EtIndonesia. Jack bekerja di sebuah perusahaan perdagangan internasional. Dia tidak puas dengan pekerjaannya dan dengan penuh kekesalan berkata kepada temannya : “Bosku sama sekali tidak menghargai aku. Suatu hari nanti aku akan menggebrak meja, lalu mengundurkan diri!”
Temannya balik bertanya : “Apakah kamu sudah benar-benar memahami seluruh bisnis perusahaan? Apakah kamu sudah menguasai seluk-beluk perdagangan internasional yang mereka jalankan?”
“Belum,” jawab Jack.
“Pepatah bilang, balas dendam orang bijak tidak perlu terburu-buru. Aku sarankan kamu benar-benar mempelajari semua teknik perdagangan perusahaan ini, dokumen-dokumen bisnisnya, cara operasional perusahaan, bahkan sampai hal-hal kecil seperti memperbaiki kerusakan ringan pada mesin fotokopi. Setelah semua itu kamu kuasai, barulah kamu keluar,” kata temannya.
Temannya melanjutkan: “Anggap saja perusahaan ini sebagai tempat belajar gratis. Setelah semua ilmu kamu dapatkan, lalu pergi. Bukankah itu sekaligus dapat ilmu dan melampiaskan kekesalan?”
Jack menerima saran itu. Sejak saat itu, dia diam-diam belajar dengan sungguh-sungguh. Seusai jam kerja, dia tetap tinggal di kantor untuk mempelajari dokumen-dokumen bisnis dan seluk-beluk pekerjaan.
Setahun kemudian, temannya bertanya: “Sekarang kamu sudah menguasai banyak hal. Sudah siap menggebrak meja dan berhenti kerja, kan?”
Jack dengan tersenyum, berkata: “Anehnya, dalam enam bulan terakhir bos mulai memandangku berbeda. Belakangan ini aku terus diberi tanggung jawab penting, naik jabatan, dan gaji pun bertambah. Sekarang aku justru jadi orang kepercayaan di perusahaan!”
“Itu sudah kuduga,” kata temannya sambil tertawa. “Dulu bos tidak menghargaimu karena kemampuanmu memang belum cukup, dan kamu juga tidak berusaha meningkatkan diri. Setelah kamu bekerja keras dan kemampuanmu terus bertambah, wajar jika bos akhirnya memandangmu dengan kagum.”
Renungan / Hikmah Cerita
Jangan sibuk menyalahkan atau mengeluhkan atasan, tetapi belajarlah bercermin dan mengevaluasi diri sendiri.
Jika kita tidak hanya menganggap pekerjaan sebagai sarana mencari gaji, melainkan sebagai sesuatu yang kita kerjakan dengan sepenuh jiwa—dengan inisiatif, kesungguhan, dan totalitas—maka besar kemungkinan kita akan meraih kesuksesan yang selama ini kita harapkan. (jhn/yn)



