penciptanya—yang hanya mengungkapkan marganya, Guo, kepada media Tiongkok Lanjing News—mengatakan bahwa pengembangan aplikasi memakan waktu kurang dari sebulan dengan biaya sekitar 1.000 yuan (sekitar US$140).
Awalnya gratis, aplikasi ini kini dijual seharga 8 yuan (sekitar US$1,10) dan untuk saat ini hanya tersedia di App Store milik Apple.
Guo menjelaskan bahwa ide aplikasi ini—termasuk nama yang sengaja dibuat sangat blak-blakan—muncul dari diskusi daring di kalangan anak muda yang khawatir darurat medis atau kecelakaan mereka tidak akan diketahui siapa pun ketika hidup sendirian.
“Kebutuhan Dasar Akan Keamanan”Komentator politik Tiongkok Tang Xiaolan menulis di media yang dikendalikan negara, China Jilin Network, bahwa popularitas aplikasi ini mencerminkan ketakutan luas terhadap fenomena yang dikenal di Asia Timur sebagai “kematian kesepian”—meninggal dunia tanpa diketahui dan tanpa pendamping.
“Dalam masyarakat modern, mobilitas penduduk yang tinggi telah mengikis jaringan keluarga dan lingkungan tradisional,” tulis Tang.
“Darurat medis di malam hari, pindah rumah sendirian, berobat tanpa ada orang yang menandatangani formulir persetujuan—semua ini adalah risiko sehari-hari bagi mereka yang hidup sendiri. Peringatan keselamatan kini telah menjadi kebutuhan dasar.”
Meski aplikasi pelacak kesehatan atau peringatan darurat sudah lazim secara global, para analis menilai kasus di Tiongkok memiliki makna yang berbeda karena apa yang kini disimbolkan oleh aplikasi tersebut.
“Yang mengejutkan bukanlah keberadaan aplikasi seperti ini,” kata Lai Jianping, mantan pengacara Beijing dan presiden Federation for a Democratic China yang berbasis di Kanada, kepada NTD edisi bahasa Tionghoa.
“Yang mengejutkan adalah begitu banyak anak muda merasa mereka membutuhkannya.”
Lai berpendapat bahwa Tiongkok tidak memiliki jaring pengaman sosial yang komprehensif dan terinstitusionalisasi yang dapat diandalkan masyarakat saat berada dalam kondisi rentan.
“Tak seorang pun tahu kapan sesuatu bisa terjadi,” ujarnya.
“[Di Tiongkok], ada ketakutan akan penghilangan paksa, pengambilan organ, dijebak sindikat penipuan, atau bahkan diculik dan dibawa ke luar negeri. Semua itu mungkin terjadi. Jika digabungkan, risiko-risiko ini membantu menjelaskan mengapa sebagian anak muda beralih ke alat seperti ini.”
Kecemasan EkonomiBudaya Tiongkok secara tradisional menghindari pembicaraan terbuka tentang kematian, sehingga penamaan aplikasi yang sangat gamblang ini terasa semakin mencolok.
Wang, seorang dosen universitas di Tiongkok yang berbicara kepada NTD dan hanya menyebutkan marganya demi alasan keamanan, mengatakan bahwa orang-orang yang lebih tua di sekitarnya merasa nama aplikasi ini mengganggu—menunjukkan bahwa basis pengguna utamanya adalah generasi muda.
“Anak muda merasa terjebak,” kata Wang.
“Ekonomi melambat, pekerjaan sulit didapat, harga rumah tak terjangkau, dan pernikahan terasa semakin jauh. Banyak yang hanya menyewa apartemen kecil dan bertahan hidup seadanya.”
Tekanan ini diperparah oleh terbatasnya belanja kesejahteraan publik. Menurut data Bank Dunia, pengeluaran Tiongkok untuk layanan kesehatan bagi populasi umum hanya mencapai 5,37 persen dari PDB—lebih rendah dibandingkan sebagian besar negara BRICS, termasuk Brasil dan Rusia, serta di bawah banyak negara maju.
Lonjakan popularitas aplikasi “Are You Dead?” terjadi di tengah tanda-tanda pesimisme ekonomi yang lebih luas di Tiongkok. Para analis mengamati meningkatnya fenomena “tabungan defensif” di kalangan masyarakat Tiongkok akibat kekhawatiran akan darurat pribadi dan melemahnya kepercayaan konsumen—tren yang kerap dikaitkan dengan ketidakpastian masa depan.
Yang Xu turut berkontribusi dalam laporan ini.





