EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kini resmi melampaui perang opini dan propaganda diplomatik. Pada pertengahan Januari 2026, Angkatan Laut Amerika Serikat secara terbuka mengerahkan kekuatan militernya dalam skala besar ke kawasan Timur Tengah—sebuah langkah yang oleh para analis disebut sebagai “daftar baja”, simbol bahwa opsi militer telah benar-benar dibuka.
Dua Kelompok Tempur Kapal Induk AS Bergerak Serempak
Pada 15 Januari 2026, kelompok tempur kapal induk USS George H. W. Bush dilaporkan telah mengangkat jangkar dan berlayar dengan kecepatan penuh menuju kawasan Mediterania. Armada ini dijadwalkan melintasi Terusan Suez, memasuki Laut Merah, dan selanjutnya bergabung dengan kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln yang telah lebih dahulu berada di Laut Arab.
Kedua kelompok tempur tersebut mencakup:
- Lebih dari 180 pesawat tempur berbasis kapal induk
- Kapal perusak dan kapal penjelajah yang dipersenjatai rudal jelajah Tomahawk
- Kapal selam nuklir kelas Ohio yang beroperasi secara senyap
- Puluhan ribu personel militer dan Marinir AS
Menurut pengamat pertahanan, konfigurasi kekuatan ini cukup untuk melumpuhkan negara berukuran menengah hanya dalam hitungan jam, jika perintah serangan diberikan.
Tiga Langkah Iran yang Melanggar “Garis Merah” Trump
Dalam beberapa hari terakhir, rezim Iran dinilai telah melakukan tiga tindakan besar yang secara langsung melanggar garis merah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Langkah-langkah tersebut mempercepat eskalasi menuju konfrontasi terbuka dan mempersempit ruang diplomasi.
Seiring mendekatnya armada USS Abraham Lincoln, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) justru mengunggah ancaman terbuka yang menyatakan bahwa jika Amerika Serikat menyerang, maka puluhan ribu warga Iran yang ditangkap dalam demonstrasi akan dieksekusi.
Ancaman ini memicu keterkejutan luas, termasuk di kalangan pengamat internasional. Alih-alih mengancam balasan terhadap AS, rezim justru menyasar rakyatnya sendiri.
Pidato Langka dan Bernuansa Darah dari Khamenei
Pada 14 Januari 2026, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei menyampaikan pidato publik yang sangat jarang terjadi, dengan nada yang oleh banyak pihak dinilai ekstrem dan bernuansa kekerasan. Dalam pidato tersebut, Khamenei:
- Menyebut Trump sebagai penjahat kriminal
- Secara terbuka menyerukan pembunuhan terhadap para demonstran Iran
Sehari kemudian, 15 Januari 2026, Khamenei kembali mengunggah pernyataan resmi yang menuduh:
“Kami menganggap Presiden Amerika Serikat bersalah karena telah menyebabkan korban jiwa, kerusakan, dan pencemaran nama baik terhadap negara Iran.”
Respons Trump: Seruan Terbuka untuk Kepemimpinan Baru Iran
Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Washington. Pada 16 Januari 2026, Presiden Trump secara terbuka menyebut Khamenei “sakit”, menudingnya telah menjadikan Iran sebagai negara dengan kualitas hidup terburuk di dunia, dan menyatakan bahwa:
- Iran sudah saatnya memiliki kepemimpinan baru
- Kekuasaan Khamenei selama 37 tahun harus diakhiri
Pada hari yang sama, Departemen Luar Negeri AS, melalui situs resminya dalam bahasa Persia, mengeluarkan peringatan keras yang menegaskan:
- Setiap serangan Iran terhadap aset Amerika Serikat akan dibalas secara dahsyat
- Teheran diperingatkan agar tidak bermain-main dengan Trump, karena risikonya tidak akan mampu mereka tanggung
Retaknya Sistem Komando di Dalam Rezim Iran
Para analis menilai, keputusan Khamenei untuk secara terbuka memerintahkan pembunuhan demonstran justru mengungkap kelemahan fatal di dalam sistem kekuasaannya. Dalam kondisi normal, perintah semacam itu biasanya disampaikan secara tertutup.
Langkah ini mengindikasikan bahwa:
- Rantai komando di bawah Khamenei mulai retak
- Aparat pelaksana, termasuk IRGC dan hakim agama, mulai ragu
- Banyak pihak khawatir akan dijadikan kambing hitam jika rezim runtuh
Seorang analis menggambarkan situasi ini sebagai: “Seperti kapten kapal yang hampir tenggelam, lalu secara histeris memerintahkan awaknya menembaki para penumpang.”
Ketergantungan pada Milisi Asing, Legitimasi Rezim Nol
Tanda lain runtuhnya otoritas negara terlihat dari penggunaan kekuatan asing untuk menekan demonstrasi. Dalam beberapa kesempatan, latar belakang juru bicara Iran menampilkan simbol kelompok-kelompok berikut:
- Hizbullah Lebanon
- Houthi Yaman
- Milisi Syiah Irak
- Hamas
- Tentara bayaran Syiah dari Afghanistan dan Pakistan
Jika aparat keamanan Iran masih solid, tidak ada kebutuhan untuk mendatangkan milisi asing bertopeng guna menembaki rakyat sendiri. Ketergantungan ini dinilai sebagai bukti bahwa legitimasi rezim telah runtuh total.
Reza Pahlavi: Ini Bukan Penindasan, Ini Invasi
Menanggapi situasi tersebut, Reza Pahlavi, Putra Mahkota Iran di pengasingan, menyatakan bahwa: “Iran saat ini tidak memiliki pemerintahan. Yang ada hanyalah pasukan pendudukan musuh.”
Dia menegaskan bahwa rezim Teheran:
- Menggunakan teroris asing dan milisi pro-Beijing
- Memanfaatkan pasukan Irak dan kekuatan eksternal lainnya
- Melakukan invasi terselubung terhadap rakyat Iran dengan jubah agama
Menurut Pahlavi, tindakan Khamenei dan kroninya bukan sekadar kejahatan domestik, melainkan kejahatan besar terhadap umat manusia.



/https%3A%2F%2Fcdn-dam.kompas.id%2Fimages%2F2026%2F01%2F19%2F3948e63184c4f812bf4589d161c8c43f-WhatsApp_Image_2026_01_19_at_13.55.39.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5471326/original/075133300_1768283646-John_Herdman_-5.jpg)