Keju bukan hanya bisa membuat sebuah masakan terasa nikmat, tapi juga ternyata bermanfaat bagi kesehatan. Hal ini dibuktikan dalam sebuah penelitian baru yang diterbitkan dalam jurnal Neurology pada Desember 2025 lalu.
Sebuah penelitian ilmiah berjudul, "High and Low Fat Dairy Consumption and Long Term Risk of Dementia" yang dilakukan selama 25 tahun, meneliti hubungan antara kebiasaan makan keju tinggi lemak dengan penyakit demensia.
Mengutip Food and Wine, penelitian ini melibatkan 27.670 orang dewasa di Swedia, yang mana 3.208 orang didiagnosis menderita demensia. Para peneliti juga mencatat pola makan mereka secara keseluruhan dan membagi kelompok berdasarkan usia serta jenis kelamin.
Selain itu, kedua studi tersebut berfokus pada diagnosis demensia secara keseluruhan, bukan pada subtipe spesifik seperti penyakit Alzheimer atau demensia vaskular, yang mungkin memiliki penyebab mendasar yang berbeda.
Peneliti turut menganalisa catatan harian makanan yang dilaporkan para peserta. Para peserta diminta untuk mendokumentasikan semua makanan yang mereka konsumsi selama periode satu minggu dan mencakup pertanyaan tentang seberapa sering mereka mengonsumsi makanan tertentu, termasuk keju.
Berdasarkan catatan ini, peserta dibagi menjadi dua kelompok; mereka yang mengonsumsi setidaknya 50 gram keju tinggi lemak per hari (kira-kira dua potong keju cheddar), dan mereka yang mengonsumsi kurang dari 15 gram per hari.
Di akhir sesi penelitian, para peneliti menemukan bahwa kelompok yang konsumsi keju lebih tinggi dikaitkan dengan risiko demensia 13 persen lebih rendah.
Namun para peneliti memberi catatan bahwa hasil penelitian ini tidak sepenuhnya membuktikan bahwa keju bisa mencegah demensia, dan harus ditafsirkan secara hati-hati.
Para peneliti juga menekankan bahwa tidak semua keju menunjukkan hubungan yang sama. Dijelaskan bahwa keju tinggi lemak yang dimaksud dalam penelitian ini adalah yang mengandung 20 persen lemak; seperti cheddar, brie, dan gouda.
Kemudian, dalam hasil penelitian ini juga mengungkapkan, mengonsumsi setidaknya 20 gram krim tinggi lemak per hari memiliki risiko 16 persen lebih rendah terkena demensia dibandingkan dengan mereka yang sama sekali menghindari krim.
“Temuan ini menunjukkan bahwa dalam hal kesehatan otak, tidak semua produk susu sama,” kata Emily Sonestedt, PhD, dari Universitas Lund di Swedia dan salah satu penulis studi tersebut, dalam sebuah pernyataan.
“Meskipun mengonsumsi lebih banyak keju dan krim tinggi lemak dikaitkan dengan penurunan risiko demensia, produk susu lainnya dan alternatif rendah lemak tidak menunjukkan efek yang sama. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi hasil studi kami dan mengeksplorasi lebih lanjut apakah mengonsumsi produk susu tinggi lemak tertentu benar-benar memberikan perlindungan bagi otak,” pungkasnnya.



