Hati-Hati! Pasien Diabetes Rentan Terjebak Produk Herbal Palsu

republika.co.id
8 jam lalu
Cover Berita

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Indonesia tengah berada dalam bayang-bayang krisis diabetes yang kian nyata. Data terbaru dari International Diabetes Federation (IDF) 2024 menyuarakan alarm keras. Sebanyak 20,4 juta penduduk Indonesia kini menyandang status penderita diabetes, menempatkan negeri ini di posisi kelima dunia.

Dengan prevalensi mencapai 11,3 persen, realitas pahitnya adalah satu dari sembilan orang dewasa di sekitar kita tengah berjuang melawan penyakit ini. Namun, di tengah perjuangan mencari kesembuhan, muncul ancaman yang tidak kalah mematikan dibandingkan penyakitnya sendiri, yaitu menjamurnya produk herbal palsu yang memanfaatkan keputusasaan para pasien.

Baca Juga
  • Penderita Diabetes Mau Olahraga Saat Puasa? Ini Waktu Paling Aman Menurut Dokter
  • Pakar: Kulit Manggis Bisa Jadi Obat Alami untuk Diabetes dan Penyakit Degeneratif
  • Studi: Pengawet Makanan Dikaitkan dengan Risiko Diabetes dan Kanker

Menurut Direktur PT Hollis Media Bariklana, distributor produk herbal Srevot, penderita diabetes sering kali menjadi "sasaran empuk" bagi oknum tidak bertanggung jawab. "Di tengah krisis diabetes nasional, justru muncul ancaman baru berupa maraknya produk herbal palsu. Ini sangat berbahaya karena diabetesi adalah kelompok yang sangat rentan terhadap komplikasi kesehatan," kata Akhmad dalam keterangan tertulis yang diterima Republika pada Senin (20/1/2026).

Keputusan pasien mencari alternatif pengobatan yang lebih terjangkau justru sering kali menjebak mereka pada risiko kesehatan yang lebih fatal. Berbeda dengan produk palsu biasa yang mungkin hanya tidak memberikan efek apa pun, produk herbal diabetes palsu menyimpan risiko yang jauh lebih destruktif.

.rec-desc {padding: 7px !important;}

Dia mengatakan produk abal-abal tersebut sering kali mengandung bahan kimia berbahaya atau justru gula tersembunyi yang justru memperparah kadar glukosa pasien. "Lebih parah lagi, diabetesi yang sudah mengonsumsi obat medis bisa mengalami interaksi berbahaya seperti hipoglikemia," ujarnya.  Hipoglikemia atau penurunan gula darah yang drastis bisa berakibat fatal jika tidak ditangani segera. 

Ilustrasi diabetes. - (freepik)
 

 

Loading...
.img-follow{width: 22px !important;margin-right: 5px;margin-top: 1px;margin-left: 7px;margin-bottom:4px}
Ikuti Whatsapp Channel Republika
.img-follow {width: 36px !important;margin-right: 5px;margin-top: -10px;margin-left: -18px;margin-bottom: 4px;float: left;} .wa-channel{background: #03e677;color: #FFF !important;height: 35px;display: block;width: 59%;padding-left: 5px;border-radius: 3px;margin: 0 auto;padding-top: 9px;font-weight: bold;font-size: 1.2em;}
Advertisement

Artikel Asli

Berikan komentar Anda
Lanjut baca:

thumb
Kisah Aroma Menyengat Diplomat RI Bikin Pangeran Inggris Terdiam
• 22 jam lalucnbcindonesia.com
thumb
Komisi V DPR Sorot Keputusan ATC Soal Arah Pendaratan Pesawat ATR
• 1 jam laludetik.com
thumb
Terseret Kasus Dugaan Penipuan Akpol, Adly Fairuz Diperiksa Sebagai Saksi
• 1 jam laluinsertlive.com
thumb
Operasi SAR ATR 42-500: Barang Korban Ditemukan di Medan Terjal
• 13 jam lalutvrinews.com
thumb
Wall Street Libur, Investor Pantau Laporan Keuangan Perusahaan di Bursa AS
• 12 jam laluwartaekonomi.co.id
Berhasil disimpan.