Mengapa Rezim Iran Mengancam Membunuh Rakyatnya Saat Armada AS Mendekat?

erabaru.net
3 jam lalu
Cover Berita

EtIndonesia. Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran kini resmi melampaui perang opini dan propaganda diplomatik. Pada pertengahan Januari 2026, Angkatan Laut Amerika Serikat secara terbuka mengerahkan kekuatan militernya dalam skala besar ke kawasan Timur Tengah—sebuah langkah yang oleh para analis disebut sebagai “daftar baja”, simbol bahwa opsi militer telah benar-benar dibuka.

Dua Kelompok Tempur Kapal Induk AS Bergerak Serempak

Pada 15 Januari 2026, kelompok tempur kapal induk USS George H. W. Bush dilaporkan telah mengangkat jangkar dan berlayar dengan kecepatan penuh menuju kawasan Mediterania. Armada ini dijadwalkan melintasi Terusan Suez, memasuki Laut Merah, dan selanjutnya bergabung dengan kelompok tempur kapal induk USS Abraham Lincoln yang telah lebih dahulu berada di Laut Arab.

Kedua kelompok tempur tersebut mencakup:

Menurut pengamat pertahanan, konfigurasi kekuatan ini cukup untuk melumpuhkan negara berukuran menengah hanya dalam hitungan jam, jika perintah serangan diberikan.

Tiga Langkah Iran yang Melanggar “Garis Merah” Trump

Dalam beberapa hari terakhir, rezim Iran dinilai telah melakukan tiga tindakan besar yang secara langsung melanggar garis merah Presiden Amerika Serikat,  Donald Trump. Langkah-langkah tersebut mempercepat eskalasi menuju konfrontasi terbuka dan mempersempit ruang diplomasi.

Seiring mendekatnya armada USS Abraham Lincoln, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) justru mengunggah ancaman terbuka yang menyatakan bahwa jika Amerika Serikat menyerang, maka puluhan ribu warga Iran yang ditangkap dalam demonstrasi akan dieksekusi.

Ancaman ini memicu keterkejutan luas, termasuk di kalangan pengamat internasional. Alih-alih mengancam balasan terhadap AS, rezim justru menyasar rakyatnya sendiri.

Pidato Langka dan Bernuansa Darah dari Khamenei

Pada 14 Januari 2026, Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei menyampaikan pidato publik yang sangat jarang terjadi, dengan nada yang oleh banyak pihak dinilai ekstrem dan bernuansa kekerasan. Dalam pidato tersebut, Khamenei:

Sehari kemudian, 15 Januari 2026, Khamenei kembali mengunggah pernyataan resmi yang menuduh:

“Kami menganggap Presiden Amerika Serikat bersalah karena telah menyebabkan korban jiwa, kerusakan, dan pencemaran nama baik terhadap negara Iran.”

Respons Trump: Seruan Terbuka untuk Kepemimpinan Baru Iran

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Washington. Pada 16 Januari 2026, Presiden Trump secara terbuka menyebut Khamenei “sakit”, menudingnya telah menjadikan Iran sebagai negara dengan kualitas hidup terburuk di dunia, dan menyatakan bahwa:

Pada hari yang sama, Departemen Luar Negeri AS, melalui situs resminya dalam bahasa Persia, mengeluarkan peringatan keras yang menegaskan:

Retaknya Sistem Komando di Dalam Rezim Iran

Para analis menilai, keputusan Khamenei untuk secara terbuka memerintahkan pembunuhan demonstran justru mengungkap kelemahan fatal di dalam sistem kekuasaannya. Dalam kondisi normal, perintah semacam itu biasanya disampaikan secara tertutup.

Langkah ini mengindikasikan bahwa:

Seorang analis menggambarkan situasi ini sebagai: “Seperti kapten kapal yang hampir tenggelam, lalu secara histeris memerintahkan awaknya menembaki para penumpang.”

Ketergantungan pada Milisi Asing, Legitimasi Rezim Nol

Tanda lain runtuhnya otoritas negara terlihat dari penggunaan kekuatan asing untuk menekan demonstrasi. Dalam beberapa kesempatan, latar belakang juru bicara Iran menampilkan simbol kelompok-kelompok berikut:

Jika aparat keamanan Iran masih solid, tidak ada kebutuhan untuk mendatangkan milisi asing bertopeng guna menembaki rakyat sendiri. Ketergantungan ini dinilai sebagai bukti bahwa legitimasi rezim telah runtuh total.

Reza Pahlavi: Ini Bukan Penindasan, Ini Invasi

Menanggapi situasi tersebut, Reza Pahlavi, Putra Mahkota Iran di pengasingan, menyatakan bahwa: “Iran saat ini tidak memiliki pemerintahan. Yang ada hanyalah pasukan pendudukan musuh.”

Dia menegaskan bahwa rezim Teheran:

Menurut Pahlavi, tindakan Khamenei dan kroninya bukan sekadar kejahatan domestik, melainkan kejahatan besar terhadap umat manusia.


Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Smartwatch Copilot ATR 42-500 Catat Ribuan Langkah, Keluarga Yakin Farhan Masih Hidup
• 39 menit lalurctiplus.com
thumb
BPS Soroti Harga Daging Ayam hingga Minyakita Potensi Picu Inflasi saat Ramadhan
• 4 jam lalukatadata.co.id
thumb
Lahan Sawit di Kawasan Hutan Indonesia Mencapai 3,32 Juta Hektare
• 10 jam lalurepublika.co.id
thumb
Evakuasi Pesawat ATR 42-500: Berteman Badai di Puncak Bulusaraung
• 2 jam lalukompas.id
thumb
Prediksi Starting XI Timnas Indonesia Racikan John Herdman di Piala AFF 2026: Tetap Mengerikan Tanpa Pemain Abroad Eropa!
• 18 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.