Diplomat Inti Iran Kabur & Ajukan Suaka ke Swiss — Apakah Rezim Teheran Mulai Runtuh dari Dalam?

erabaru.net
10 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Situasi politik dan keamanan di Iran memasuki fase yang semakin genting. Dalam perkembangan terbaru yang bersifat mendesak, media Inggris, Iran International melaporkan bahwa Alireza Jeyrani Hokmabad, Wakil Kepala Delegasi Iran untuk Jenewa, telah meninggalkan jabatannya bersama seluruh anggota keluarganya dan secara resmi mengajukan permohonan suaka politik kepada Pemerintah Swiss.

Menurut sumber internal yang dikutip Iran International, langkah tersebut diambil karena kekhawatiran serius Hokmabad terhadap kondisi dalam negeri Iran yang terus bergejolak, serta ketidakpastian masa depan rezim yang dinilai semakin rapuh.

Diplomat Senior Tinggalkan Jabatan, Isyarat Retaknya Sistem

Hokmabad saat ini menjabat sebagai Wakil Kepala Perwakilan Tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa dan organisasi internasional lainnya di Jenewa, dengan status diplomat senior dan kewenangan setingkat duta besar berkuasa penuh. Dia dikenal sebagai salah satu figur inti dalam jaringan diplomasi Iran di Eropa.

Sumber yang sama menyebutkan bahwa, seiring meningkatnya sorotan dunia internasional terhadap penindasan brutal terhadap demonstran di Iran—termasuk tekanan dari Parlemen Eropa dan lembaga-lembaga HAM—semakin banyak diplomat Iran di Eropa diam-diam mencari jalur suaka politik. Kepergian Hokmabad dikhawatirkan menjadi awal dari gelombang pelarian kolektif pejabat diplomatik Iran, yang mencerminkan krisis kepercayaan internal terhadap keberlangsungan rezim Teheran.

Prediksi Mengejutkan: Khamenei Jadi Target Operasi Khusus

Sementara itu, ketegangan meningkat setelah The Times of Israel pada 18 Januari 2026 mengutip pernyataan Dan Shapiro, mantan Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel pada era Presiden Barack Obama.

Shapiro secara terbuka memprediksi bahwa Presiden AS, Donald Trump kemungkinan besar dapat memerintahkan operasi pembunuhan terarah terhadap Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, dalam hitungan hari ke depan.

Pernyataan tersebut muncul di tengah pergerakan kelompok kapal induk Angkatan Laut AS menuju kawasan Timur Tengah, yang dinilai memberikan Amerika Serikat kapasitas nyata untuk melancarkan serangan udara presisi terhadap target bernilai strategis di Teheran.

Menurut Shapiro, kombinasi antara sikap keras Trump terhadap rezim Iran dan serangkaian provokasi terbuka Khamenei—termasuk melalui pernyataan publik dan media sosial—telah secara signifikan meningkatkan risiko Washington mengambil langkah ekstrem yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Namun demikian, Shapiro menegaskan bahwa pernyataannya merupakan analisis pribadi, bukan cerminan keputusan resmi Pemerintah Amerika Serikat. Dia juga menekankan bahwa bahkan jika Khamenei disingkirkan, perubahan rezim tidak akan terjadi secara otomatis. Struktur kekuasaan Iran kemungkinan akan mengalami turbulensi internal baru, dan arah akhir politik negara tersebut tetap sangat bergantung pada keputusan dan kehendak rakyat Iran sendiri.

Trump: Iran Butuh Kepemimpinan Baru

Sinyal eskalasi juga terlihat jelas dari pernyataan resmi Presiden Trump. Majalah Time, mengutip wawancara Trump dengan Politico, melaporkan bahwa Trump secara tegas menyatakan Iran membutuhkan kepemimpinan baru.

Dalam wawancara tersebut, Trump berulang kali mengkritik Khamenei—yang kini berusia 86 tahun—dengan tudingan bahwa sang pemimpin tertinggi telah menghancurkan negara dan mempertahankan kekuasaan melalui kekerasan dan penindasan sistematis.

Trump juga mengungkapkan bahwa dirinya telah menerima berbagai pengarahan kebijakan, termasuk opsi militer, meskipun belum memastikan apakah opsi tersebut akan dieksekusi. Laporan yang sama menyebutkan bahwa Trump telah membatalkan seluruh jalur komunikasi dan kontak yang sebelumnya direncanakan dengan pejabat Iran, sebuah langkah yang menandai memburuknya hubungan diplomatik secara drastis.

Korban Protes Terus Bertambah, Penangkapan Massal

Di sisi lain, data terbaru dari Human Rights Activists in Iran (HRAA) semakin memperparah kekhawatiran internasional. Dalam laporan yang dirilis pada 19 Januari 2026, HRAA menyatakan bahwa sedikitnya 3.090 orang telah tewas dalam gelombang protes terbaru di Iran.

Dari jumlah tersebut, 2.885 korban adalah demonstran sipil, sementara lebih dari 22.000 orang telah ditangkap oleh aparat keamanan Iran dalam operasi penindasan yang berlangsung secara nasional.

Pergerakan Militer AS di Irak dan Dukungan Global

Perhatian internasional juga tertuju pada perkembangan militer Amerika Serikat di kawasan. Sejumlah media internasional melaporkan bahwa pasukan AS telah ditarik dari Al-Asad Airbase, di Irak barat, dan pangkalan tersebut kini sepenuhnya berada di bawah kendali militer Irak.

Di luar Timur Tengah, dukungan global terhadap rakyat Iran terus menguat. Di Canada, puluhan ribu warga tetap turun ke jalan meskipun dilanda badai salju, menyuarakan solidaritas terhadap demonstran Iran dan menuntut diakhirinya kekuasaan Republik Islam.

Spekulasi Penutupan Jalan Pelarian Elite Rezim

Di media sosial, seorang warganet menuliskan bahwa Khamenei sebenarnya sempat memiliki kesempatan untuk melarikan diri dengan jaminan keselamatan, namun tenggat waktu tersebut disebut telah berlalu. Menurut spekulasi tersebut, Khamenei dan lingkaran elite rezimnya kini tidak lagi diizinkan meninggalkan Iran, sementara proses hukum terhadap para pelaku kejahatan berat rezim disebut-sebut akan segera dimulai.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Cicipi Es Kacang Hijau Legendaris Sejak 1992, Kuliner Ikonik di Kabupaten Kediri | KOMPAS SIANG
• 7 jam lalukompas.tv
thumb
Polda Lampung gagalkan penyeludupan sabu 10,63 kg dari Aceh 
• 13 jam laluantaranews.com
thumb
Fokus WEF 2026: Diplomasi Greenland dan Kecerdasan Buatan
• 1 jam lalutvrinews.com
thumb
Performa Menurun, Pemain Arema FC Ini Kabarnya Jadi Incaran PSM Makassar
• 6 jam lalufajar.co.id
thumb
Selain Jonatan, sejumlah unggulan absen dari Indonesia Masters 2026
• 21 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.