Pemerintah Inggris dan Indonesia meluncurkan Economic Growth Partnership atau Kemitraan Pertumbuhan Ekonomi terbaru. Perjanjian strategis tersebut bertujuan untuk meningkatkan kerja sama perdagangan kedua negara.
Kemitraan tersebut ditandatangani pada Senin (19/1) oleh Menteri Koordinator Inggris untuk Bisnis dan Perdagangan, Peter Kyle, dan Menteri Koordinator Bidang Perekomian Indonesia, Airlangga Hartarto.
Duta Besar (Dubes) Inggris Dominic Jermey mengatakan perjanjian ini merupakan bagian dari kemitraan strategis antara Indonesia-Inggris yang lebih mendalam dan baru, yang akan diluncurkan oleh Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer pekan ini.
"Kami telah sepakat untuk meningkatkan kerja sama perdagangan kami di berbagai sektor prioritas, seperti energi bersih, ekonomi digital, infrastruktur, transportasi, pendidikan, dan kesehatan," kata Jermey dalam keterangan tertulis, Selasa (20/1).
Jermey mengatakan melalui kemitraan ini, kedua negara akan bekerja sama untuk mengatasi hambatan non-tarif, mendukung para pelaku ekspor, dan mendorong investasi dua arah yang lebih besar, untuk menciptakan peluang baru bagi dunia usaha dan memberikan manfaat bagi perekonomian kedua negara.
Hal itu, kata Jermey, menyusul terkait momentum yang sudah ada. Pada tahun lalu, Indonesia dan Inggris meneken kesepakatan di sektor maritim senilai £4 miliar yang dipimpin oleh perusahaan Inggris, Babcock.
"Jadi sekarang kita berupaya menciptakan peluang baru bagi bisnis dan memberikan manfaat bagi kedua ekonomi kita. Diplomasi, kolabrasi, dan prestasi," jelas Jermey.
Jermey menjelaskan Prabowo dan Starmer berkomitmen untuk meluncurkan Kemitraan Strategis yang mencakup empat pilar, yaitu pertahanan dan keamanan, pertumbuhan ekonomi yang menjadi prioritas bagi kedua pemimpin, masyarakat dan sosial, serta Iklim, energi, dan alam.
Dia menambahkan, Inggris memandang Indonesia sebagai mitra yang sangat penting. Pasalnya, Indonesia saat ini merupakan ekonomi terbesar ke-16 di dunia, dan Inggris adalah yang terbesar keenam. Namun, Indonesia hanya merupakan pasar ekspor terbesar ke-54 bagi Inggris.
"Itulah mengapa kami mengadakan acara bisnis tingkat tinggi yang dihadiri oleh Presiden, dan mengapa Presiden dan Perdana Menteri akan meluncurkan kemitraan pertumbuhan ekonomi antara kedua negara kita," ungkap Jermey.
Jermey menuturkan, selain dengan Keir Starmer, Prabowo juga akan menemui Raja Charles III dalam kunjungan kenegaraannya di Inggris, serta akan menghadiri pertemuan dengan para wakil rektor universitas-universitas terkemuka di Inggris yang tergabung dalam Russell Group, untuk membahas potensi pembukaan kampus Russell Group di Indonesia.
Prabowo, kata dia, juga akan bertemu dengan pelaku bisnis Inggris, berbagai organisasi, serta investor Indonesia yang melihat Inggris sebagai pasar potensial. Prabowo juga akan menghadiri acara konservasi yang membahas upaya mendukung pemulihan mata pencaharian dan kehidupan sosial masyarakat di Aceh, Sumatera, sekaligus mendukung inisiatif konservasi gajah.
"Presiden juga akan berdiskusi dengan lembaga filantropi mengenai pembiayaan jangka menengah dan panjang untuk inisiatif-inisiatif tersebut serta untuk taman nasional Indonesia yang indah dan kaya keanekaragaman hayati secara berkelanjutan," ungkap Jermey.





